Production Scheduler

Production Schedule dan Sistem pengoleksi Actual Result Menggunakan GoogleAppSheet【Seminar pada Tanggal7 Juli 2021】

2021/06/27


Selamat siang, saya Yamamoto dari PT.BAHTERA HISISTEM INDONESIA.

Hari ini temanya DX(Digital Transformation). sebelumnya dari PT.Qunie Consulting sudah dipresentasikan mengenai arah peningkatan bisnis, kemudian dari PT.Sato Label Solution dikenalkan solusi ASETRA yang digunakan teknologi RFID.

Dari saya mengenalkan solusi membuat production schedule secara otomatis sambil optimalkan sumbur daya pabrik untuk mewujudkan pengurangan L/T dan stock.

Profil Perusahaan

Sebelumnya sedikit mengenalkan diri perusahaan kami.

Kantor kami ada di Summarecon Bekasi Barat, sangat dekat Mal Summarecon.

Perusahaan berdiri tahun 2018, jenis bisnis adalah pengembangan dan implementasi sistem.

Filosofi Perusahaan

Klien kami sebagian besar manufaktur.

Kami mengembangkan dan implementasikan sistem supaya efeknya terlihat, yaitu meningkatkan efisiensi kerja dan akurasi data, dan mewunjdkan penggunaan informasi lebih efektif.

Detail Bisnis

Produk kami adalah ERP sistem namanya Hanafirst, dan production scheduler yang hari ini saya akan mengenalkan, Asprova.

Fungsi production scheduler dalam aliran bisnis

Sekarang saya menjelaskan efeknya membuat Production Schedule Memakai Asprova.

Ini gambaran production scheduler Asprova terletak di dalam business flow.

Pertama2 S/O yang kita dapat di-import untuk membuat production schedule sambil optimalkan kapasitas mesin supaya produksi paling berefek.

Hasilnya adalah production schedule dan purcahse schedule.

Produksi akan dilakukan berdsasarkan work order, kemudian hasil produksi dikoleksi supaya schedule berikutnya lebih akurat.

Secara otomatis membuat production schedule untuk setiap proses dan mesin

Ini mekanisme cara kerja production scheduler.

Dari customer dapat S/O atau Forecast.

Asprova membuat Master Production Schedule yaitu jadwal produksi F/G.

Kemudian Asprova break down Master Production Schedule dalam bentuk work order per process berdasarkan Bill Of Material, dan menunjukan start time dan end time berdasarkan kapasitas mesin.

Asprova menugaskan fungsi paling penting untuk meningkatkan efisiensi produksi dalam business flow.

 

Visualisasi proses manufaktur

Hasil schedule dapat ditampilkan pada Gantt chart untuk memeriksa alur kerja antar proses.

Transisi loading untuk setiap mesin

Menghitung loading mesin harian, mingguan, dan bulanan.

Periksa transisi inventory

Bisa memeriksa transisi stock F/G, Child Parts dan Material secara teori.

Pengurangan Lead Time

Biasanya membuat jadwal produksi memakai Excel, menggeser L/T fixed (biasanya 1 hari) per process, lalu meratakan hari yang over loading.

Asprova menghitung L/T berdasarkan cycle time, hasilnya pasti lebih pendek daripada hasil berdasarkan L/T fixed.

Pengurangan Stock

Asprova membuat schedule untuk menproduksi sesuai dengan process bottleneck, WIP stock berkurang pada proses sebelumnya.

Sekarang tidak perlu stock material yang banyak, hanya yang dibutuhkan untuk produksi sesuai dengan tact time di bottleneck.

Peningkatan Cash Flow

Jika L/T menjadi pendek, stock berkurang, otomatis cash flow ditingkatkan, karena lebih banyak waktu dapat diadakan dalam bentuk cash.

Visualisasi dari Sales Order hingga Produksi dan Purchase

Efek implementasi Asprova yang paling besar adalah visualisasi dari S/O hingga produksi dan purchase.

Halangan yang memisahkan proses menganggu aliran barang dan aliran informasi, yang menyebabkan L/T melambat dan stock dalam proses meningkat.

Asprova membuat aliran dalam operation dengan menghubungkan proses.

Konfigurasi Biasa Operasional Production Scheduler

Selanjutnya, saya ingin memperkenalkan aplikasi bisnis produksi smartphone yang dikembangkan dengan Google AppSheet, yang dapat segera dimulai.

Sebelumnya ini konfigurasi biasa implementasi Asprova di dalam network perusahaan.

Untuk membuat schedule memakai Asprova, sebelumnya kita perlu master, sales order dan current stock.

Kemudian kita input actual result sesuai work order dari Asprova supaya schedule berikutnya lebih akurat.

Biasanya kita cek actual result sudah tercapai samapi mana dengan plan, jadi membuat report plan vs actual harian.

Fungsi tersebut ini semua sudah dikembangkan di dalam sistem.

Jika sudah ada sistem ERP seperti production control, inventory dll, data tersebut sudah ada di DB, jadi kami tinggal sediakan interface di antara ERP dan Asprova.

Production scheduler Asprova mendukung pengurangan stock dan peningkatan efisiensi produksi dengan mengatur aliran yang menghubungkan orang, barang, dan sumber daya.

Apa DX yang diperlukan pada pandemi Corona?

Ngomong2 seminar hari ini temanya "DX(Digital Transformation)". Ini istilah yang menjadi terkenal pada pandemi Corona.

Pabrik mengurangi produksi karena konsumsi berkurang asal PSBB(PPKM darurat) batasi pergerakan orang.

Sekarang semua pabrik perlu peningkatan efisiensi produksi dalam operation time yang lebih pendek, dan paperless berdasarkan protocol Kesehatan.

DX itu bukan hanaya menggantikan manual operation ke sistem, tapi berdasarkan teknorogi IT akan dapat melakukan hal-hal yang lebih nyaman.

Dengan peningkatan kualitas layanan cloud seperti Google, akan digunakan secara aktif dalam operasi perusahaan.

Kali ini mengunakan Android yang semua orang sudah punya untuk operasi perusahaan, bisa memungkinkan bisnis dengan mudah dan lancar kapan saja, di mana saja.

Konfigurasi Sistem Menggunakan Google

Kali ini tidak menbangung sistem internal, tapi akan menggunakan Google Spreadsheets dan layanan cloud Google yang disebut AppSheet untuk mewujudkan "DX yang dapat dilakukan mulai hari ini".

Pertukaran data antara production scheduler darat dan Google di cloud menggunakan ODBC driver, namanya CDATA.

Pertama2 membuat work order dengan Asprova, kedua
Upload work order ke Google Spreadsheet melalui CDATA.

Kemudian input actual result dari screen Android yang dibuat dengan AppSheet, terakhir download actual result dari Google Spreadsheet melalui  CDATA lagi.

Koneksi Asprova ke Google Spreadsheet dengan ODBC

CDATA itu sejenis ODBC driver.

Setelah install CDATA untuk Google Spreadsheet, akan ditampilkan "CDATA ODBC driver for Google Sheets" di layar settingan ODBC Windonws.

Tinggal setting nama dan URL Spreadsheets, aplikasi di PC bisa koneksi dengan Google Spreadsheets.

Kalau memakai CDATA, mudah diatur koneksi sama seperti ODBC biasa, jadi saya pikir free trial satu bulan sudah cukup untuk memastikan bisa digunakan atau tidak.

Meluncurkan AppSheet dari Google Sheets dan membuat screen untuk input actual result dari Android.

Sesudah upload work order ke Google Spreadsheet, input actual result bisa dari Android smartphone.

Bisa develop aplikasi Andoroid sangat mudah jika memakai AppSheets.

Konversi work order number di cell Google Sheets ke QR code, lalu scan dari Android.

Membuat screen Android untuk scan QR dari work order di Google Sheets dan input actual result.

AppSheet adalah tool pengembangan aplikasi tanpa kode yang disediakan oleh Google sehingga siapa pun dapat mengembangkan aplikasi smartphone tanpa programing.

Kali ini, dengan klik work order yang ditampilkan pada kalender di smartphone, kami akan memanggil work order tertentu dan input hasil produksi.

Demo