Poin untuk Menerapkan Sistem Manajemen Aset Tetap di Indonesia

2013/08/30

Dalam penyusutan aset tetap, metode garis lurus (Straight-line method) menekan beban biaya awal untuk menghasilkan laba lebih cepat, sedangkan metode saldo menurun (declining balance method) bertujuan untuk mempercepat pengeluaran biaya, menekan laba, dan menghemat pajak.

インドネシアの労務と法律まとめ

Sistem Akuntansi di Indonesia

Di Indonesia, sistem akuntansi berbasis cloud semakin berkembang, dan tiga sistem cloud lokal terkenal, yaitu Accurate, Zahir, serta Jurnal, memimpin pasar. Namun, pada kenyataannya, dikatakan bahwa hanya kurang dari 8% perusahaan domestik yang telah mengadopsi sistem akuntansi. Inilah alasan mengapa sistem akuntansi berbasis cloud baru terus diluncurkan di pasar Indonesia yang tampaknya sudah jenuh. Hal ini menunjukkan bahwa startup IT, baik domestik maupun internasional, menilai bahwa sistem akuntansi cloud masih memiliki potensi besar untuk meningkatkan pangsa pasar di pasar lokal. Di Indonesia, pencatatan otomatis melalui penyebaran sistem akuntansi telah menjadi hal yang biasa, dan dalam lima tahun terakhir, rata-rata nilai ...

続きを見る

Manajemen Aset Tetap di Indonesia

Perusahaan di Indonesia yang menggunakan sistem manajemen aset tetap sangat sedikit, dan sebagian besar perusahaan Jepang mengelola daftar aset tetap di Excel dengan informasi berikut:

  • Kode aset tetap
  • Tanggal perolehan
  • Harga perolehan
  • Jenis aset tetap: Bangunan, Struktur, Kendaraan, Peralatan
  • Metode penyusutan: Metode garis lurus, Metode saldo menurun
  • Masa manfaat: 4 tahun, 8 tahun, 12 tahun, 20 tahun
  • Tanggal mulai penyusutan
  • Tanggal selesai penyusutan yang direncanakan
  • Informasi klasifikasi: Terutama digunakan sebagai dasar laporan, berbeda-beda tergantung perusahaan
  • Lokasi
  • Departemen
  • Grup

Di Indonesia, barang yang dapat dicatat sebagai aset tetap diklasifikasikan berdasarkan masa manfaatnya.

  1. Kategori 1 (Masa manfaat 4 tahun: Saldo menurun 50%, Garis lurus 25%)
    Peralatan kantor (PC, printer, meja, kursi, dll.), telepon genggam, dll.
  2. Kategori 2 (Masa manfaat 8 tahun: Saldo menurun 25%, Garis lurus 12,5%)
    Kendaraan perusahaan, AC, dll.
  3. Kategori 3 (Masa manfaat 12 tahun: Saldo menurun 12,5%, Garis lurus 6,25%)
    Mesin cetak, mesin press, dll.
  4. Kategori 4 (Masa manfaat 20 tahun: Saldo menurun 10%, Garis lurus 5%)

Pengelolaan informasi seperti "kapan dan berapa harga perolehannya" serta "berapa lama masa penyusutan yang tersisa", serta pembuatan jurnal penyusutan otomatis pada akhir bulan berdasarkan informasi ini, adalah fungsi dari sistem manajemen aset tetap.

Fungsi Sistem Manajemen Aset Tetap

Manajemen Perolehan (Acquisition)

Dengan memasukkan data perolehan di sistem manajemen aset tetap, jurnal utang dapat dibuat di manajemen utang ERP. Sebaliknya, dengan memproses penerimaan di manajemen pembelian ERP, data dapat secara otomatis tercatat di daftar aset tetap pada sistem manajemen aset tetap.

  • (Debit) Kendaraan (Peningkatan aset)  (Kredit) A/P (Peningkatan kewajiban)
      Vehicle-Production       Account payable

Jika pembelian aset tetap dilakukan dalam mata uang asing seperti USD atau JPY selain IDR, pemrosesan penurunan nilai (impairment) harus dilakukan dalam mata uang perolehan, sehingga jurnal yang dihasilkan saat perolehan memerlukan kode mata uang.

Manajemen Penyusutan (Depreciation)

Aset tetap berwujud diklasifikasikan ke dalam kategori seperti bangunan, struktur, kendaraan, dan peralatan. Jumlah total per kategori yang dihitung dengan metode garis lurus atau saldo menurun di Excel dicatat sebagai aset negatif dengan metode tidak langsung melalui jurnal.
Ini dilakukan dalam jurnal penyesuaian akhir bulan untuk mencatat akumulasi penyusutan di bawah harga perolehan aset tetap pada B/S, yang menunjukkan "berapa banyak yang telah disusutkan sejauh ini".

  • (Debit) Biaya Penyusutan Peralatan (Peningkatan biaya)  (Kredit) Akumulasi Penyusutan Peralatan (Peningkatan aset negatif)
      Depreciation (SGA)       Accumulated depreciation

Untuk aset tetap tak berwujud (seperti perangkat lunak), aset langsung dijadikan biaya dengan metode langsung.

  • (Debit) Penyusutan Aset Tak Berwujud (Peningkatan biaya)  (Kredit) Perangkat Lunak (Penurunan aset)
      Amortization (SGA)       Intangible fixed asset

Manajemen Perpindahan (Transfer)

Perpindahan aset tetap tidak menghasilkan biaya, tetapi jika manajemen laba rugi dilakukan berdasarkan unit pengelompokan seperti departemen, lini, atau mesin, diperlukan jurnal offset untuk mengganti grup pengelompokan.

  • (Debit) Kendaraan (Peningkatan aset)  (Kredit) Kendaraan (Penurunan aset)
      Vehicle-SGA       Vehicle-Production

Jika pengelompokan aset per departemen dilakukan di sistem akuntansi, kode departemen diperlukan pada akun aset tetap di G/L.

ジャカルタの夜景

Metode Laba Rugi Berdasarkan Pendekatan Pendapatan dan Biaya Serta Metode Kekayaan Berdasarkan Pendekatan Aset dan Kewajiban

Keuntungan bulan ini dalam metode laba rugi adalah "pendapatan akhir bulan – biaya akhir bulan", tetapi keuntungan bulan ini dalam metode kekayaan adalah "(aset awal bulan – kewajiban awal bulan) – (aset akhir bulan – kewajiban akhir bulan)", yang merupakan peningkatan modal, dan keduanya menghasilkan jumlah yang sama.

続きを見る

Manajemen Penurunan Nilai (Impairment Loss) dan Kerugian Luar Biasa (Extraordinary Loss)

Pemrosesan penurunan nilai harus dilakukan dengan hati-hati karena dapat memengaruhi manipulasi laba, tetapi IFRS mengizinkan pembalikan penurunan nilai aset tetap yang tidak diizinkan di Jepang.
Ini karena IFRS menuntut laporan keuangan yang mencerminkan kondisi aktual aset perusahaan. Meskipun nilai aset pernah turun, jika nilainya naik kembali, nilai tersebut harus dicerminkan sebagai nilai evaluasi aset. Meski argumen ini logis, pemrosesan penurunan nilai yang sembarangan tidak dianggap baik.

  • (Debit) Kerugian Penurunan Nilai (Peningkatan biaya)  (Kredit) Akumulasi Kerugian Penurunan Nilai (Peningkatan aset negatif)
      Impairment loss       Accumulated impairment loss

Manajemen Penghapusan (Retirement) dan Pembuangan (Disposal)

Penghapusan berarti menghentikan penggunaan dan menyimpannya sebagai stok terpisah, sedangkan pembuangan berarti mencatatnya sebagai kerugian pembuangan aset tetap (akun biaya) tanpa nilai evaluasi.

  • (Debit) Akumulasi Penyusutan (Penurunan aset negatif)  (Kredit) Kendaraan (Penurunan aset)
      Accumulated depreciation       Vehicle-SGA
  • (Debit) Akumulasi Kerugian Penurunan Nilai (Penurunan aset negatif)
      Accumulated impairment loss
  • (Debit) Kerugian Pembuangan (Peningkatan biaya)
      Loss on disposal

Manajemen Penjualan (Sales)

Jika harga jual lebih tinggi dari nilai sisa saat penjualan (Remained value), keuntungan penjualan (profit on sales) dicatat; jika lebih rendah, kerugian penjualan (loss on sales) dicatat.

  • (Debit) Akumulasi Penyusutan (Penurunan aset negatif)  (Kredit) Kendaraan (Penurunan aset)
      Accumulated depreciation       Vehicle-SGA
  • (Debit) Akumulasi Kerugian Penurunan Nilai (Penurunan aset negatif)  Accumulated impairment loss
  • (Debit) Pendapatan Belum Diterima (Peningkatan aset)  accrued income
  • (Debit) Kerugian Penjualan (Peningkatan biaya)  Loss on sales

Manajemen Sewa (Lease) dan Manajemen Konstruksi Sementara (Construction in Progress)

Selain aset tetap, fungsi sistem manajemen aset tetap juga mencakup pengelolaan kontrak aset sewaan dari mulai kontrak hingga berakhir, termasuk jumlah pembayaran dan perpanjangan sewa.
Untuk pembangunan atau pembuatan aset tetap berwujud, jurnal konstruksi sementara (Construction in Progress) dibuat untuk mengelola biaya konstruksi, material, tenaga kerja, dan pengeluaran yang dibayar di muka atau sementara hingga penyelesaian atau penyerahan bangunan.
Perbedaan antara barang dalam proses dan konstruksi sementara, secara sederhana, dapat dipahami sebagai apakah barang tersebut untuk dijual atau tidak.
Aset persediaan berubah dari material menjadi barang dalam proses, lalu menjadi produk untuk dijual. Namun, ada barang yang tidak untuk dijual tetapi dibeli sebagai material, menjadi barang dalam proses, dan akhirnya menjadi aset perusahaan, seperti cetakan (mold).
Peralatan, berdasarkan kontrak FOB, dicatat sebagai konstruksi sementara saat dikirim dari Jepang dan menjadi stok di kapal. Setelah tiba di Indonesia dan mulai digunakan di pabrik (tanggal mulai digunakan untuk bisnis), barang tersebut menjadi aset tetap dan disusutkan berdasarkan masa manfaatnya.

  • (Debit) Konstruksi Sementara      (Kredit) A/P
  • (Debit) Aset Tetap Berwujud  (Kredit) Konstruksi Sementara

Sebaliknya, cetakan dicatat sebagai konstruksi sementara saat pembelian material cetakan dan pemrosesan permukaan dimulai. Setelah menjadi cetakan jadi melalui barang dalam proses cetakan, aset tersebut dialihkan ke aset tetap dan penyusutan akuntansi dimulai.
Konstruksi sementara seperti tempat penyimpanan sementara untuk aset yang tidak disusutkan, sangat praktis, tetapi jika tertahan terlalu lama secara tidak wajar, akan menjadi sasaran audit.

Metode Perhitungan Penyusutan

Di Indonesia, perhitungan penyusutan umumnya dilakukan secara bulanan. Namun, jika ada kekhawatiran tentang disparitas hari—misalnya, aset dengan nilai perolehan sama yang diperoleh pada tanggal 1 dan 31 memiliki masa penggunaan 31 hari dan 1 hari tetapi jumlah penyusutan bulan ini sama—penyusutan dapat dihitung harian.
Namun, dalam perhitungan bulanan, aset yang diperoleh dalam bulan dianggap digunakan selama 1 bulan penuh untuk perhitungan penyusutan, sehingga biaya yang dicatat lebih besar dibandingkan perhitungan harian, yang menguntungkan secara pajak.

Metode Garis Lurus (Straight-line method)

Metode garis lurus dapat menekan beban biaya awal, sehingga cocok untuk periode awal pendirian perusahaan atau pelaku bisnis yang ingin menghasilkan laba lebih cepat.

  • Biaya penyusutan = Harga perolehan × Tingkat penyusutan

Metode Saldo Menurun (Declining balance method)

Indonesia saat ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik. Bagi perusahaan dengan penjualan yang terus meningkat, mempercepat pengeluaran biaya untuk menekan laba dapat menghemat pajak sekaligus mempercepat pemulihan dana investasi.
Meskipun tidak relevan, mobil saya, Toyota Avanza, yang kini bisa disebut mobil nasional Indonesia, dibeli setahun lalu seharga sekitar 165 juta IDR. Jika dijual sekarang, mungkin bernilai 145 juta IDR (turun 20 juta). Namun, jika dijual tahun depan, nilainya tidak akan turun lagi 20 juta, melainkan sekitar 140 juta IDR. Metode saldo menurun memiliki konsep serupa: nilai turun drastis di awal, lalu melambat setelahnya.

  • Biaya penyusutan = Saldo belum disusutkan (Harga perolehan – Akumulasi penyusutan) × Tingkat penyusutan

Hubungan Label Fisik dan Daftar Aset Tetap

Untuk menghubungkan informasi stok dalam bentuk daftar aset tetap di sistem, seperti "apa yang ada di mana" dan "kapan dibeli dengan harga berapa", dengan label fisik yang ditempelkan pada barang, kode aset tetap sering kali dijadikan barcode dan digunakan sebagai label fisik.

Kriteria Pemisahan Aset Lancar, Aset Tetap, dan Barang Simpanan (Biaya Konsumsi)

Di Indonesia, seperti di Jepang, aset dibedakan menjadi aset lancar dan aset tetap berdasarkan kemampuan dicairkan (dalam 1 tahun). Aset lancar yang dicatat sebagai biaya saat dikonsumsi disebut barang simpanan (Supplies) atau biaya konsumsi (Supplies Expense) dan biasanya tidak menghasilkan penerimaan/pengeluaran pada sistem manajemen produksi.
Aset Lancar

  1. Aset kas (uang tunai dan deposito)
  2. Aset persediaan (material, barang dalam proses, produk jadi)
  3. Aset tertunda (biaya penelitian dan pengembangan)

Aset Tetap

  1. Aset tetap berwujud (disusutkan secara tidak langsung menggunakan akumulasi penyusutan)
  2. Aset tetap tak berwujud (dikurangi langsung dari aset)

Barang Simpanan

  • (Debit) Supplies (Barang simpanan)       (Kredit) Cash
  • (Debit) Supplies Expense (Biaya konsumsi)    (Kredit) Supplies (Barang simpanan)

Dalam kasus cetakan, meskipun masa manfaatnya kurang dari 1 tahun, karena harga perolehannya besar, diklasifikasikan sebagai aset tetap kategori 1. Namun, cetakan pendukung dengan harga perolehan kecil kadang-kadang dicatat sebagai biaya konsumsi saat perolehan, atau digabungkan sebagai aset tetap bersama cetakan lainnya.
Karena merupakan aset tetap, jurnal dicatat sebagai aset negatif dengan metode tidak langsung. Dengan kata lain, di bawah harga pembelian aset tetap pada B/S, dicantumkan akumulasi "berapa banyak yang telah disusutkan" dan "berapa banyak kerugian yang telah dicatat".

  • (Debit) Depreciation 10    (Kredit) Accumulated depreciation 10
    (Biaya tidak langsung manufaktur)       (Aset negatif)

Ada dua cara untuk mencatat cetakan sebagai aset tetap:

  1. Dicatat sebagai konstruksi sementara dan dialihkan ke aset tetap saat mulai digunakan untuk bisnis
  2. Dicatat sebagai biaya dan dialihkan ke aset tetap melalui pengalihan akun lain

Perbedaan Akuntansi dan Pajak

Jumlah yang dihasilkan perusahaan disebut laba dalam akuntansi perusahaan dan penghasilan dalam akuntansi pajak. Biaya perjamuan yang dicatat pada P/L tidak selalu dapat dikurangkan sebagai biaya (dicatat sebagai pengurang pajak), dan mobil yang telah disusutkan penuh dalam akuntansi pajak dapat dijual dan dicatat sebagai laba/kerugian luar biasa dalam akuntansi perusahaan.

  • Laba = Pendapatan – Biaya
  • Penghasilan = Keuntungan – Pengurang pajak

Perusahaan ingin mencatat biaya lebih cepat untuk mengurangi pajak, tetapi jika terlalu cepat, hanya akan menghasilkan kerugian. Oleh karena itu, mereka ingin menyusutkan secara merata dan secepat mungkin untuk mengurangi laba. Di sisi lain, otoritas pajak menginginkan masa manfaat yang lebih panjang agar laba tidak terlalu ditekan, sehingga pajak yang dapat dipungut lebih banyak. Inilah perbedaan antara akuntansi (manajemen) dan pajak. Namun, mengelola akuntansi dan pajak secara terpisah rumit, sehingga idealnya keduanya harus diselaraskan.
Sistem manajemen aset tetap mengelola akuntansi pajak, di mana aset tetap diklasifikasikan dan disusutkan sesuai hukum pajak terkait. Di sisi lain, sistem manajemen cetakan dapat mengelola jumlah penyusutan berdasarkan data shot di lokasi produksi, secara otomatis menghitung kerugian pembuangan aset tetap atau pendapatan lain-lain (nilai sisa) akibat pembuangan atau penjualan dalam masa penyusutan.
Dalam pemrosesan akuntansi departemen keuangan, nilai evaluasi yang dihitung oleh sistem manajemen aset tetap dan sistem manajemen cetakan dikelola secara terpisah.

Fungsi Sistem Manajemen Cetakan

Inti dari sistem manajemen cetakan adalah manajemen penyusutan berdasarkan masa pakai. Untuk cetakan buatan sendiri, penerimaan (Good Receive) terjadi saat selesai, sedangkan untuk cetakan yang dibeli, penerimaan terjadi saat masuk. Pengeluaran (Good Issue) terjadi berdasarkan data shot dari proses press atau pencetakan, dan jumlah penyusutan dihitung dengan mengalikan harga material per shot dan tarif standar pemrosesan.
Fungsi Sistem Manajemen Cetakan
Untuk cetakan buatan sendiri, data penerimaan/pengeluaran dari material cetakan hingga barang dalam proses dan produk jadi dikelola, dan seperti aset persediaan biasa, perhitungan biaya dilakukan setelah penutupan akhir bulan.
Untuk cetakan jadi, data master cetakan menyimpan masa pakai standar, harga material, dan tarif standar pemrosesan. Data penerimaan/pengeluaran (penerimaan/selesai/shot) dicatat di tabel penerimaan/pengeluaran cetakan, dan informasi terbaru disimpan di tabel stok cetakan.
Penutupan dilakukan pada akhir bulan, dan informasi penutupan disimpan di tabel saldo cetakan (balance master). Pada tabel penerimaan/pengeluaran penyusutan, nilai buku sisa cetakan dibawa ke saldo awal bulan berikutnya.
Mirip dengan sistem manajemen aset tetap, pengelolaan penerimaan/pengeluaran dan perhitungan ulang penyusutan secara kronologis diperlukan jika ada koreksi pada riwayat.