Di industri kendaraan roda dua dan empat di Indonesia, pabrik produksi massal tipe perakitan memiliki keterkaitan erat antara perencanaan produksi dan perencanaan beban. Karena perencanaan produksi disusun berdasarkan jumlah, ada kebutuhan untuk memeriksa perencanaan beban juga berdasarkan jumlah per mesin. Secara umum, perencanaan diperlukan dalam satuan hari atau shift.
Penyusun rencana mempertimbangkan jumlah produksi per mesin, hari produksi untuk kapasitas berlebih, dan waktu lembur yang diperlukan. Untuk mendukung hal ini, penting untuk memverifikasi jumlah produksi, jumlah konsumsi, dan jumlah stok dengan membandingkannya dalam tabel PSI.
Penting untuk memverifikasi kemajuan rencana dengan membandingkannya dengan hasil aktual. Saat menyusun rencana untuk satu minggu, jumlah didasarkan pada perkiraan stok saat ini, dan jumlah stok berubah setiap kali hasil produksi dimasukkan. Pada saat penyusunan rencana berikutnya, perkiraan diatur ulang berdasarkan jumlah stok terbaru.
Dalam sistemisasi pekerjaan perencanaan di Indonesia, referensi sederhana yang sesuai dengan hasil produksi dalam satuan hari atau shift dianggap lebih mudah diterima di lantai produksi dibandingkan dengan manajemen jadwal per menit.
Blog ini memuat artikel yang memberikan gambaran sistem manufaktur yang sesuai untuk Indonesia, sebagai referensi bagi produsen di Indonesia yang berupaya mensistematisasi perencanaan produksi.
Yang dipelajari dari artikel ini
- Perencanaan produksi dan perencanaan beban saling terkait erat dan memerlukan verifikasi berbasis kuantitas.
- Penting untuk membandingkan jumlah produksi, jumlah konsumsi, dan jumlah persediaan menggunakan tabel PSI.
- Rencana dibandingkan dengan hasil aktual untuk memeriksa kemajuan dan direset berdasarkan perkiraan jumlah persediaan.
- Referensi sederhana per hari atau per shift lebih mudah diterima di lantai produksi.
- Artikel ini memberikan gambaran sistem manufaktur yang cocok untuk Indonesia.
Pembuatan Jadwal Produksi Optimal untuk Meminimalkan Jumlah Set-Up Pergantian Cetakan Mesin dan Mematuhi Tenggat Waktu
Di pabrik suku cadang otomotif Jepang di Indonesia, tantangan yang dihadapi adalah frekuensi pergantian cetakan yang tinggi akibat produksi berbagai jenis produk dan kepatuhan ketat terhadap tenggat waktu. Membuat rencana produksi yang optimal dengan mempertimbangkan batasan peralatan produksi dan fluktuasi pesanan sangat sulit dilakukan secara manual.
AI scheduler produksi Asprova menggunakan algoritma genetika untuk secara otomatis membuat jadwal produksi yang efisien bahkan di bawah kondisi batasan yang kompleks. Dengan ini, pengurangan jumlah set-up, peningkatan tingkat kepatuhan tenggat waktu, dan pemendekan waktu tunggu produksi dapat dicapai, mendukung peningkatan produktivitas dan pembangunan sistem pasokan yang stabil di industri manufaktur Jepang di Indonesia.
-
-
Mengoptimalkan Waktu Persiapan dan Tenggat Waktu dengan AI Scheduler Asprova
AI Scheduler Asprova mengoptimalkan waktu persiapan dan tenggat waktu di pabrik suku cadang otomotif Jepang di Indonesia. Menggunakan algoritma genetik…
続きを見る
Metode Pembuatan Jadwal Produksi Terbaru dengan AI di Indonesia
Pada opsi Solver dari penjadwal produksi Asprova, logika pencarian solusi optimal penjadwalan produksi menggunakan algoritma genetik pembelajaran mesin telah diimplementasikan. Dengan ini, dimungkinkan untuk menemukan nilai optimal dengan cepat yang memenuhi kondisi bertentangan yaitu meminimalkan jumlah pengaturan dan meminimalkan keterlambatan pengiriman.
Di Indonesia, penjadwal produksi yang sebelumnya sulit diimplementasikan kini dapat ditangani oleh perusahaan konsultan atau perusahaan penjualan yang tidak berspesialisasi dalam IT. Ini menunjukkan bahwa pergeseran paradigma dengan teknologi AI terbaru mengkomoditisasi penjadwal produksi.
Dengan inovasi teknologi ini, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi secara signifikan dan meningkatkan daya saing mereka.
-
-
Evolusi Penjadwalan AI dalam Industri Manufaktur di Indonesia
Penggunaan algoritma genetik dalam pembelajaran mesin memungkinkan optimasi jadwal produksi di industri manufaktur Indonesia. AI memicu pergeseran paradigma…
続きを見る
Perbedaan Antara Penumpukan Kapasitas Tak Terbatas dan Pengurangan Kapasitas Terbatas dengan Penjadwal Produksi
Di lantai produksi di Indonesia, rencana produksi dibuat berdasarkan pemikiran berbasis kuantitas tentang berapa banyak output yang dapat ditumpuk terhadap kapasitas per shift mesin atau lini, atau per hari. Ini terjadi karena selama bertahun-tahun, rencana produksi dibuat dengan menganggap sel Excel sebagai satu shift atau satu hari, sehingga pemikiran ini menjadi alami.
Di sisi lain, penjadwal produksi memiliki pemikiran berbasis waktu, di mana pekerjaan dialokasikan pada waktu yang tersedia dalam jam kerja seperti 8:00-17:00. Perbedaan antara keduanya adalah apakah objek dihasilkan per shift dan per hari, atau per unit perintah produksi.
Sistem manajemen produksi MRP merujuk pada BOM untuk menghitung kebutuhan dan menghasilkan objek per hari berdasarkan kuantitas, tetapi beban peralatan dihitung dengan penumpukan tak terbatas dari master lini (kapasitas peralatan) dan master lini item (beban standar) yang merupakan master terpisah yang independen. Ini dirancang dengan asumsi bahwa leveling beban dilakukan secara manual.
Beban standar per item per lini (waktu siklus) diatur, dan dihitung berapa menit beban yang diberikan pada lini sesuai dengan jumlah pesanan. Kemudian, dengan menumpuk pada hari yang diundur dengan waktu tunggu (hari), kemampuan lini per hari dapat dibandingkan untuk memeriksa hasilnya.
Di sisi lain, penjadwal produksi melakukan pengurangan kapasitas dengan asumsi bahwa beban tidak melebihi 100% untuk mengetahui apakah kelebihan kapasitas lini yang ditemukan sebagai hasil penumpukan per hari dapat dipenuhi jika dipercepat. Rencana produksi dirancang dengan pemikiran bahwa itu tidak terpisahkan dari rencana beban.
-
-
Perbedaan Kuantitas dan Waktu dalam Jadwal Produksi di Indonesia
Artikel ini membahas perbedaan antara penjadwalan produksi berbasis kuantitas dan waktu di Indonesia, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya…
続きを見る
Perkembangan dari MRP (Perencanaan Kebutuhan Material/Perencanaan Sumber Daya Manufaktur) ke APS (Perencanaan & Penjadwalan Lanjutan)
Dari pesanan yang diterima dan perkiraan, dikurangi dengan stok produk, dan mempertimbangkan stok minimum, dibuatlah Rencana Produksi Utama (MPS). MPS seharusnya dibuat dengan kesepakatan antara departemen penjualan yang menekankan jadwal pengiriman dan perkiraan dari sudut pandang layanan pelanggan, dan departemen pengendalian produksi (PPIC) yang ingin mempertimbangkan kondisi di lantai produksi.
Di Indonesia, MPS dibuat secara mekanis dari perkiraan dan jadwal pengiriman yang diterima oleh departemen pengendalian produksi dari departemen penjualan, dan departemen penjualan jarang terlibat dalam tahap pembuatan MPS. Ketika ada kemungkinan terjadi keterlambatan pengiriman, pemandangan di mana lantai produksi harus segera menindaklanjuti adalah hal yang biasa.
Tujuan MRP adalah untuk membuat rencana produksi gros untuk memproduksi kebutuhan bersih selama produksi normal. Rencana produksi yang dibuat dengan menggeser waktu tunggu harian atau per shift dalam MRP, dapat terealisasi berkat kemampuan penyesuaian di lantai produksi dan persiapan produksi serta upaya manusia lainnya.
Ketika ini mencapai batasnya, rencana produksi dan rencana kapasitas menjadi tidak seimbang, dan perintah produksi yang tidak efisien dikeluarkan dari MRP. Akibatnya, meskipun kapasitas produksi cukup, lembur yang tidak perlu atau kerja di hari libur terjadi, dan stok antara tertahan.
Untuk mengatasi masalah ini, dipertimbangkan pengenalan Perencanaan & Penjadwalan Lanjutan (APS) yang mempertimbangkan perencanaan kapasitas terbatas tanpa menetapkan kerangka waktu.
-
-
Evolusi dan Tantangan Sistem Manajemen Produksi MRP II dan APS
MRP II adalah inti dari sistem manajemen produksi yang didasarkan pada MRP I. APS mengotomatisasi proses dari MPS hingga pesanan produksi dan pembelian.
続きを見る
Logika Penjadwalan Asprova Scheduler Produksi
Dalam Asprova Scheduler Produksi, terdapat perintah pengumpulan pesanan yang menghasilkan daftar pesanan dari tabel pesanan, dan perintah pengumpulan pekerjaan yang menghasilkan daftar pekerjaan dari tabel pekerjaan.
Pada fase eksekusi perintah ekspansi pesanan, fungsi pengisian otomatis digunakan untuk merujuk ke BOM manufaktur dan menghasilkan pesanan pengisian untuk menutupi kekurangan instruksi input pekerjaan pesanan. Dengan demikian, pesanan terdaftar dan pesanan pengisian disimpan dalam daftar pesanan, dan instruksi input pekerjaan serta instruksi output pekerjaan dihasilkan.
Pada penugasan/pengikatan pesanan, instruksi penggunaan pekerjaan dihasilkan dengan mempertimbangkan aturan dispatching dan properti evaluasi sumber daya. Setelah penugasan sementara ke sumber daya kandidat, penugasan ulang dilakukan ke sumber daya dengan evaluasi tertinggi berdasarkan evaluasi sumber daya.
Pengikatan antar pesanan dilakukan dua kali, yaitu saat ekspansi pesanan dan saat penugasan/pengikatan pesanan. Hal ini karena mungkin perlu untuk mengikat ulang dengan FIFO berdasarkan hasil penugasan seperti stok MIN.
-
-
Metode Optimalisasi Penjadwalan Produksi dengan Asprova
Asprova mengoptimalkan penjadwalan produksi dengan merujuk BOM dan menghasilkan instruksi kerja. Fungsi pengisian otomatis dan evaluasi sumber daya…
続きを見る
Alasan Mengapa Pengoperasian Sistem MRP (Material Requirements Planning) Sulit di Indonesia
Material Requirements Planning (MRP) melakukan perhitungan kebutuhan berdasarkan Master Production Schedule (MPS) dan menghitung kebutuhan bersih dengan mengurangi persediaan. Pada saat yang sama, dengan menggeser waktu ke belakang sesuai lead time, sistem menghitung waktu penerbitan pesanan pembelian dan pesanan produksi. Namun, karena pengaruh penggabungan lot produksi dan penyesuaian lead time, sulit untuk melihat pesanan produksi yang dihasilkan terkait dengan kebutuhan (MPS) mana.
Ukuran lot produksi dan lead time produksi berbeda untuk setiap item, sehingga mengaitkan pesanan produksi hasil perhitungan kebutuhan MRP dengan pesanan penjualan menjadi rumit. Departemen manajemen produksi sering kali mengeluarkan instruksi di luar rencana untuk setiap proses, dan instruksi di luar rencana memerlukan usaha ekstra. Lantai produksi juga merasa terbebani dengan terikat pada instruksi meskipun ada target produksi, dan sebagai hasil dari kesepakatan antara departemen manajemen produksi dan lantai produksi, sering kali beroperasi dengan hasil produksi di luar rencana (tanpa instruksi).
Dasar dari MRP adalah perhitungan kebutuhan bersih yang akurat, dan perhitungan kebutuhan lebih diprioritaskan daripada penyesuaian lead time. Kekurangan kebutuhan diatasi dengan mengaitkan pesanan yang terlambat dengan mengabaikan pelanggaran batas waktu, sehingga tidak menghasilkan pesanan berlebih. Namun, hal ini membuat keterkaitan antar pesanan menjadi sulit terlihat.
Informasi prakiraan dan pesanan penjualan yang sudah pasti memiliki periode yang tumpang tindih, sehingga perlu dipertimbangkan agar tidak terjadi pendaftaran ganda dalam sistem. Metode ideal untuk menggantikan prakiraan dengan kepastian adalah dengan "menambahkan hanya pesanan penjualan baru yang sudah pasti dengan menggunakan nomor pesanan sebagai kunci dan mengganti prakiraan." Dengan cara ini, pendaftaran ganda pesanan penjualan yang sudah pasti dan prakiraan dapat dicegah secara bersamaan.
Instruksi produksi yang sudah diterbitkan (sisa produksi) dari fungsi perencanaan kurang jelas dalam pengelolaan data dibandingkan dengan sisa pesanan penjualan, sisa pesanan pembelian, dan faktur yang sudah diterbitkan dari fungsi realisasi. Setiap kali informasi prakiraan digantikan oleh pesanan penjualan yang sudah pasti, diperlukan aturan seperti hanya mengonfirmasi instruksi produksi dari pesanan penjualan yang sudah pasti agar tidak mempengaruhi instruksi produksi yang sudah diterbitkan.
Ketika memproduksi untuk pengiriman selama 7 hari, instruksi produksi diterbitkan dengan menggabungkan produk yang merupakan item pesanan penjualan untuk pengiriman selama 7 hari menjadi satu lot produksi. Item pesanan produksi yang menjadi target penggabungan adalah produk yang merupakan output dari proses akhir. Demikian pula, ketika menerbitkan instruksi pembelian dengan menggabungkan kebutuhan material selama 10 hari menjadi satu lot pembelian, item output dari pesanan pembelian yang menjadi target penggabungan adalah material.
-
-
Tantangan dan Solusi dalam Pengoperasian Sistem MRP di Indonesia
Pengoperasian sistem MRP di Indonesia sulit karena ukuran lot produksi dan penundaan lead time yang berbeda-beda. Penjadwal produksi membantu menyesuaikan…
続きを見る
Mengurangi Risiko Kehilangan Peluang dan Kelebihan Stok dengan Penjadwal Produksi di Indonesia
Masalah yang dihadapi pabrik termasuk keterlambatan pengiriman dan kelebihan stok. Ini disebabkan oleh produktivitas proses bottleneck yang dapat dikendalikan dengan meninjau kembali rencana produksi. Dengan menjaga efisiensi produksi proses bottleneck pada 100%, kapasitas produksi pabrik dapat dimaksimalkan.
Stok memiliki dua arti: stok pengaman dan buffer untuk mencegah berhentinya proses bottleneck. Namun, ketakutan akan kehilangan peluang dapat menyebabkan kelebihan stok, sementara ketakutan akan biaya stok dapat menyebabkan kekurangan stok.
Efek dari penerapan penjadwal produksi adalah perbaikan arus kas melalui pengurangan waktu tunggu dan pengurangan stok, serta visualisasi dari penerimaan pesanan hingga produksi dan pembelian. Namun, informasi master seperti struktur komponen dan waktu siklus serta jumlah stok saat ini harus akurat.
Pada dasarnya, efek maksimal diperoleh ketika satu orang bertanggung jawab membuat jadwal produksi untuk semua proses secara menyeluruh. Meskipun penjadwal produksi telah diterapkan, membuat rencana dengan cara estafet oleh beberapa orang adalah kontraproduktif.
-
-
Efek dan Prosedur Penerapan Penjadwal Produksi di Indonesia
Penerapan penjadwal produksi dapat memaksimalkan efisiensi pada proses bottleneck dan mengurangi lead time. Asprova membantu dengan menghasilkan jadwal…
続きを見る
Manajemen Keuntungan Multidimensi dan Manajemen Produksi Tanpa Keterlambatan yang Dicari oleh Industri Manufaktur Jepang di Indonesia
Di industri manufaktur Indonesia, sering terjadi produksi berdasarkan kebijakan sendiri oleh departemen produksi yang mengabaikan jadwal departemen manajemen produksi, karena pemisahan antara departemen penjualan dan departemen pengiriman yang menyebabkan ketidakmampuan dalam mengelola sisa pesanan. Akar masalah ini adalah kurangnya manajemen persediaan produk yang tepat.
Departemen penjualan seharusnya bekerja sama dengan departemen manajemen produksi untuk membuat rencana produksi standar, memberikan instruksi kepada departemen pengiriman, dan mengelola status pengiriman terhadap pesanan yang diterima. Namun, ketika persediaan produk tidak mencukupi saat pengiriman, tanggung jawab terhadap pelanggan berpindah ke departemen pengiriman, dan keterkaitan antara pesanan yang diterima dan jadwal pengiriman hilang. Akibatnya, departemen produksi melakukan produksi berdasarkan penilaian mereka sendiri, dan jadwal departemen manajemen produksi menjadi tidak berarti.
Untuk memperbaiki situasi ini, penting untuk memperkuat kolaborasi antara departemen penjualan dan departemen pengiriman serta melakukan manajemen persediaan yang tepat.
-
-
Digitalisasi Industri Manufaktur Indonesia dan Analisis Dampak Pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 pertama kali terdeteksi di Indonesia pada Maret 2020, diikuti dengan pembatasan sosial besar-besaran pada April. Survei JETRO menunjukkan…
続きを見る
Alasan Sistematisasi Manajemen Produksi Diperlukan di Indonesia
Industri manufaktur di Indonesia mengalami diversifikasi preferensi konsumen akibat peningkatan pendapatan nasional seiring pertumbuhan ekonomi dan perkembangan alat informasi yang berpusat pada media sosial. Akibatnya, umur produk menjadi lebih pendek dan peramalan permintaan menjadi lebih sulit. Jumlah pesanan menjadi lebih kecil, perubahan pesanan sering terjadi, dan efeknya menyebar ke seluruh rantai pasokan. Hal ini membuat pengendalian persediaan yang tepat menjadi sulit dan cenderung meningkatkan biaya persediaan.
Dalam rantai pasokan, persediaan yang terlalu sedikit meningkatkan risiko pesanan tertunda, sementara persediaan yang terlalu banyak menimbulkan biaya bunga persediaan. Untuk menyelesaikan masalah ini, perlu dibangun sistem pembuatan rencana produksi yang mempertimbangkan kapasitas pasokan peralatan produksi internal. Dengan mempertimbangkan kapasitas pasokan, hubungan antar proses menjadi lebih lancar, waktu tunggu produksi berkurang, dan persediaan dalam proses berkurang. Hal ini menurunkan biaya bunga persediaan, meningkatkan periode likuiditas, dan berkontribusi pada keuntungan perusahaan.
-
-
Contoh Optimasi Rantai Pasokan di Industri Manufaktur Indonesia
Di Indonesia, umur produk yang lebih pendek membuat peramalan permintaan menjadi sulit. Memanfaatkan Asprova dan HanaFirst dapat meningkatkan efisiensi…
続きを見る
Langkah-langkah Sistematisasi Manajemen Produksi untuk Mengubah Upaya Lantai Produksi di Indonesia Menjadi Daya Saing Perusahaan
Dalam industri manufaktur, tren produksi dengan berbagai jenis produk dalam jumlah kecil meningkatkan beban pada proses produksi. Untuk mengatasi hal ini dengan peralatan yang terbatas, perlu untuk memecah lini produksi menjadi lebih detail, meningkatkan penggunaan lini bersama, dan meningkatkan tingkat operasi keseluruhan. Namun, dalam produksi dengan lot kecil, waktu tunggu setiap proses menjadi lebih pendek, dan penggantian serta pembersihan cetakan menjadi lebih sering, menyebabkan variasi dalam waktu tunggu produksi.
Variasi ini membuat sulit untuk memberikan jawaban tenggat waktu, dan di lantai produksi, hubungan dengan pesanan menjadi tidak terlihat, sehingga sulit untuk menetapkan prioritas. Akibatnya, tingkat kepatuhan tenggat waktu memburuk, dan untuk menghindari penghentian lini karena kekurangan material, terjadi masalah kelebihan persediaan material dan barang dalam proses.
Di pabrik Indonesia, kenaikan biaya tenaga kerja adalah salah satu tantangan. Untuk mengatasi hal ini, peningkatan efisiensi (pengurangan jam kerja) menjadi penting. Dengan mempercepat aliran rantai pasokan internal dari pembelian hingga produksi dan pengiriman, nilai tambah dari waktu dan sumber daya internal meningkat.
Namun, hanya berfokus pada pengurangan waktu tidaklah cukup. Jika efisiensi proses sebelumnya meningkat tetapi proses selanjutnya tidak dapat menyesuaikan, persediaan barang dalam proses hanya akan meningkat, dan optimalisasi satu departemen tidak akan mengarah pada optimalisasi keseluruhan. Untuk meningkatkan nilai tambah, diperlukan optimalisasi yang mempertimbangkan keseimbangan keseluruhan.
-
-
Tantangan Industri Manufaktur di Indonesia dan Solusi Sistematis
Industri manufaktur di Indonesia menghadapi tantangan dalam produksi berbagai jenis produk dalam jumlah kecil. Sistematisasi perencanaan produksi dan…
続きを見る
Poin Penting dalam Penjualan dan Penerapan Penjadwal Produksi di Indonesia
Di Indonesia, otomatisasi pembuatan rencana produksi di industri manufaktur dianggap sulit, namun penjadwal produksi Asprova digunakan dan menunjukkan efektivitasnya di berbagai industri seperti suku cadang otomotif, barang konsumsi, dan produk cairan kimia. Namun, karena pengetahuan tentang penjadwal produksi masih rendah, sulit untuk membuat orang memahami nilai dari 'otomatisasi pembuatan rencana produksi'. Oleh karena itu, menjelaskan dari sudut pandang 'otomatisasi perencanaan beban pekerja' lebih mudah diterima oleh manajer produksi Indonesia.
Sistem manajemen produksi melakukan analisis situasi saat ini berdasarkan data hasil masa lalu, tetapi penjadwal produksi adalah sistem yang mengulangi penjadwalan ulang dengan menggunakan banyak pengaturan parameter untuk menghasilkan hasil yang diinginkan. Ketika pelanggan bertanya, "Bisakah ini dilakukan?", jika tidak dapat didemonstrasikan di tempat, itu sama dengan "tidak bisa".
Faktor-faktor yang mempengaruhi rencana produksi sangat kompleks, dan penjadwal produksi juga dilengkapi dengan banyak properti seperti parameter rencana, master, dan pesanan. Meskipun ini diatur dengan benar, tidak selalu menghasilkan hasil jadwal yang dioptimalkan, melainkan memberikan kecenderungan tertentu.
Jika optimalisasi rencana produksi diekspresikan, itu adalah "rencana produksi yang tidak melebihi kapasitas, tanpa keterlambatan pengiriman, dan meratakan tingkat operasi", tetapi di negara seperti Indonesia yang rentan terhadap fluktuasi permintaan, fluktuasi nilai tukar, dan gangguan jaringan logistik, definisi optimalisasi berubah sesuai dengan lingkungan pasar. Untuk mendekati optimal bagi lantai produksi, simulasi dilakukan dengan penjadwal produksi.
Di Indonesia, praktik bisnis yang bersifat humanistik masih kuat, dan di industri manufaktur ada kecenderungan untuk lebih fokus pada manajemen orang daripada tenggat waktu atau biaya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh sejarah demokrasi parlementer yang masih baru setelah runtuhnya rezim Suharto pada tahun 1998, melalui pemilihan demokratis dan amandemen konstitusi yang menetapkan kontrol sipil dan pemisahan kekuasaan.
Selain itu, orang asing dilarang menduduki posisi di bidang sumber daya manusia, dan di bawah Pancasila, prinsip lima dasar negara, yang menekankan keberagaman etnis, hanya orang Indonesia yang dapat mengevaluasi orang Indonesia, yang mencerminkan filosofi tersebut.
-
-
Tantangan Asprova Production Scheduler di Indonesia
Asprova menghadapi tantangan pengenalan rendah di Indonesia, namun menawarkan kemampuan perhitungan beban harian dan pembuatan jadwal yang tidak dapat…
続きを見る
Masalah Pengoperasian Sistem Manajemen Produksi di Indonesia: Penerbitan Perintah Produksi dan Input Aktual
Perintah produksi adalah elemen penting untuk mewujudkan rencana produksi berdasarkan informasi pesanan di lantai produksi. Memasukkan data aktual terhadap perintah produksi adalah tantangan terbesar dalam pengoperasian sistem manajemen produksi dan menjadi tolok ukur utama keberhasilan atau kegagalan implementasi sistem.
Untuk menerbitkan perintah produksi dan memasukkan data aktual sambil menjaga keterkaitan yang jelas antara informasi pesanan dan rencana produksi, diperlukan pemanfaatan fungsi MRP dari sistem manajemen produksi. Penerbitan perintah produksi menggunakan Excel cenderung menyebabkan ketidaksesuaian dengan lantai produksi dan membuat keterkaitan dengan informasi pesanan menjadi tidak jelas.
-
-
Pentingnya Instruksi Produksi dan Tantangan Sistem Manajemen Produksi
Instruksi produksi penting untuk memecah rencana produksi berdasarkan informasi pesanan ke lantai produksi. Memasukkan hasil produksi adalah tantangan…
続きを見る
Perluasan Fungsi Asprova Melalui Antarmuka COM
Asprova menyediakan Hook untuk menjalankan plugin pada saat terjadinya suatu event. Kunci plugin yang merupakan titik akses untuk event ini setara dengan hook do_action atau apply_filters di WordPress. Dengan ini, fungsi Asprova dapat diperluas secara fleksibel.
Hubungan antara middleware atau komponen hingga akses DB melalui ADO mirip dengan proses pengiriman barang dari Pengirim (Shipper) ke Penerima (Consignee) melalui transportasi laut.
Untuk mengakses RDB atau Excel, Texfile (Consignee) dari program aplikasi pengembangan (Shipper), diperlukan prosedur melalui penyedia data OLE DB yang bertindak sebagai perantara (Forwarder). Namun, karena berinteraksi langsung dengan OLE DB cukup rumit, maka permintaan dilakukan melalui ADO (penyedia jasa kargo).
Dengan memanfaatkan antarmuka COM seperti ini, fungsi Asprova dapat diperluas secara efisien dan memungkinkan integrasi dengan berbagai sumber data.
-
-
Detail Antarmuka COM dan Ekstensi Plugin Asprova
Asprova dapat memperluas fungsinya melalui antarmuka COM dan plugin. File DLL harus ditempatkan di folder yang sama dengan EXE Asprova.
続きを見る
Dampak Kinerja Penjadwal Produksi terhadap Status Pekerjaan dan Pesanan
Dalam penjadwal produksi Asprova, pekerjaan memiliki tingkat tetap waktu dan tingkat tetap kuantitas. Ketika pekerjaan dipindahkan secara manual, tingkat tetap waktu menjadi 10, dan penjadwalan ulang akan menarik pekerjaan sebelumnya dan sesudahnya. Selain itu, ketika kuantitas kinerja dimasukkan ke dalam pekerjaan, tingkat tetap waktu menjadi 40, dan penjadwalan ulang akan menimpa kuantitas rencana pekerjaan tahap selanjutnya dengan kuantitas kinerja.
Dengan demikian, kemajuan pekerjaan dapat tercermin secara real-time, memungkinkan manajemen produksi yang efisien.
Sebagai contoh konkret, ada kasus di mana efisiensi produksi keseluruhan meningkat setelah pekerja di jalur produksi tertentu menyesuaikan pekerjaan secara manual.
Dengan memanfaatkan Asprova, penyesuaian rencana produksi yang fleksibel menjadi mungkin.
-
-
Penjelasan Detail Status Kerja dan Manajemen Pesanan di Asprova
Artikel ini menjelaskan detail status kerja dan manajemen pesanan di Asprova, termasuk bagaimana status kerja dan pesanan diubah dan dikelola.
続きを見る
Cara Mencerminkan Pembatasan Seperti Cetakan dan Pekerja dalam Jadwal Produksi Peralatan
Investasi peralatan tidak dapat dilakukan dengan segera, tetapi penempatan ulang pekerja atau perekrutan baru dapat dilakukan dengan biaya rendah dan fleksibel. Dengan demikian, meningkatkan tingkat operasi sumber daya utama melalui perencanaan kapasitas pekerja sangat penting dalam manajemen pabrik.
Jika waktu penggantian cetakan diatur sebagai waktu persiapan awal sumber daya utama, itu menjadi pengaturan internal, dan jika waktu persiapan awal sumber daya utama diatur menjadi 120 menit dan sumber daya tambahan diatur menjadi 0, mesin akan berhenti selama 120 menit waktu pengaturan internal.
Di sisi lain, jika waktu penggantian cetakan diatur sebagai waktu persiapan awal sumber daya tambahan, itu menjadi pengaturan eksternal, dan jika waktu persiapan awal sumber daya utama dibiarkan kosong dan sumber daya tambahan diatur menjadi 120 menit, mesin akan terus beroperasi selama 120 menit waktu pengaturan eksternal.
-
-
Optimasi Rencana Produksi Berdasarkan Kondisi Pembatas Cetakan dan Pekerja
Optimasi rencana produksi dipengaruhi oleh jumlah cetakan, waktu pengaturan ulang, dan pembatasan sumber daya. Kondisi pembatas dapat diterapkan pada…
続きを見る
Perbedaan Rencana Produksi untuk Sistem Perakitan dan Proses dalam Penjadwalan Produksi
Dalam proses manufaktur, karena menggunakan jalur terpadu, pekerjaan pada proses saat ini dan proses berikutnya dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, tidak ada waktu kosong yang terjadi, dan pekerjaan dari pesanan lain tidak dapat menyela. Dengan mengaktifkan 'Aktifkan Overlap MAX' dalam pengaturan rencana dan mengatur 'Overlap MAX' pada BOM manufaktur ke 0, hal ini dapat dicapai.
Selain itu, dalam proses manufaktur, sering kali digunakan tangki. Ada batasan di mana Anda tidak ingin menugaskan pesanan lain ke tangki saat pekerjaan persiapan dalam tangki selesai dan menunggu untuk mengalir ke proses berikutnya. Untuk ini, ada metode dengan mengaktifkan 'Kunci Sumber Daya' dalam pengaturan rencana dan mengatur 'Kunci Sumber Daya' ke PE dalam tabel sumber daya.
Dengan demikian, dalam sistem proses terdapat batasan khusus, dan pengaturan rencana sangat penting.
-
-
Efisiensi Proses Produksi dan Manajemen Kendala dengan Asprova
Artikel ini membahas efisiensi proses produksi dan manajemen kendala menggunakan Asprova. Fokusnya adalah pada standarisasi proses perakitan dan penggunaan…
続きを見る
Rencana Produksi dengan Mempertimbangkan Kendala Stok Bahan Baku yang Dibuat oleh Penjadwal Produksi
Dengan menggunakan penjadwal produksi Asprova, Anda dapat membuat rencana produksi yang memprioritaskan pesanan dengan stok bahan baku yang tersedia. Secara spesifik, saat penugasan mundur, "dari pesanan pengisian bahan baku yang dihasilkan dari pesanan penjualan, pesanan pembelian atau pesanan yang belum terpenuhi selain dari stok inventaris" akan ditugaskan terlebih dahulu. Dengan cara ini, pesanan yang terkait dengan stok inventaris akan secara alami ditugaskan terakhir, dan rencana produksi akan dibuat dengan memprioritaskan pesanan yang memiliki stok bahan baku.
Metode ini memungkinkan pengelolaan stok yang lebih efisien dan menghindari produksi yang tidak perlu.
-
-
Metode Optimalisasi Perencanaan Produksi di Industri Manufaktur Indonesia
Metode alokasi forward dan backward dalam perencanaan produksi memiliki kelebihan masing-masing. Asprova dapat membantu memprioritaskan pesanan dengan stok…
続きを見る
Perhitungan Biaya Standar dengan Asprova Scheduler
Dalam tabel item Asprova, harga satuan bahan baku, tarif upah, dan tarif alokasi ditetapkan sebagai rincian item biaya. Namun, Asprova sendiri tidak memiliki fungsi untuk menghitung otomatis tarif upah dan tarif alokasi dari anggaran biaya tetap. Oleh karena itu, perlu menetapkan hasil perhitungan eksternal menggunakan Excel ke dalam tabel item.
Dengan metode ini, perhitungan biaya standar dapat dilakukan secara efisien.
-
-
Metode Perhitungan Biaya Standar dan Penetapan Anggaran dengan Asprova
Asprova memungkinkan perhitungan biaya standar dan penetapan anggaran berdasarkan pesanan, master, dan kalender. Ini mendukung perhitungan biaya bahan…
続きを見る
Pertanyaan yang sering diajukan | Penjadwal Produksi dan APS
Menyusun poin-poin yang sering ditanyakan di Asprova Hub sesuai dengan pengetahuan dalam teks ini.
Apa perbedaan antara MRP dan APS (Penjadwal Produksi)?
MRP adalah kerangka perencanaan yang mengembangkan kebutuhan komponen dan sumber daya dari permintaan. APS mengalokasikan pekerjaan pada sumbu waktu dengan mempertimbangkan peralatan, pengaturan, dan batasan, serta menangani penjadwalan dan dispatching dengan beban terbatas.
Bagaimana cara membedakan penggunaan penumpukan kapasitas tak terbatas dan penjadwalan kapasitas terbatas?
Penumpukan adalah visualisasi beban, sedangkan penjadwalan adalah perataan dalam kapasitas. Untuk memenuhi tenggat waktu, pengaturan, dan sumber daya alternatif, diperlukan penyesuaian sisi beban terbatas dengan menggabungkan aturan dan simulasi.
Apa yang harus diperhatikan pertama kali saat implementasi di Indonesia?
Menghubungkan rencana dan realisasi, penerbitan instruksi produksi dan input realisasi, serta cara memasukkan batasan seperti cetakan dan pekerja. Dalam penjualan dan implementasi, terlebih dahulu menyepakati bottleneck di lantai produksi dan indikator evaluasi (fungsi tujuan).