Perubahan Mata Uang Fungsional Seiring Dengan Rupiahisasi Transaksi Domestik di Indonesia

2015/09/15

ジャカルタの夜景

Bulan akhir penilaian ulang kurs valuta asing untuk piutang dan utang, jika keuntungan atau kerugian aset dibandingkan bulan sebelumnya menjadi penting, maka dengan metode pemisahan (cut-off method), harga invoice diperbarui ke nilai penilaian terbaru. Jika keuntungan atau kerugian dibandingkan saat perolehan menjadi penting, maka dengan metode pencucian (reversal method), pada awal bulan berikutnya dilakukan pencucian untuk kembali ke nilai penilaian saat perolehan.

Perbedaan Suhu Antara Akuntansi dan Pajak

Sejak Juli 2015, transaksi domestik di Indonesia pada dasarnya wajib dilakukan dalam basis rupiah sesuai kewajiban dari Bank Indonesia (selanjutnya disebut BI).
Namun, menurut staf akuntansi dari klien yang baru-baru ini saya kunjungi di Bandung, dengan mengajukan permohonan dan mendapatkan izin dari BI, transaksi dengan mitra tertentu dapat dilakukan secara eksepsional dalam basis dolar. Untuk keperluan pengajuan ini, mereka pergi ke kantor BI di Jakarta.
Namun, ini hanyalah tindakan yang berada di wilayah abu-abu, dan kebijakan dasar BI tidak berubah. Kemungkinan ada batasan terkait skala perusahaan yang mengajukan, mitra bisnis, atau volume transaksi.
Di sisi lain, dari segi perpajakan, jika Kantor Pajak Indonesia (Kantor Pajak) mengizinkan pelaporan dalam basis dolar, maka perusahaan wajib melanjutkan pelaporan dalam dolar selama 5 tahun. Misalnya, perusahaan yang memulai proses akuntansi pada Januari 2011 harus melaporkan pajak dalam basis dolar hingga akhir periode ke-5 pada Desember 2016.
Dengan kata lain, aliran basis rupiah dalam akuntansi yang dipimpin oleh BI menunjukkan adanya perbedaan suhu dengan kebijakan Kantor Pajak. Masalahnya adalah, meskipun sistem akuntansi diubah ke basis rupiah mulai Januari 2016, selama satu tahun laporan keuangan atau pelaporan pajak dalam basis dolar tetap diperlukan.


Mata uang dasar yang menjadi basis akuntansi disebut mata uang fungsional (Base currency atau Functional currency), sedangkan mata uang yang digunakan untuk pelaporan ke Kantor Pajak disebut mata uang presentasi (Presentation currency).

Perbedaan Kurs yang Muncul pada Transaksi Valuta Asing

Untuk memenuhi kewajiban pelaporan ke Kantor Pajak selama satu tahun, konversi ke basis mata uang presentasi diperlukan. Ini berarti dalam proses akuntansi akan muncul tiga alur konversi kurs: "valuta asing ~ mata uang fungsional ~ mata uang presentasi".

  1. Dari valuta asing ke mata uang fungsional (tidak ada selisih karena menggunakan kurs transaksi)
  2. Keuntungan/kerugian kurs saat penyelesaian piutang/utang (selisih antara kurs saat terjadi dan kurs saat penyelesaian)
  3. Penilaian ulang kurs (selisih akibat konversi item aset dan kewajiban pada kurs akhir bulan)
  4. Dari mata uang fungsional ke mata uang presentasi (selisih akibat konversi item aset dan kewajiban pada kurs akhir bulan)

Keuntungan/kerugian kurs akibat penilaian ulang utang A/P pada kurs akhir bulan disebut keuntungan belum direalisasi (Forex Gain-Unrealized), karena keuntungan belum direalisasi ini merujuk pada "keuntungan tersembunyi" yang hanya merupakan jumlah keuntungan potensial (evaluasi) pada suatu titik waktu.
Sebaliknya, keuntungan/kerugian kurs saat penyelesaian utang A/P disebut keuntungan direalisasi (Forex Gain-Realized) untuk membedakannya. Ini memerlukan kejelasan tentang apa yang menyebabkan keuntungan/kerugian kurs yang telah ditentukan (berasal dari invoice atau jurnal mana) setelah penyelesaian atau konversi (jika dalam basis dolar, maka konversi ke dolar).
Namun, jika kurs transaksi menggunakan kurs akhir bulan sebelumnya sebagai kurs tetap (flat rate), maka kurs saat penyelesaian A/P sudah merupakan kurs akhir bulan sebelumnya, sehingga tidak ada keuntungan direalisasi yang muncul.

Waktu Konversi ke Basis Mata Uang Presentasi

Tujuan mengonversi laporan keuangan berbasis mata uang fungsional rupiah ke mata uang presentasi dolar adalah untuk pelaporan pajak seperti yang disebutkan di atas, atau untuk pembuatan laporan keuangan konsolidasi (Consolidated financial statement).
Dalam sistem yang dapat menangani beberapa mata uang fungsional, jurnal dalam beberapa basis mata uang fungsional dibuat setiap kali ada entri transaksi. Namun, konversi ke mata uang presentasi dilakukan melalui proses batch pada akhir bulan (atau akhir periode), dengan kurs konversi berupa kurs historis (historical rate), kurs akhir periode (last rate), atau kurs rata-rata (average rate).

  1. Sistem dengan beberapa mata uang fungsional (kurs transaksi)
    Mata uang transaksi (yen)
    ├ Mata uang fungsional (rupiah)
    └ Mata uang fungsional (dolar)
  2. Konversi ke mata uang presentasi dalam sistem mata uang fungsional tunggal (kurs akhir periode)
    Mata uang transaksi (yen) - Mata uang fungsional (rupiah) - Mata uang presentasi (dolar)

Jika kurs konversi adalah kurs transaksi, maka konversi dilakukan pada tingkat jurnal. Namun, keuntungan/kerugian kurs saat penyelesaian atau penilaian ulang kurs pada akhir bulan merupakan hasil dari koreksi dampak fluktuasi kurs yen sebagai valuta asing terhadap rupiah, dan ini tidak memiliki makna terhadap mata uang presentasi dolar.
Oleh karena itu, sangat sulit untuk melakukan konversi ke mata uang presentasi secara akurat melalui proses batch akhir bulan, dan inilah perbedaan dengan sistem yang mendukung beberapa mata uang fungsional seperti yang disebutkan di atas.

Poin Penting dalam Pengenalan Sistem Akuntansi di Indonesia

Kesesuaian dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting)

Sistem akuntansi yang digunakan oleh perusahaan Jepang di Indonesia secara garis besar terbagi menjadi sistem lokal berbiaya rendah, sistem impor berbiaya menengah (dari Amerika, Jepang, atau Eropa), dan sistem berbiaya tinggi seperti SAP (Jerman).
Saat memperkenalkan sistem akuntansi di Indonesia, kesesuaian dengan Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) sudah lama menjadi kebutuhan. Di Indonesia, kesadaran akan IFRS telah didorong sejak dini, termasuk dalam hal pengakuan pendapatan dan beban, penilaian wajar, serta metode penyusutan aset tetap. Saya rasa kesadaran terhadap IFRS di sini lebih tinggi dibandingkan di Jepang.
IFRS bertujuan untuk memberikan informasi yang diperlukan bagi investor dan kreditor dalam mengevaluasi nilai perusahaan.
Untuk itu, dengan mengevaluasi aset tetap yang mengalami penurunan nilai atau reevaluasi, serta aset keuangan yang dapat dijual pada nilai wajar, neraca (B/S) dibuat secara akurat untuk menjelaskan apakah perusahaan memiliki kondisi aset yang mampu menghasilkan keuntungan yang sepadan dengan investasi.
Sementara laporan keuangan berdasarkan IFRS diperlukan untuk keperluan konsolidasi di kantor pusat Jepang, di sisi Indonesia, Kantor Pajak belum tentu mendukung hal ini, sehingga pelaporan pajak harus tetap dibuat berdasarkan standar lokal.
Oleh karena itu, idealnya sistem akuntansi dilengkapi dengan fungsi buku besar multi-standar, yang memungkinkan pengalihan jurnal akuntansi untuk keperluan kantor pusat Jepang dan penyelesaian lokal di Indonesia.

Kurs Valuta Asing

Saat memperkenalkan sistem akuntansi di Indonesia, peraturan pajak yang pertama kali dipertimbangkan adalah Pajak Pertambahan Nilai (VAT), yang di Indonesia disebut PPN (Pajak Pertambahan Nilai).
Untuk perhitungan pajak terkait transaksi dalam valuta asing, perusahaan harus menggunakan kurs pajak (Tax Rate) yang diterbitkan setiap minggu oleh Kantor Pajak. Oleh karena itu, sistem akuntansi perlu memiliki dua jenis kurs, yaitu kurs transaksi dan kurs pajak, serta pengaturan kurs pajak dalam master kurs sistem untuk setiap mata uang, dengan mekanisme yang merujuk pada kurs yang sesuai saat entri transaksi.
Mengenai kurs valuta asing yang diterapkan pada transaksi, ada dua opsi: kurs harian (Spot Rate) yang menggunakan kurs hari sebelumnya atau kurs tetap (Flat Rate) yang menggunakan kurs akhir bulan sebelumnya untuk bulan tersebut. Dalam kasus pertama, diperlukan mekanisme untuk secara otomatis menghasilkan jurnal keuntungan/kerugian kurs saat penyelesaian piutang/utang.
Kemudian, untuk piutang/utang atau kas/deposito yang dibawa ke bulan berikutnya, dilakukan penilaian ulang kurs (Revaluation) pada akhir bulan menggunakan kurs akhir bulan dalam sistem.

Fungsi Penerbitan Faktur Pajak (Tax Invoice)

Indonesia menggunakan metode invoice, bukan metode pembukuan, dan pajak dihitung berdasarkan Faktur Pajak (Tax Invoice).
Faktur Pajak harus selalu dilampirkan bersama invoice saat pembayaran pajak atau pengajuan pengembalian dana, tetapi formatnya sering berubah secara tidak teratur, sehingga penyesuaian format dalam sistem diperlukan setiap kali ada perubahan.
Berdasarkan Faktur Pajak, jumlah pembayaran atau pengembalian PPN dihitung dengan mengimbangi PPN yang dikenakan pada penjualan (Output) dengan PPN yang dikenakan pada pembelian (Input). Jika PPN penjualan lebih besar, maka perusahaan membayar pajak; jika PPN pembelian lebih besar, maka perusahaan dapat mengajukan pengembalian.
Sebagai informasi, sejak 2019, Faktur Pajak diterbitkan melalui aplikasi desktop E-Faktur, dan sejak 2025 melalui sistem online coretax, sehingga penyesuaian tata letak dalam sistem akuntansi tidak lagi diperlukan.

Fitur Sistem Akuntansi Multi-Mata Uang

Transaksi perusahaan dicatat dalam mata uang transaksi (Original currency) secara akuntansi, tetapi saat diposting ke buku besar (General Ledger = G/L), dikonversi ke mata uang fungsional (Base currency), dan buku besar menyimpan jumlah dalam mata uang transaksi dan mata uang fungsional.
Di Indonesia, mata uang fungsional yang diizinkan hanya rupiah atau dolar. Entri transaksi dilakukan dalam mata uang transaksi, dikonversi ke mata uang fungsional saat diposting ke buku besar, laporan laba rugi (P/L) dan neraca (B/S) dibuat dalam mata uang fungsional, dan laporan ke Kantor Pajak juga dalam mata uang fungsional (hanya rupiah atau dolar).
Meskipun disebut transaksi multi-mata uang, pajak tentu saja dibayar dalam mata uang nasional, yaitu rupiah. Jumlah pembayaran pajak yang muncul dari transaksi valuta asing dikonversi ke rupiah menggunakan kurs pajak (Tax Rate) yang diterbitkan setiap Rabu oleh Kantor Pajak.
Jika sistem mendukung akuntansi multi-mata uang, fungsi berikut diperlukan:

  1. Input dalam mata uang transaksi dan menyimpan jumlah dalam mata uang transaksi serta mata uang fungsional di buku besar
  2. Menghasilkan jurnal keuntungan/kerugian kurs secara otomatis saat penyelesaian (keuntungan/kerugian direalisasi tidak muncul jika kurs transaksi menggunakan kurs akhir bulan sebelumnya)
  3. Fungsi penilaian ulang kurs (keuntungan/kerugian belum direalisasi) pada akhir bulan

Jika perlu menyerahkan dua laporan keuangan dalam rupiah dan yen untuk kantor pusat Jepang, dalam sistem dengan mata uang fungsional rupiah, untuk membuat laporan keuangan dalam yen, jurnal yang menganggap semua mata uang selain yen sebagai valuta asing harus dibuat secara bersamaan untuk setiap entri transaksi.
Dengan kata lain, untuk membuat laporan saldo percobaan (Trial Balance = T/B) dalam rupiah dan dolar, buku besar perlu dipisahkan. Namun, sangat sedikit paket perangkat lunak komersial yang mendukung beberapa mata uang fungsional ini.
Namun, seiring meningkatnya kebutuhan akan kesesuaian IFRS, kebutuhan akan beberapa mata uang fungsional diperkirakan akan meningkat.
Saat memotong jurnal pembalik untuk memperbaiki jurnal transaksi valuta asing, jika kurs transaksi tidak dimasukkan, meskipun saldo dalam mata uang transaksi menjadi nol, saldo dalam mata uang fungsional dapat tetap ada, jadi perlu hati-hati.
Saat mengubah mata uang fungsional (dari dolar ke rupiah), semua jurnal keuntungan/kerugian kurs direalisasi (selisih kurs antara tanggal terjadi dan tanggal penyelesaian) dan jurnal keuntungan/kerugian kurs belum direalisasi (selisih kurs antara tanggal terjadi dan kurs akhir bulan) dari transaksi piutang/utang sebelumnya harus dihapus untuk kembali ke nilai penilaian saat perolehan, kemudian dihapuskan dengan kurs saat penyelesaian, dan keuntungan/kerugian kurs direalisasi terhadap mata uang fungsional baru (rupiah) dicatat.
Bank Indonesia sejak Juli 2015 mewajibkan transaksi tunai dan nontunai domestik dilakukan dalam mata uang nasional (rupiah) untuk menjaga stabilitas kurs.

Pemrosesan Keuntungan/Kerugian Kurs saat Pembelian dan Penyelesaian

Untuk perusahaan dengan mata uang fungsional rupiah yang melakukan pembelian sebesar 100 yen (utang A/P muncul), dengan kurs saat terjadi (1 yen = Rp.98) dibandingkan saat penyelesaian menjadi lebih mahal (1 yen = Rp.100), jurnalnya adalah sebagai berikut:

Saat Invoice Tiba (A/P Muncul) 1 yen = Rp.98

  • (Debit) Pembelian ¥100    (Kredit) A/P ¥100
    (¥100 x 98 = Rp.9.800)
Saat Penyelesaian 1 yen = Rp.100, yen menguat, rupiah melemah

  • (Debit) A/P ¥100        (Kredit) Bank JPY ¥100
    (¥100 x 98 = Rp.9.800)    (¥100 x 100 = Rp.10.000)
  • (Debit) Kerugian Kurs Rp.200

Untuk menghapus A/P dalam mata uang transaksi dan mata uang fungsional, saat penyelesaian juga dievaluasi dengan kurs saat pembelian.
Dalam hal ini, kenaikan nilai dari ¥100 saat A/P muncul (¥100 x Rp.98 = Rp.9.800) ke ¥100 saat penyelesaian (¥100 x Rp.100 = Rp.10.000) sebesar Rp.200 dicatat sebagai kerugian kurs.
Dalam sistem akuntansi yang memungkinkan pengaturan akun dalam mata uang berbeda untuk debit dan kredit, saldo tidak seimbang dalam basis mata uang transaksi, tetapi harus selalu seimbang dalam basis mata uang fungsional.
Jika hanya buku besar sistem akuntansi yang diperkenalkan, saat memasukkan jurnal penyelesaian, sistem akan secara otomatis mengambil kurs hari itu dari master kurs.
Untuk menerapkan kurs saat A/P muncul dan menghapus utang, serta menghasilkan jurnal keuntungan/kerugian kurs berdasarkan selisih dengan jumlah konversi berdasarkan kurs saat penyelesaian, diperlukan fungsi yang memungkinkan koreksi manual kurs saat A/P muncul pada item debit di layar entri jurnal.

Pemrosesan Keuntungan/Kerugian Kurs saat Penjualan dan Penerimaan

Dengan tetap memperhatikan keseimbangan dalam mata uang fungsional, keuntungan/kerugian kurs dicatat dalam mata uang fungsional.
Kenaikan nilai dari A/R (piutang) saat muncul sebesar $1.000 ($1.000 x Rp.9.000 = Rp.9.000.000) ke saat penerimaan sebesar $1.000 ($1.000 x Rp.9.200 = Rp.9.200.000) sebesar Rp.200.000 dicatat sebagai keuntungan kurs.

Saat Penerbitan Invoice (A/R Muncul) $1 = Rp.9.000

  • (Debit) A/R $1.000    (Kredit) Penjualan $1.000
Saat Penyelesaian $1 = Rp.9.200, dolar menguat, rupiah melemah

  • (Debit) Bank $1.000        (Kredit) A/R $1.000
    ($1.000 x 9.200 = Rp.9.200.000)  ($1.000 x 9.000 = Rp.9.000.000)
  •                  (Kredit) Keuntungan Kurs Rp.200.000

Penilaian Ulang A/R dan A/P Sebelum Penutupan Bulan (Revaluation)

Jika saldo A/P dan A/R pada akhir bulan dibawa ke bulan berikutnya, perlu dilakukan penilaian ulang dengan kurs akhir bulan.
Jika kurs selama bulan ditetapkan sebagai kurs akhir bulan sebelumnya, saldo A/R dan A/P dapat dievaluasi ulang secara sekaligus. Namun, jika kurs berbeda untuk setiap hari transaksi, konversi penilaian kurs harus dilakukan terhadap kurs saat transaksi terjadi.
Jika keuntungan/kerugian kurs akibat penilaian ulang dicatat sebagai selisih terhadap nilai awal tahun, aset B/S dalam mata uang transaksi dievaluasi ulang dengan kurs akhir bulan sebelum penutupan bulanan, kemudian dibalik (re-class) pada awal bulan berikutnya.

Saat Invoice Tiba (Utang Muncul) 1 yen = Rp.98

  • (Debit) A/P Accrued ¥100    (Kredit) A/P (Utang) ¥100

¥100 saat A/P muncul (¥100 x Rp.98 = Rp.9.800) sesuai dengan ¥103,2 pada awal bulan berikutnya (¥103,2 x Rp.95 = Rp.9.800), sehingga selisih dalam mata uang fungsional diproses dalam mata uang transaksi.

Penyesuaian Kurs Setelah Penutupan Bulan 1 yen = Rp.95, yen melemah, rupiah menguat

  • (Debit) Kerugian Kurs ¥3,2    (Kredit) A/P ¥3,2

Alur Perubahan Mata Uang Fungsional dari Dolar ke Rupiah

Sejak Juli 2015, transaksi domestik wajib dilakukan dalam basis rupiah, sehingga proses akuntansi pun secara alami berpusat pada rupiah. Di kalangan industri manufaktur Jepang, ada kecenderungan untuk mengubah mata uang fungsional sistem akuntansi dari basis dolar ke basis rupiah.
Pada 2015, selain masalah mata uang fungsional, deklarasi VAT melalui Faktur Pajak (Tax Invoice) diwajibkan sepenuhnya online melalui e-Faktur, dan kontrak terkait perdagangan domestik disarankan dibuat dalam bahasa Indonesia, menjadikan tahun ini penuh dengan perubahan dalam praktik bisnis.
Perubahan mata uang fungsional memerlukan pemotongan pada suatu titik waktu (biasanya awal tahun) untuk mengubah parameter dasar sistem dari dolar ke rupiah.

  1. Persiapan lingkungan sistem dan basis data berbasis rupiah
  2. Migrasi master data
  3. Investigasi dampak pada laporan dan dokumen yang ada
  4. Persiapan saldo awal periode dalam basis rupiah (A/P dan A/R diperlukan per unit invoice untuk penyelesaian)
  5. Pemrosesan penutupan pertama dalam basis rupiah

Secara operasional, alur di atas diikuti, tetapi yang penting adalah mencocokkan saldo awal periode akun piutang A/R dan utang A/P serta saldo awal periode pada laporan saldo percobaan (Trial Balance) dalam basis rupiah.
Jika ada penyesuaian seperti Debit Note atau Credit Note yang melibatkan A/R dan A/P, tidak ada masalah. Namun, jika penyesuaian kurs atau pajak hanya berdampak pada G/L, keseimbangan kedua sisi bisa menjadi tidak sesuai.

Konversi Penilaian Valuta Asing

Konversi penilaian valuta asing (Revaluation) terdiri dari dua jenis: untuk piutang A/R dan utang A/P, serta untuk aset lancar dan kewajiban lancar lainnya. Ketika mata uang fungsional berubah, tentu saja mata uang yang menjadi target konversi penilaian valuta asing, seperti dolar dan rupiah, akan bertukar posisi.
Mata uang seperti yen, dolar Singapura, dan baht Thailand, yang merupakan cross-currency dari rupiah terhadap dolar, tetap menjadi target konversi seperti sebelumnya, tetapi standar konversinya menjadi rupiah.
Kurs transaksi akuntansi umumnya menggunakan kurs tengah (TTM) dari Bank Indonesia untuk semua transaksi jual dan beli. Meskipun kurs TTM dari Bank Tokyo-Mitsubishi (BOTM) dapat digunakan, karena ini adalah kurs komersial bank swasta, menggunakan kurs BI lebih aman.
Meskipun sistem memungkinkan penggunaan TTS (jual dari sisi bank) untuk pembelian dan TTB (beli dari sisi bank) untuk penjualan, jika jumlah jual dan beli dalam mata uang asing sama pada hari yang sama, jumlah dalam mata uang fungsional bisa berbeda, yang menjadi masalah dalam pengelolaan.
Beberapa perusahaan menggunakan kurs akhir bulan sebelumnya sebagai kurs tetap untuk transaksi bulan tersebut. Dalam kasus ini, keuntungan/kerugian kurs direalisasi saat penyelesaian tidak muncul, tetapi kerugian kurs belum direalisasi dapat muncul saat konversi penilaian valuta asing pada akhir bulan.
Dalam hal ini, karena kurs akhir bulan sebelumnya ditetapkan sebagai kurs transaksi pada master kurs, selain kurs transaksi dan kurs pajak, kurs untuk Revaluation juga perlu diatur.

Metode Pemisahan dan Metode Pencucian

Metode konversi penilaian valuta asing terdiri dari metode pemisahan (separation method), yang memisahkan biaya perolehan, dan metode pencucian (reversal method), yang mempertahankan biaya perolehan.
Dalam metode pemisahan, setiap akhir bulan, keuntungan/kerugian penilaian dibandingkan dengan akhir bulan sebelumnya pada laporan laba rugi (P/L) meningkat atau menurun sebagai nilai penilaian pada neraca (B/S). Dalam metode pencucian, terhadap jurnal penilaian ulang kurs pada akhir bulan, jurnal pencucian (reverse) dibuat pada awal bulan berikutnya untuk mereset, sehingga setiap akhir bulan keuntungan/kerugian penilaian dibandingkan tanggal perolehan pada P/L meningkat atau menurun sebagai nilai penilaian pada B/S.

Metode Pemisahan (Selisih kurs akhir bulan sebelumnya dan akhir bulan ini)

  • (Debit) Kerugian Kurs Belum Direalisasi 30    (Kredit) A/R 30
Metode Pencucian (Selisih kurs tanggal perolehan dan akhir bulan ini)

  • Akhir Bulan
    (Debit) Kerugian Kurs Belum Direalisasi 35    (Kredit) A/R 35
  • Awal Bulan Berikutnya (Pencucian)
    (Debit) A/R 35    (Kredit) Kerugian Kurs Belum Direalisasi 35

Think harder

Jelaskan metode pencucian

Sistem akuntansi multi-negara