{"id":94356,"date":"2019-12-15T08:57:23","date_gmt":"2019-12-15T01:57:23","guid":{"rendered":"https:\/\/bahtera.jp\/mes\/"},"modified":"2026-08-08T15:24:17","modified_gmt":"2026-08-08T08:24:17","slug":"mes","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/mes\/","title":{"rendered":"Evolusi dan Tantangan DX Manufaktur dan Industri 4.0"},"content":{"rendered":"<p>Konsep pabrik pintar adalah perwujudan dari Industri 4.0 melalui digitalisasi manufaktur. Secara spesifik, peningkatan efisiensi produksi dan pengurangan biaya manufaktur dicapai melalui MES (Sistem Eksekusi Manufaktur), sementara otomatisasi didorong oleh MOM (Manajemen Operasi Manufaktur).<\/p>\n\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/manajemen-produksi\/\" class=\"st-cardlink\" aria-label=\"Sistem Manajemen Produksi di Indonesia\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"kanren st-cardbox\" >\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<dl class=\"clearfix\">\r\n\t\t\t\t\t\t<dt class=\"st-card-img\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-150x150.png\" class=\"attachment-st_thumb150 size-st_thumb150 wp-post-image\" alt=\"Diagram terstruktur sistem manajemen produksi dan DX manufaktur di Indonesia\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-150x150.png 150w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-100x100.png 100w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dt>\r\n\t\t\t\t\t\t<dd>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"st-cardbox-t\">Sistem Manajemen Produksi di Indonesia<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"st-card-excerpt smanone\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Prioritas utama dalam industri manufaktur adalah peningkatan produktivitas dan kepatuhan terhadap tenggat waktu. Memahami perbedaan antara biaya produksi,\u2026<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"cardbox-more\">\u7d9a\u304d\u3092\u898b\u308b<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dd>\r\n\t\t\t\t\t<\/dl>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/a>\r\n\t\t\t\t\n<div class=\"article-point\" id=\"key-takeaways\">\n<h2 class=\"article-point-title\">Yang dipelajari dari artikel ini<\/h2>\n<ul>\n<li>Pabrik pintar adalah perwujudan Industri 4.0, dengan MES dan MOM memainkan peran penting.<\/li>\n<li>Transisi dari ERP ke MES dan kemudian ke MOM mendorong otomatisasi dan efisiensi di lantai produksi.<\/li>\n<li>MES memiliki 11 fungsi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya manufaktur.<\/li>\n<li>Industri manufaktur Indonesia bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing internasional melalui Making Indonesia 4.0.<\/li>\n<li>Digitalisasi dan IoT menghilangkan kesalahan penyalinan saat implementasi sistem bisnis, meningkatkan efisiensi.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p><script type=\"application\/ld+json\" id=\"wprestapi-ai-jsonld\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/mes\/#article\",\"headline\":\"Evolusi dan Tantangan DX Manufaktur dan Industri 4.0\",\"description\":\"Pabrik pintar adalah perwujudan Industri 4.0, dengan MES dan MOM memainkan peran penting. Transisi dari ERP ke MES dan kemudian ke MOM mendorong\u2026\",\"mainEntityOfPage\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/mes\/\"},\"inLanguage\":\"id\",\"datePublished\":\"2019-12-15T08:57:23\",\"dateModified\":\"2026-08-08T14:43:50\",\"author\":{\"@type\":\"Person\",\"name\":\"yamazou\"}},{\"@type\":\"ItemList\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/mes\/#key-takeaways\",\"name\":\"Yang dipelajari dari artikel ini\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Pabrik pintar adalah perwujudan Industri 4.0, dengan MES dan MOM memainkan peran penting.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Transisi dari ERP ke MES dan kemudian ke MOM mendorong otomatisasi dan efisiensi di lantai produksi.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"MES memiliki 11 fungsi yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya manufaktur.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Industri manufaktur Indonesia bertujuan untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan daya saing internasional melalui Making Indonesia 4.0.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Digitalisasi dan IoT menghilangkan kesalahan penyalinan saat implementasi sistem bisnis, meningkatkan efisiensi.\"}]}]}<\/script><\/p>\n<h2>Transisi dari ERP ke MES dan kemudian ke MOM<\/h2>\n<p>Dari tanggal 4 hingga 7 Desember 2019, pameran manufaktur terbesar di Indonesia, &#8220;Manufacturing Indonesia 2019&#8221;, diadakan di JIExpo Kemayoran. Kami memamerkan Asprova, penjadwal produksi, namun karena penurunan industri kendaraan roda dua dan empat di Indonesia, pengunjung terasa lebih sedikit dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.<\/p>\n<p>Namun, banyak orang dari negara-negara Asia seperti Singapura dan Korea datang untuk menjual sistem terkait IoT dan otomatisasi pabrik.<\/p>\n<p>Pembicaraan mereka umumnya menekankan pergeseran sistem manufaktur dari ERP (Enterprise Resource Planning) ke MES (Manufacturing Execution System).<\/p>\n<p>ERP adalah sistem yang mengintegrasikan fungsi bisnis seperti manajemen produksi, perencanaan produksi, manajemen penjualan dan pembelian, serta manajemen inventaris, sementara MES berfokus pada manajemen tingkat lantai produksi seperti manusia dan mesin.<\/p>\n<p>Ke depan, diharapkan akan ada transisi ke MOM (Manajemen Operasi Manufaktur) yang mengintegrasikan proses produksi seperti perencanaan, penjadwalan, manajemen produksi, manajemen waktu kerja, dan manajemen kualitas, serta mendorong otomatisasi dan pengoperasian tanpa awak.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Transisi dari ERP ke MES hingga MOM\" class=\"alignleft wp-image-102399\" height=\"244\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/prod-child-1-1274.png-id.png\" width=\"488\"\/> <\/p>\n<p>Di Indonesia, istilah MES sering kali diartikan sebagai terminal lantai produksi untuk memasukkan hasil produksi dan waktu kerja. Oleh karena itu, ketika ditanya &#8220;Apakah penjadwal produksi adalah salah satu fungsi MES?&#8221;, awalnya saya menjawab &#8220;TIDAK&#8221;. Namun, setelah menyadari bahwa MES merujuk pada reorganisasi fungsi sistem ERP dari sudut pandang lantai produksi, saya mulai menjawab &#8220;YA&#8221;.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Dalam solusi pabrik pintar yang diusulkan oleh vendor IT manufaktur Singapura untuk mewujudkan Industri 4.0, teknologi IoT digunakan untuk mengumpulkan informasi lantai produksi secara real-time dari PLC (Programmable Logic Controller). Dengan demikian, hanya dengan mengatur rencana produksi, semua proses dari produksi hingga penggantian mesin saat terjadi NG dapat diotomatisasi dan dioperasikan tanpa awak, menunjukkan bahwa sistem manufaktur berada dalam masa transisi tren.<\/p>\n<p class=\"field-generalization\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:0 0 22px;padding:10px 14px 10px 16px;background:#f5f9fc;border-left:4px solid #2f80ed;border-radius:0 6px 6px 0;color:#1f2937;line-height:1.7;\">Poin utama: Pengumpulan informasi lantai produksi secara real-time dengan PLC dan IoT, serta otomatisasi yang terintegrasi dengan rencana, menunjukkan masa transisi dari MES ke MOM.<\/p>\n<p>Jika tujuan dari sistemisasi adalah penghematan tenaga kerja, efisiensi, dan pencegahan kesalahan, maka DX bukanlah penggantian sistem yang ada, melainkan reformasi bisnis yang memungkinkan &#8220;hal-hal yang lebih nyaman dapat dilakukan dengan menggunakan IT&#8221;. Untuk melakukan reformasi bisnis, reformasi operasi lantai produksi sangat penting, dan dengan membuat konsep yang memanfaatkan IT untuk mereformasi operasi lantai produksi, perbaikan bisnis dan peningkatan keuntungan dapat dicapai, yang merupakan makna mendalam dari DX.<\/p>\n<p>Konsep pabrik pintar yang diwujudkan melalui DX manufaktur adalah Smart Factory, tetapi karena istilah sistem manajemen produksi dan sistem eksekusi tradisional telah direorganisasi dan didefinisikan ulang, konsep ini menjadi sangat sulit dipahami.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Kata &#8220;Smart Factory&#8221; yang sering terlihat di situs web Jepang sering kali tidak mendapatkan reaksi yang baik dari orang-orang luar negeri, karena ternyata itu adalah istilah buatan Jepang yang tidak dipahami di negara lain.<\/p>\n<p class=\"field-generalization\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:0 0 22px;padding:10px 14px 10px 16px;background:#f5f9fc;border-left:4px solid #2f80ed;border-radius:0 6px 6px 0;color:#1f2937;line-height:1.7;\">Poin utama: Smart Factory adalah istilah buatan Jepang yang mungkin tidak dipahami di luar negeri.<\/p>\n<h2>Definisi Baru MES<\/h2>\n<p>Menurut MESA, organisasi promosi MES di Amerika Serikat, MES berada di antara lapisan ERP dan PLC, memberikan instruksi kerja kepada pekerja berdasarkan jadwal produksi, memantau pergerakan bahan baku dan barang dalam proses secara real-time, dan terhubung langsung dengan peralatan produksi untuk memahami status operasi dan kejadian abnormal.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>ERP: Manajemen unit proses, unit departemen \u21d2 Manajemen informasi yang akurat (pergerakan barang)<\/li>\n<li>MES: Manajemen unit mesin, unit kerja \u21d2 Peningkatan efisiensi produksi dan pengurangan biaya manufaktur (waktu kerja manusia, status operasi mesin)<\/li>\n<li>MOM: Pengembangan otomatisasi MES<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Perbedaan antara ERP dan MES terletak pada unit manajemennya, tetapi untuk meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya manufaktur, MES mengumpulkan dan mengelola informasi tingkat lantai produksi, sementara MOM mendorong otomatisasi melalui digitalisasi dan menuju pabrik pintar.<\/p>\n<p>MES didefinisikan memiliki 11 fungsi. Penjadwalan kerja, alokasi dan pemantauan sumber daya produksi, penugasan kerja, dan instruksi produksi adalah bidang yang dikuasai oleh penjadwal produksi tradisional, sementara yang lainnya adalah informasi yang dikelola oleh ERP yang disusun ulang pada tingkat kerja lantai produksi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Penjadwalan kerja (Operations\/Detail Sequencing)<\/li>\n<li>Alokasi dan pemantauan sumber daya produksi (Resource allocation and status)<\/li>\n<li>Penugasan kerja dan instruksi produksi (Dispatching production unit)<\/li>\n<li>Analisis kinerja (Performance analysis)<\/li>\n<li>Manajemen pemeliharaan (Maintenance management)<\/li>\n<li>Manajemen proses (Process management)<\/li>\n<li>Manajemen kualitas (Quality management)<\/li>\n<li>Pengumpulan data (Data collection\/acquisition)<\/li>\n<li>Pelacakan produk dan manajemen silsilah produksi (Production tracking and genealogy)<\/li>\n<li>Manajemen tenaga kerja (Labor management)<\/li>\n<li>Kontrol dokumen (Document control)<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Perkembangan MES dan MOM adalah peningkatan manajemen informasi, dan pada akhirnya harus mengarah pada &#8220;pengiriman produk berkualitas tepat waktu&#8221;. Transformasi menjadi pabrik pintar melalui DX adalah salah satu strategi nasional penting untuk meningkatkan daya saing ekspor negara, dan negara-negara berkembang di dunia mendefinisikan ulang Industri 4.0 sesuai dengan kondisi negara mereka sendiri, berupaya meningkatkan nilai tambah manufaktur dan memperkuat daya saing internasional.<\/p>\n<h2>Banyaknya Orang Indonesia yang Berbahasa Jepang<\/h2>\n<div><img decoding=\"async\" alt=\"Jumlah orang Indonesia yang berbicara bahasa Jepang\" class=\"alignleft wp-image-102405\" height=\"254\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/prod-child-1-1275.png-id.png\" width=\"508\"\/><\/p>\n<p>Dalam pameran manufaktur kali ini, kami memiliki stan di salah satu sudut paviliun Jepang JETRO. Karena itu, banyak pengunjung dari perusahaan manufaktur dan jasa Jepang yang bekerja di Indonesia, dan saya terkejut dengan banyaknya orang yang fasih berbahasa Jepang.<\/p>\n<p>Perusahaan Jepang di Indonesia memiliki aspek galapagos yang menekankan praktik bisnis berdasarkan hubungan kepercayaan dari pencapaian masa lalu dan hanya menggunakan bahasa Jepang. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa Jepang menjadi peluang besar bagi orang Indonesia, menciptakan pasar yang unik.<\/p>\n<\/div>\n<p>Orang Indonesia yang fasih berbahasa Jepang yang mengunjungi stan kami dengan senang hati berbagi bahwa mereka &#8220;tinggal di Osaka selama 3 tahun&#8221; atau &#8220;pernah menjadi peserta magang di Hamamatsu&#8221;. Namun, sering kali masalah seperti kerja keras dan gaji yang tidak dibayar dalam program magang menjadi sorotan, sehingga saya ragu untuk bertanya &#8220;Apakah Anda menikmati hidup di Jepang?&#8221;.<\/p>\n<p>Untungnya, orang Indonesia yang saya ajak bicara kali ini berbagi kenangan menyenangkan mereka di Jepang. Dengan meningkatkan kemampuan bahasa Jepang sebagai peserta magang, mereka tetap tinggal di Jepang, menjadi pemandu wisata kota atau penerjemah, yang tampaknya mempengaruhi pasar bisnis inbound.<\/p>\n<h2>Upaya Konkret terhadap Industri 4.0: Making Indonesia 4.0<\/h2>\n<p>Industri 4.0 adalah gerakan global yang mendorong revolusi industri keempat dengan memanfaatkan teknologi IT. Ini bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas dengan memindahkan teknologi IT yang berpusat pada perangkat lunak ke perangkat keras, menghubungkan perangkat keras dan jaringan untuk memungkinkan pengumpulan dan analisis data yang cepat dan akurat.<\/p>\n<p>Di Indonesia, Kementerian Perindustrian mengumumkan &#8220;Making Indonesia 4.0&#8221; pada April 2018 sebagai upaya untuk mencapai Industri 4.0, dengan tujuan masuk ke dalam 10 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2030. Ini mencakup 10 prioritas nasional.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ol>\n<li>Peningkatan aliran bahan baku:\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Penciptaan nilai tambah melalui pengolahan domestik<\/li>\n<li>Peningkatan tingkat pengadaan lokal bahan baku oleh perusahaan domestik.<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/li>\n<li>Perancangan ulang kawasan industri:\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Konsep sabuk industri otomotif Jawa Utara sepanjang jalan tol yang diperpanjang hingga Jawa Timur.<\/li>\n<li>Pengembangan pelabuhan baru Patimban di Subang, Jawa Barat (direncanakan 2023) untuk mengurangi konsentrasi di Pelabuhan Tanjung Priok<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/li>\n<li>Penyusunan standar untuk keberlanjutan:<\/li>\n<li>Pemberdayaan usaha kecil dan menengah:<\/li>\n<li>Pembangunan dan penguatan infrastruktur digital nasional:<\/li>\n<li>Menarik investasi asing:<\/li>\n<li>Peningkatan kemampuan tenaga kerja industri:<\/li>\n<li>Dukungan ekosistem:\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>R&amp;A (penelitian dan pengembangan) oleh pemerintah, swasta, dan universitas<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/li>\n<li>Penerapan insentif untuk investasi pengembangan teknologi:<\/li>\n<li>Pelonggaran kebijakan dan regulasi:<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<p>Pada tahun 2000-an, industri manufaktur Indonesia gagal beralih ke teknologi intensif, dan kontribusi manufaktur terhadap PDB menurun dari 20% di bawah rezim Suharto menjadi 16%. Making Indonesia 4.0 bertujuan untuk merevitalisasi industri manufaktur, meningkatkan kontribusi terhadap PDB menjadi 25% pada tahun 2030, dan meningkatkan tingkat pertumbuhan ekonomi dari 5% menjadi 6-7%.<\/p>\n<h2>Bagaimana Pekerjaan Implementasi Sistem Bisnis Berubah dengan Digitalisasi dan IoT<\/h2>\n<p>Digitalisasi dan IoT membawa perubahan besar dalam pekerjaan implementasi sistem bisnis. Pertama, digitalisasi melibatkan EDI (Electronic Data Interchange) untuk P\/O dan faktur, serta pengumpulan hasil produksi melalui input tablet atau pencatatan otomatis dari pengendali sekuensial. Ini menghilangkan kesalahan penyalinan saat memasukkan informasi tertulis ke dalam sistem.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Kesalahan penyalinan saat memasukkan informasi tertulis ke dalam sistem. \u21d2 Digitalisasi<\/li>\n<li>Kesalahan input ke dalam sistem. \u21d2 IoT<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Digitalisasi dapat diwujudkan sebagai bagian dari perbaikan bisnis, sepenuhnya menghilangkan kemungkinan kesalahan penyalinan. Namun, untuk menghilangkan kesalahan input ke dalam sistem, diperlukan IoT pada lini produksi. Ini menuntut penghapusan total pekerjaan input informasi oleh manusia.<\/p>\n<p>Pengaruh Industri 4.0 mengubah konten implementasi sistem bisnis. Dengan IoT, informasi yang diperlukan untuk perbaikan bisnis dikumpulkan dengan cepat dan akurat, dan pengembangan antarmuka sistem diperlukan. Selain itu, sistem yang memanfaatkan analisis dan visualisasi data secara efektif untuk perbaikan bisnis diperlukan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Pengumpulan dan integrasi informasi penting. Dengan IoT, informasi dikumpulkan dengan cepat, sehingga pengembangan antarmuka sistem diperlukan.<\/li>\n<li>Analisis dan visualisasi informasi diperlukan. Pengumpulan hasil produksi secara real-time dan inventarisasi dengan tag RFID menjadi mungkin, sehingga visualisasi data menjadi penting.<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Making Indonesia 4.0 bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah manufaktur Indonesia dan memperkuat daya saing internasional. Ini memerlukan peningkatan keandalan, fleksibilitas, dan responsivitas di seluruh rantai pasokan.<\/p>\n<p>Integrasi sistem dalam rantai pasokan diperlukan, dan sistem bisnis internal perusahaan harus dirancang dan diimplementasikan dengan mempertimbangkan hubungan dengan pemasok di hulu dan pelanggan di hilir dalam rantai pasokan.<\/p>\n<h2>Pertanyaan Umum | DX Manufaktur dan Industri 4.0<\/h2>\n<p>Berikut adalah jawaban singkat untuk pertanyaan yang sering muncul terkait isi artikel ini.<\/p>\n<h3>Apa perbedaan antara MES dan ERP?<\/h3>\n<p>MES berfokus pada manajemen tingkat lantai produksi, bertujuan meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi biaya manufaktur. Sementara itu, ERP adalah sistem yang mengintegrasikan fungsi bisnis seperti manajemen produksi dan manajemen inventaris. MES dianggap sebagai reorganisasi fungsi ERP dari sudut pandang lantai produksi.<\/p>\n<h3>Apa itu pabrik pintar?<\/h3>\n<p>Pabrik pintar adalah konsep Industri 4.0 yang diwujudkan melalui DX manufaktur. Dengan memanfaatkan MES dan MOM, otomatisasi dan pengoperasian tanpa awak dari proses produksi didorong untuk mencapai efisiensi dan penghematan tenaga kerja. Di Jepang, istilah &#8220;Smart Factory&#8221; digunakan, namun mungkin tidak dipahami di luar negeri.<\/p>\n<h3>Bagaimana upaya Indonesia terhadap Industri 4.0?<\/h3>\n<p>Indonesia mengumumkan &#8220;Making Indonesia 4.0&#8221; dengan tujuan masuk ke dalam 10 ekonomi terbesar dunia pada tahun 2030. Upaya ini mencakup peningkatan nilai tambah manufaktur dan memperkuat daya saing internasional, dengan target meningkatkan kontribusi terhadap PDB menjadi 25%.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Konsep pabrik pintar adalah perwujudan dari Industri 4.0 melalui digitalisasi manufaktur. MES dan MOM memainkan peran penting dalam otomatisasi dan\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":102296,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[688],"tags":[],"class_list":["post-94356","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia-production-control-system"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94356","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=94356"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94356\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":102679,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/94356\/revisions\/102679"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=94356"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=94356"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=94356"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}