Di Indonesia, pengenalan terhadap production scheduler masih rendah, namun sistem ini mampu menangani perhitungan beban harian untuk sumber daya sekunder seperti cetakan dan tenaga kerja, serta pembuatan jadwal produksi untuk sumber daya utama seperti mesin dengan mempertimbangkan batasan-batasan tersebut. Ini adalah bagian inti dari manajemen produksi yang bahkan tidak dapat ditangani oleh paket ERP yang mahal.
-
-
Penjadwal Produksi di Indonesia
Perencanaan produksi dan perencanaan beban saling terkait erat dan memerlukan verifikasi berbasis kuantitas. Penting untuk membandingkan jumlah produksi,…
続きを見る
Yang dipelajari dari artikel ini
- Asprova memiliki tingkat pengenalan yang rendah di Indonesia, sehingga presentasi dan demo sering dimulai dari posisi minus.
- Production scheduler dapat melakukan perhitungan beban harian dan pembuatan jadwal yang tidak dapat ditangani oleh paket ERP.
- Kemampuan komunikasi orang Jepang penting dalam penjualan di Indonesia, dan teknisi membutuhkan kemampuan penjualan.
- Dalam demo production scheduler, penting untuk menjelaskan bahwa tidak ada fungsi manajemen inventaris atau penerbitan INVOICE.
- Production scheduler memungkinkan peningkatan throughput saat ekonomi baik dan menghindari produksi berlebih saat ekonomi buruk.
Prasejarah Penjualan Production Scheduler di Indonesia
Saya melakukan penjualan teknis untuk Asprova production scheduler di Indonesia. Meskipun aplikasi ini ditujukan untuk industri manufaktur, di Indonesia masih kurang dikenal dan sulit membayangkan cost-effectiveness-nya, sehingga presentasi dan demo sering kali dimulai dari posisi minus.
Sering kali hal ini dikatakan, dan pembicaraan penjualan cenderung menjadi rendah diri. Namun, production scheduler memiliki dua kemampuan yang tidak dapat dilakukan oleh sistem paket manajemen produksi yang mahal.
- Melakukan perhitungan beban dari tingkat bulanan hingga harian untuk sumber daya produksi seperti tenaga kerja, mesin, cetakan, dan troli berdasarkan Forecast
- Membuat jadwal produksi harian dengan mempertimbangkan batasan dari poin 1 berdasarkan pesanan yang sudah pasti.
Kedua hal ini adalah bagian inti dari pekerjaan manajemen produksi di industri manufaktur, dan sebenarnya dapat diimplementasikan dengan biaya yang jauh lebih rendah daripada paket manajemen produksi, sehingga sangat populer. Namun, saya percaya bahwa keberhasilan implementasi paket manajemen produksi bergantung pada akurasi master dan inventaris, dan jika informasi ini tidak benar, implementasi production scheduler juga akan sulit.
Di Tiongkok ada pepatah 'Memukul ayam untuk menegur anjing', namun dalam kasus production scheduler, penjualan dilakukan dengan sedikit sindiran, atau bisa dikatakan penjualan yang menarik.
Signifikansi Keberadaan Insinyur Jepang (SE) di Indonesia
Ketika melakukan penjualan sistem di pabrik di Indonesia, sering kali ada penanggung jawab Jepang dan staf Indonesia yang hadir. Umumnya, penjelasan diberikan dalam bahasa Indonesia kepada staf Indonesia, sambil menyisipkan bahasa Jepang pada poin-poin penting untuk menarik perhatian penanggung jawab Jepang. Memasukkan pertanyaan yang sering diajukan oleh staf Indonesia ke dalam demo adalah penting agar dapat segera merespons ketika pertanyaan muncul.
Di sini, kebutuhan akan SE Jepang di Indonesia dipertanyakan. Dalam penjualan, orang Jepang sangat diperlukan, dan ketika berhadapan dengan perusahaan Jepang, penjualan kepada penanggung jawab Jepang yang memiliki wewenang keputusan sulit dilakukan oleh orang non-Jepang. Dalam masyarakat desa Jepang di Indonesia, kemampuan komunikasi orang Jepang mutlak diperlukan.
Bagaimana dengan SE? Ada banyak orang Indonesia yang memiliki kemampuan teknis tinggi, dan sebenarnya lebih mudah menemukan SE Indonesia yang berbakat daripada SE Jepang yang unggul. SE Jepang di Indonesia membutuhkan kemampuan penjualan.
Jika hanya sebagai teknisi, orang Indonesia lebih unggul dan biayanya lebih rendah, sehingga menurut pandangan saya, SE Jepang tidak diperlukan. Untuk mendapatkan pesanan, penjualan Jepang melakukan kegiatan pemasaran dan membawa teknisi Indonesia untuk demo, sehingga dapat memperoleh kepercayaan dari pelanggan. Penjualan juga memerlukan sedikit pengetahuan teknis, tetapi lebih efisien untuk fokus pada pemasaran daftar atau golf perjamuan daripada menghabiskan waktu belajar teknis.
Dengan mempertimbangkan situasi ini, jika harus menyebutkan signifikansi keberadaan SE Jepang di Indonesia, itu adalah memberikan rasa aman kepada pelanggan bahwa 'Ada orang Jepang yang ahli dalam teknologi, jadi jika ada masalah, bisa bertanya dalam bahasa Jepang'. Untuk menekankan rasa aman ini, mungkin efektif jika orang Jepang yang melakukan demo.
Saya melakukan demo kepada staf Indonesia dalam bahasa Indonesia, tetapi meskipun demo dianggap baik, sering kali ditanyakan 'Apakah tidak ada teknisi Indonesia?'. Orang Indonesia ingin bertanya dalam bahasa Indonesia, dan orang Jepang dalam bahasa Jepang. Meskipun bahasa Inggris digunakan, dan Indonesia lebih global daripada Jepang, tetap saja 'bahasa ibu tidak bisa dilupakan'.
Kesulitan Memahami Production Scheduler yang Kurang Dikenal di Indonesia
Dalam sistem manajemen produksi, alur pemrosesan dapat diprediksi, dan pelanggan memahami fungsi dan batasan sistem dengan baik. Oleh karena itu, tantangan utama adalah menyampaikan alur kerja setelah implementasi dan informasi yang diperoleh serta konten yang dapat dianalisis. Meskipun ada pertanyaan yang tidak terduga, dapat dijelaskan bahwa meskipun tidak dapat ditangani oleh paket standar, dapat diselesaikan dengan kustomisasi atau penambahan subsistem, sehingga demo jarang menjadi kacau.
Namun, dalam demo production scheduler yang kurang dikenal di Indonesia, pertama-tama perlu dijelaskan 'Apa itu production scheduler'. Pertanyaan seperti 'Apa bedanya dengan sistem manajemen produksi?', 'Apakah bisa mengelola inventaris?', 'Apakah ada laporan standar?' sering muncul, tetapi ini didasarkan pada kesalahpahaman bahwa production scheduler mirip dengan sistem manajemen produksi.
Meskipun dikatakan 'Bisa mengelola inventaris, kan?' atau 'Ingin melihat format standar P/O dan INVOICE', production scheduler tidak memiliki fungsi tersebut, sehingga harus dijelaskan bahwa 'tidak bisa' atau 'tujuan sistem berbeda'. Ini membuat demo menjadi mudah kacau, tetapi pertama-tama perlu meyakinkan pelanggan bahwa 'production scheduler tidak memiliki fungsi manajemen inventaris atau penerbitan INVOICE seperti sistem manajemen produksi' adalah rintangan pertama.
Sistem manajemen produksi melakukan analisis situasi saat ini berdasarkan data hasil masa lalu, tetapi production scheduler adalah sistem yang menggunakan pengaturan parameter untuk melakukan rescheduling berulang kali. Ketika pelanggan bertanya 'Bisakah melakukan ini?', meskipun mungkin, jika tidak dapat ditunjukkan secara langsung, itu sama dengan 'tidak bisa'.
'Ingin menyelesaikan komponen yang akan dirakit dalam ASSY satu hari sebelumnya', 'Ingin mengalokasikan ke mesin cetak sekunder jika kapasitas mesin utama penuh', 'Ingin demo cara menangani jika mesin press rusak', 'Ingin memproduksi item yang sama secara bersamaan untuk mengurangi pengaturan', 'Bagaimana menangani barang NG saat memasukkan hasil?' adalah contoh permintaan untuk mendemonstrasikan cara menangani situasi spesifik di lantai produksi secara langsung. Ini adalah rintangan kedua.
Demo production scheduler selalu menghadapi dua rintangan ini, yang membuat demo menjadi sulit.
Alasan Utama Kesulitan Demo Production Scheduler
Alasan utama kesulitan demo production scheduler adalah sifat sistemnya. Sistem manajemen produksi melakukan analisis situasi saat ini berdasarkan data hasil, sehingga hasil pemrosesan harus akurat. Namun, production scheduler adalah sistem yang menggunakan pengaturan parameter untuk mendekati hasil jadwal yang diinginkan melalui rescheduling berulang kali. Banyak properti seperti parameter perencanaan, master, dan pesanan yang mempengaruhi hasil jadwal, membuat elemen yang mempengaruhi hasil jadwal sangat kompleks.
Proses perhitungan nilai evaluasi melibatkan banyak elemen, dan meskipun bobot properti diatur dengan benar, tidak selalu menghasilkan hasil jadwal yang optimal. Ini hanya memberikan kecenderungan tertentu pada hasil jadwal, dan diperlukan trial and error. Ini mirip dengan melatih kuda liar.
Kesalahpahaman umum dalam demo production scheduler adalah 'Sistem secara otomatis menyusun jadwal yang optimal'. Namun, mesin AI tidak dapat menghasilkan jadwal optimal hanya dengan melihat parameter sumber daya produksi dan pesanan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Jika harus mengekspresikan optimasi perencanaan produksi, mungkin bisa dikatakan 'Perencanaan produksi yang tidak melebihi kapasitas, tidak terlambat, dan meratakan tingkat operasi'. Namun, di negara seperti Indonesia yang mengalami fluktuasi permintaan dan gangguan jaringan logistik, masalahnya adalah penghentian jalur produksi karena kekurangan bahan baku. Penting untuk mengeluarkan instruksi produksi dalam urutan yang tidak menyebabkan penghentian jalur produksi dengan melihat inventaris bahan baku dan sisa pesanan pembelian terhadap pesanan yang diterima.
Contoh: Pertanyaan 'Apa itu optimasi?' sama dengan pertanyaan 'Apa makanan paling enak di dunia?', jawabannya berbeda untuk setiap orang. Apa yang optimal berbeda tergantung pada orang, waktu, dan tempat, dan jarang ada kasus di mana jadwal optimal dapat dibayangkan saat rescheduling. Production scheduler berperan membantu mencari 'apa yang optimal' bagi lantai produksi.
Poin: Production scheduler penting digunakan sebagai alat untuk menemukan jadwal yang optimal sesuai dengan situasi di lantai produksi.
Arah Penjadwalan pada Masa Ekonomi Baik dan Buruk
Dalam sistem manajemen produksi, umumnya pengelolaan dibagi per proses. Namun, jarak fisik dan dinding antara proses menyebabkan aliran barang dan informasi terhambat, membatasi pengurangan lead time dan inventaris dalam proses. Di sisi lain, dengan menggunakan production scheduler, aliran proses di dalam pabrik dapat divisualisasikan secara menyeluruh, memungkinkan pembuatan aliran produksi dan optimalisasi keseluruhan.
Dengan demikian, dapat memperjelas jumlah kebutuhan bahan dan waktu pemasukan ke proses, serta mengurangi inventaris antar proses. Pada masa ekonomi baik seperti di Indonesia yang sedang mengalami pertumbuhan ekonomi, tantangan terbesar adalah peningkatan throughput daripada pengurangan inventaris atau lead time.
Secara naluriah, manusia ingin memasukkan pesanan yang mudah ke peralatan yang kosong, tetapi dengan memanfaatkan production scheduler, dapat mensimulasikan maksimisasi kapasitas dengan sumber daya yang ada. Sebaliknya, ketika permintaan manufaktur domestik Indonesia menurun akibat krisis keuangan global atau perlambatan ekonomi Tiongkok, operator cenderung berpura-pura sibuk.
Dengan menggunakan production scheduler, dapat memahami kesibukan secara logis dan membuat keputusan untuk menghindari produksi berlebih saat tidak sibuk, serta memberikan pekerjaan lain. Selain itu, di Indonesia, sering terjadi demo buruh yang mengakibatkan produksi terhenti akibat kegagalan negosiasi antara pekerja dan manajemen.
Untuk menghadapi situasi tak terduga seperti ini, dari perspektif kelangsungan bisnis, perlu mempersiapkan BCP (Business Continuity Plan) dan mencerminkan kejadian yang terjadi ke dalam scheduler untuk melakukan rescheduling, sehingga dapat memikirkan langkah-langkah konkret.
Pertanyaan Umum | Implementasi di Indonesia
Poin yang sering dikonfirmasi di lapangan penjualan dan implementasi.
Apa yang harus disepakati sebelum implementasi?
Proses bottleneck, indikator evaluasi (fungsi tujuan), dan cara menghubungkan perencanaan dengan hasil. Jika ini tidak jelas, penyesuaian parameter akan menyebar.
Mengapa terjebak dalam instruksi produksi dan input hasil?
Jika waktu penerbitan dan input lapangan tidak sinkron, jadwal menjadi rencana di atas meja. Tentukan aturan operasi terlebih dahulu sebelum otomatisasi.
Apakah semua batasan (cetakan, pekerja) harus dimasukkan sejak awal?
Memasukkan batasan yang paling berpengaruh secara bertahap adalah realistis. Jika semua batasan dimasukkan sejak awal, model menjadi berat dan lapangan tidak dapat mengikutinya.

