{"id":68023,"date":"2012-08-21T07:55:57","date_gmt":"2012-08-21T00:55:57","guid":{"rendered":"https:\/\/bahtera.jp\/indonesia-accounting-system\/"},"modified":"2026-09-05T17:36:04","modified_gmt":"2026-09-05T10:36:04","slug":"indonesia-accounting-system","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/indonesia-accounting-system\/","title":{"rendered":"Poin Penting Implementasi Sistem Akuntansi dan Kepatuhan Pajak di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Saat mengimplementasikan sistem akuntansi di Indonesia, penting untuk memperhatikan perbedaan antara tarif pajak dan tarif transaksi bank sentral. Selain itu, persiapkan Faktur Pajak untuk pelaporan PPN dan pastikan waktu pencatatan pendapatan dan biaya berdasarkan akrual.<\/p>\n\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/sistem-akuntansi\/\" class=\"st-cardlink\" aria-label=\"Sistem Akuntansi di Indonesia\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"kanren st-cardbox\" >\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<dl class=\"clearfix\">\r\n\t\t\t\t\t\t<dt class=\"st-card-img\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-150x150.png\" class=\"attachment-st_thumb150 size-st_thumb150 wp-post-image\" alt=\"Diagram terstruktur sistem akuntansi di Indonesia dengan fokus SaaS, PSAK, dan otomatisasi jurnal\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-150x150.png 150w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-100x100.png 100w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dt>\r\n\t\t\t\t\t\t<dd>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"st-cardbox-t\">Sistem Akuntansi di Indonesia<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"st-card-excerpt smanone\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Sistem akuntansi di Indonesia mengalami peningkatan SaaS, namun tingkat adopsinya masih di bawah 8%. Alasan peluncuran terus-menerus sistem akuntansi\u2026<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"cardbox-more\">\u7d9a\u304d\u3092\u898b\u308b<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dd>\r\n\t\t\t\t\t<\/dl>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/a>\r\n\t\t\t\t\n<div class=\"article-point\" id=\"key-takeaways\">\n<h2 class=\"article-point-title\">Yang dipelajari dari artikel ini<\/h2>\n<ul>\n<li>Di Indonesia, penting untuk membedakan antara tarif pajak dan BI rate, dan mengatur kedua tarif tersebut dalam sistem akuntansi.<\/li>\n<li>Untuk pelaporan PPN, Faktur Pajak diperlukan, dengan tarif PPN 11% hingga 2024 dan 12% untuk beberapa barang mulai 2025.<\/li>\n<li>Sistem akuntansi yang sesuai dengan IFRS menggunakan pendekatan yang berfokus pada B\/S untuk memberikan informasi penilaian nilai perusahaan kepada investor dan kreditur.<\/li>\n<li>Saat mengimplementasikan sistem akuntansi, penting untuk merinci akun dan memastikan pemetaan yang jelas antara kode lama dan baru.<\/li>\n<li>Di Indonesia, pembuatan laporan arus kas tidak wajib, tetapi jika dihasilkan dari sistem, metode langsung dapat dengan mudah diimplementasikan.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p><script type=\"application\/ld+json\" id=\"wprestapi-ai-jsonld\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/indonesia-accounting-system\/#article\",\"headline\":\"Poin Penting Implementasi Sistem Akuntansi dan Kepatuhan Pajak di Indonesia\",\"description\":\"Di Indonesia, penting untuk membedakan antara tarif pajak dan BI rate, dan mengatur kedua tarif tersebut dalam sistem akuntansi. Untuk pelaporan PPN\u2026\",\"mainEntityOfPage\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/indonesia-accounting-system\/\"},\"inLanguage\":\"id\",\"datePublished\":\"2012-08-21T07:55:57\",\"dateModified\":\"2026-09-04T13:09:36\",\"author\":{\"@type\":\"Person\",\"name\":\"yamazou\"}},{\"@type\":\"ItemList\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/indonesia-accounting-system\/#key-takeaways\",\"name\":\"Yang dipelajari dari artikel ini\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Di Indonesia, penting untuk membedakan antara tarif pajak dan BI rate, dan mengatur kedua tarif tersebut dalam sistem akuntansi.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Untuk pelaporan PPN, Faktur Pajak diperlukan, dengan tarif PPN 11% hingga 2024 dan 12% untuk beberapa barang mulai 2025.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Sistem akuntansi yang sesuai dengan IFRS menggunakan pendekatan yang berfokus pada B\/S untuk memberikan informasi penilaian nilai perusahaan kepada investor dan kreditur.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Saat mengimplementasikan sistem akuntansi, penting untuk merinci akun dan memastikan pemetaan yang jelas antara kode lama dan baru.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Di Indonesia, pembuatan laporan arus kas tidak wajib, tetapi jika dihasilkan dari sistem, metode langsung dapat dengan mudah diimplementasikan.\"}]}]}<\/script><\/p>\n<h2>Tax rate\uff08\u7a0e\u52d9\u30ec\u30fc\u30c8\uff09\u3068BI rate\uff08\u53d6\u5f15\u30ec\u30fc\u30c8\uff09<\/h2>\n<p>Untuk perhitungan pajak transaksi dalam mata uang asing, wajib menggunakan Tax Rate yang diumumkan oleh Kantor Pajak setiap hari Rabu. Oleh karena itu, master kurs dalam sistem akuntansi harus memiliki dua kurs: BI (Bank Indonesia) rate dan Tax rate. BI rate terdiri dari TTS (jual), TTB (beli), dan TTM (tengah), dan tidak ada kasus di mana TTS dan TTB dipisahkan untuk transaksi jual dan beli.<\/p>\n<p>Misalnya, dalam transaksi rupiah di perusahaan dengan mata uang fungsional rupiah, ketika melakukan A\/P Entry dan A\/P Approval, PPN 11% dihitung secara otomatis, dan jurnal berikut dihasilkan secara otomatis sebagai Transfer voucher.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Rupiah Transaksi PPN <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Purchase Rp. 900,000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Rp. 900,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Jurnal PPN dihasilkan secara otomatis <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Prepaid VAT input Rp. 99,000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Rp. 99,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Jurnal PPN dilakukan dalam basis rupiah, sehingga tidak ada konversi mata uang yang terjadi dalam transaksi rupiah, baik mata uang fungsionalnya rupiah atau dolar. Namun, dalam transaksi mata uang asing seperti dolar, konversi mata uang berdasarkan Tax rate selalu terjadi pada bagian PPN.<\/p>\n<p>Misalnya, jika Tax rate adalah $1=Rp.10,500, maka $100\u00d711%x10,500=Rp.115,500 menjadi jurnal PPN untuk mata uang transaksi dan mata uang fungsional, tetapi untuk bagian transaksi, jika BI rate adalah $1=Rp.10,000, maka akan seperti berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Dolar Transaksi PPN <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Purchase $100\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P $100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Jurnal konversi mata uang fungsional dan jurnal PPN dihasilkan secara otomatis <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Purchase Rp.100,000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Rp.100,000 \u2190BI rate $1=Rp10,000<\/li>\n<li>(debit) Prepaid VAT input Rp.115,500\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Rp.115,500 \u2190Tax rate $1=Rp10,500<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Dalam kasus ini, perlu mendapatkan dua kurs dari master kurs, yaitu BI rate dan Tax rate, dari layar input utang, tetapi jika sulit dilakukan dalam sistem, ada tiga cara operasi untuk mengatasinya.<\/p>\n<h3>PPN dihitung manual<\/h3>\n<p>Sistem menggunakan BI rate dari master kurs untuk menghitung otomatis bagian transaksi dan PPN, tetapi bagian PPN dihitung manual dengan Tax rate dan dicatat dalam kolom catatan.<\/p>\n<h3>Memisahkan input bagian transaksi dan PPN<\/h3>\n<p>Dalam kasus ini, nomor voucher utang transaksi dan nomor voucher transfer jurnal PPN berbeda, sehingga perlu dikelola dengan menghubungkan menggunakan nomor faktur sebagai kunci.<\/p>\n<h3>Bagian PPN diubah secara massal pada akhir bulan<\/h3>\n<p>Saat transaksi terjadi, bagian PPN juga dihasilkan secara otomatis dalam mata uang asli transaksi, dan diubah secara massal pada akhir bulan.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Saat transaksi terjadi <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Purchase $100\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P $110<\/li>\n<li>(debit) VAT clearing $10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Jumlah Faktur Pajak dikumpulkan per bulan dan diubah secara massal.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Saat akhir bulan <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Prepaid VAT input Rp.105,000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) VAT clearing $10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h2>Faktur Pajak untuk Pelaporan PPN<\/h2>\n<p>Di Indonesia, sistem faktur digunakan, dan jumlah PPN dihitung berdasarkan Faktur Pajak. Indonesia menggunakan tarif PPN 11% hingga 2024, dan berubah menjadi 12% mulai Januari 2025. Namun, tarif 12% hanya berlaku untuk barang mewah tertentu.<\/p>\n<p>Dalam transaksi biasa, DPP (Dasar Pengenaan Pajak) dikalikan dengan 11\/12 untuk menghitung DPP nilai lain yang dikenakan PPN 12%, sehingga jumlah pajak sebenarnya sama dengan 11%.<\/p>\n<p>Dalam metode pembukuan, jumlah pajak dihitung dari jumlah yang tercatat dalam buku, sedangkan dalam metode faktur, jumlah pajak dihitung dari jumlah yang tercantum dalam faktur. Ini memudahkan perhitungan meskipun tarif pajak berbeda untuk setiap barang atau jasa. Saat pembayaran pajak atau pengajuan pengembalian, Faktur Pajak yang selalu menyertai faktur diperlukan.<\/p>\n<p>Faktur Pajak diterbitkan dari sistem e-Faktur sebelum 2024, dan dari sistem coretax online setelah 2025. Dengan demikian, tidak perlu mengembangkan formulir khusus dalam sistem akuntansi.<\/p>\n<h2>Kompatibilitas Sistem Akuntansi dengan IFRS<\/h2>\n<p>Standar akuntansi Jepang menekankan laporan laba rugi (P\/L), yang didasarkan pada ekonomi pertumbuhan tinggi, di mana prediksi masa depan dapat dibuat hanya dari laba rugi periode saat ini. Setelah membuat P\/L, item aset, kewajiban, dan ekuitas yang menjadi sumber pendapatan dan biaya untuk periode berikutnya dicatat sebagai neraca (B\/S) secara tambahan. Nilai evaluasi pajak cenderung digunakan sebagai nilai evaluasi akuntansi, dan diproses sebagai laba rugi khusus saat depresiasi selesai, yang disebut pendekatan pendapatan-biaya.<\/p>\n<p>Di sisi lain, standar akuntansi IFRS bertujuan untuk memberikan informasi yang diperlukan untuk penilaian nilai perusahaan kepada investor dan kreditur, dengan menilai aset tetap, aset keuangan yang dapat dijual, dan lainnya pada nilai pasar untuk membuat B\/S yang akurat. Ini memungkinkan untuk mengetahui apakah aset dapat menghasilkan arus kas di masa depan.<\/p>\n<p>Dalam konsolidasi, pelaporan keuangan berdasarkan IFRS wajib, tetapi untuk pajak, pelaporan keuangan harus dibuat berdasarkan standar masing-masing negara. Ini disebut pendekatan aset-kewajiban. Karena standar global, semua aturan didefinisikan dalam bahasa Inggris, dan persyaratan masing-masing negara tidak dipertimbangkan, termasuk pertimbangan pajak, dan didefinisikan dari perspektif global.<\/p>\n<p>Secara akuntansi, kompatibilitas IFRS diwajibkan untuk investor dan kreditur, tetapi kantor pajak mungkin tidak dapat menanganinya. Oleh karena itu, idealnya sistem akuntansi memiliki fungsi buku besar multi-standar.<\/p>\n<p>Kompatibilitas sistem dengan IFRS dapat diatasi dengan modifikasi sistem atau perubahan operasi. Berikut adalah hal-hal yang diusulkan kepada pelanggan saat mengimplementasikan sistem.<\/p>\n<h3>Pencatatan penjualan berdasarkan realisasi<\/h3>\n<p>Pencatatan penjualan dilakukan berdasarkan kriteria pengiriman atau penerimaan, dan timbulnya piutang bervariasi tergantung pada waktu penerbitan faktur. Berikut adalah contoh jurnal yang dihasilkan dalam kasus kriteria penerimaan.<\/p>\n<p>Dalam metode tripartit<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Saat pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>tidak ada jurnal<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Saat penerbitan faktur (setelah penerimaan oleh pelanggan) <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 100,000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Sales 100,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Dalam metode pencatatan berkelanjutan<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Saat pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R Accrued 60,000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Inventories 60,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Saat penerbitan faktur (setelah penerimaan oleh pelanggan) <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) COGS 60,000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/R Accrued 60,000<\/li>\n<li>(debit) A\/R 100,000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Sales 100,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Setelah pengiriman faktur, mungkin ada kasus di mana NG ditemukan saat inspeksi oleh pelanggan atau saat dimasukkan ke dalam proses produksi. Dalam kasus tersebut, berikut adalah cara untuk memperbaiki faktur yang sudah diterbitkan (A\/R yang sudah terjadi).<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Melakukan penyesuaian stok dengan pengeluaran barang pengganti dan penerimaan pengembalian tanpa mengubah faktur (Tukar guling).<\/li>\n<li>Membatalkan dan menerbitkan kembali faktur hanya untuk bagian yang OK.<\/li>\n<li>Melakukan pengembalian pengiriman setelah penerbitan faktur yang diperbaiki, dan mendaftarkan pesanan baru untuk bagian NG.<\/li>\n<li>Setelah proses penutupan, melakukan pengembalian pesanan dengan menerbitkan faktur negatif dan pengembalian pengiriman.<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Jika bagian NG dibuang oleh pelanggan dan hanya jumlah faktur yang diperbaiki, terbitkan Credit Note (kewajiban untuk membayar) dari perusahaan, dan minta pelanggan untuk menerbitkan Debit Note (hak untuk menerima) untuk memperbaiki.<\/p>\n<p>Dalam metode pencatatan berkelanjutan yang mengurangi inventaris secara real-time saat pengiriman, biaya penjualan dapat dicatat bersamaan dengan pengiriman, tetapi jika penerbitan faktur dilakukan setelahnya, untuk menjaga sinkronisasi antara inventaris dan akuntansi dari pengiriman hingga penerimaan selesai, dapat dikelola dengan akun A\/R Accrued (Pendapatan yang belum diterima).<\/p>\n<h3>Penyeragaman metode evaluasi inventaris<\/h3>\n<p>Perlu menyeragamkan metode evaluasi inventaris dalam perusahaan konsolidasi, dan umumnya mengikuti metode kantor pusat Jepang. Metode yang diakui oleh IFRS adalah metode FIFO, metode rata-rata bergerak, metode biaya standar (metode harga standar), dan metode rata-rata tertimbang, sedangkan metode LIFO tidak diakui.<\/p>\n<h3>Pengelolaan terpisah antara inventaris aktual dan inventaris akuntansi<\/h3>\n<p>Dengan melakukan inventarisasi akhir bulan, biaya penjualan ditentukan, dan meskipun inventaris berkurang karena pengiriman selama bulan tersebut, secara akuntansi tetap pada saldo awal bulan, sehingga ketidakcocokan ini dikelola sebagai aset pendapatan yang belum direalisasi (pendapatan yang belum diterima) dalam laporan pembantu.<\/p>\n<p>Dalam kasus ini, tidak ada jurnal transaksi inventaris yang dihasilkan saat pengiriman, dan saldo awal dan saldo akhir bulan diganti secara batch pada akhir bulan untuk menentukan inventaris, dan biaya penjualan dihitung dengan metode tripartit (saldo awal + pembelian &#8211; saldo akhir), dan laba periode saat ini ditentukan.<\/p>\n<h3>Revaluasi aset tetap (penanganan manual)<\/h3>\n<p>Dalam IFRS, perlu untuk melakukan revaluasi aset tetap setiap tahun fiskal, dan meninjau metode depresiasi dan umur manfaat. Misalnya, saat menghitung nilai kendaraan saat warisan aset, nilai pasar mungkin 20 juta yen meskipun nilai pajak adalah 0 yen. Di Jepang, standar pajak juga diadopsi secara akuntansi, dan revaluasi tidak dilakukan secara berkala, sehingga kasus seperti ini berkurang dengan revaluasi berkala. Namun, ini lebih merupakan masalah operasional daripada perbaikan dalam sistem akuntansi.<\/p>\n<h3>Laporan arus kas (metode langsung) wajib<\/h3>\n<p>Di Indonesia, laporan arus kas tidak wajib dan sering tidak dibuat, tetapi jika dihasilkan dari sistem, metode langsung dapat dengan mudah diimplementasikan dengan mendapatkan data dari GL menggunakan kode arus kas yang ditetapkan saat input transaksi.<\/p>\n<h3>Buku besar multi-standar<\/h3>\n<p>Pajak tetap menggunakan standar masing-masing negara, tetapi laporan keuangan konsolidasi dilakukan sesuai IFRS (berorientasi B\/S). Secara akuntansi, kompatibilitas IFRS diwajibkan untuk investor dan kreditur, tetapi kantor pajak mungkin tidak dapat menanganinya.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, idealnya sistem akuntansi memiliki fungsi buku besar multi-standar, yang secara spesifik berarti mengelola data jurnal akuntansi secara terpisah, dan dapat memilih apakah akan menggabungkan saat output.<\/p>\n<h2>Subdivisi akun<\/h2>\n<p>Saat mengimplementasikan sistem akuntansi, akun (Chart Of Account = COA) sangat penting. Bagi perusahaan yang telah menggunakan jasa pencatatan akuntansi dari konsultan akuntansi, ini adalah kesempatan yang baik untuk meninjau sistem kode mereka sendiri. Namun, jika pemetaan antara kode lama dan baru tidak jelas, akan ada kesulitan dalam menetapkan saldo awal dan membandingkan neraca percobaan (Trial balance = T\/B).<\/p>\n<p>Konsultan akuntansi melakukan banyak pencatatan akuntansi, sehingga untuk meningkatkan efisiensi kerja, mereka menggunakan metode pencatatan yang paling umum. Misalnya, meskipun impor bahan dari Jepang dikelola sebagai barang dalam perjalanan (Goods-In-transit = GIT) dalam transaksi FOB (Free On Board), pencatatan oleh konsultan akuntansi mungkin tidak sesuai dengan itu.<\/p>\n<p>Akun biasanya terdiri dari kombinasi akun utama 3-4 digit dan akun tambahan 3 digit, dan untuk kas dan bank, akun tambahan biasanya dibagi berdasarkan mata uang untuk kas, dan &#8220;bank + mata uang&#8221; untuk deposito. Buku besar (General Ledger = G\/L) memiliki kode departemen, kode mitra, dan kode mata uang yang menyertainya, sehingga tidak perlu membagi akun piutang (A\/R) dan utang (A\/P) berdasarkan departemen, mata uang, atau mitra, tetapi lebih sering dikelompokkan berdasarkan karakteristik mitra.<\/p>\n<p>Namun, jika sistem akuntansi yang diimplementasikan memiliki batasan seperti memiliki template laporan manajemen berdasarkan departemen dari menu laporan laba rugi (P\/L), tetapi hanya dapat mengambil jumlah dari akun biaya untuk laporan biaya, maka mungkin perlu membagi akun pendapatan seperti penjualan berdasarkan mitra. Meskipun perangkat lunak akuntansi sering dikatakan serupa, batasan fungsional seperti ini dianggap sebagai karakteristik unik dari paket tersebut.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Sampel Akun\" class=\"aligncenter wp-image-8927 size-full\" height=\"584\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa12.jpg\" width=\"640\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa12.jpg 640w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa12-300x273.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa12-100x91.jpg 100w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa12-320x292.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/> <img decoding=\"async\" alt=\"COA\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8928\" height=\"547\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21.jpg\" width=\"640\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21.jpg 640w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21-300x256.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21-100x85.jpg 100w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21-78x68.jpg 78w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa21-320x273.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 640px) 100vw, 640px\" \/> <img decoding=\"async\" alt=\"COA\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8929\" height=\"536\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3.jpg\" width=\"638\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3.jpg 638w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3-300x252.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3-100x84.jpg 100w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3-120x100.jpg 120w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa3-320x268.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 638px) 100vw, 638px\" \/> <img decoding=\"async\" alt=\"COA\" class=\"aligncenter size-full wp-image-8930\" height=\"606\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa4.jpg\" width=\"639\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa4.jpg 639w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa4-300x284.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa4-100x94.jpg 100w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa4-320x303.jpg 320w\" sizes=\"(max-width: 639px) 100vw, 639px\" \/> <\/p>\n<h2>Balance Sheet (B\/S) dan Profit and Loss Statement (P\/L) Balance<\/h2>\n<p>Jurnal akuntansi dimulai saat perusahaan didirikan, dan saat modal pribadi disetor, itu menjadi aset perusahaan dan dicatat dalam B\/S. Ini adalah momen ketika uang pribadi menjadi aset perusahaan.<\/p>\n<p>Misalnya, ketika seorang asing mendirikan perusahaan terbatas (PT) di Indonesia dengan menyetor modal pribadi sebesar 60 juta rupiah, dan direktur Indonesia (Direktur) dan komisaris (Komisaris) menjadi pemegang saham, saat rasio pemegang saham terdaftar dalam sertifikat pendirian perusahaan (AKTA Pendirian Perseroan Terbatas), itu menjadi aset perusahaan dan dimasukkan dalam modal saham dalam B\/S pendirian.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Bank 60,000,000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Capital 60,000,000<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Modal saham adalah modal hukum yang disetor oleh pemegang saham, dan modal cadangan (Legal capital surplus) serta laba ditahan (Retained earning = Earned surplus) termasuk dalam ekuitas bersih (Net Asset). Kewajiban yang harus dibayar adalah kewajiban (Liabilities), dan yang tidak adalah ekuitas bersih.<\/p>\n<p>Kewajiban dibagi menjadi kewajiban lancar (Current Liabilities) dan kewajiban jangka panjang (Fixed Liabilities) berdasarkan batas waktu satu tahun.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Aset = Kewajiban + Ekuitas Bersih<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Saat perusahaan didirikan, hanya ada aset dan ekuitas bersih dalam B\/S, tetapi ketika berbagai biaya terjadi dan penjualan pertama terjadi, akun P\/L diperlukan dan seimbang dengan rumus berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Aset + Biaya = Kewajiban + Ekuitas Bersih + Pendapatan<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h2>Proses Penetapan Akun<\/h2>\n<p>Kode akun dimulai dengan aset (angka 1), kewajiban (angka 2), ekuitas bersih (angka 3), kemudian pendapatan (angka 4). Setelah itu, biaya (angka 5~) dibagi menjadi biaya produksi langsung, biaya produksi tidak langsung, biaya penjualan dan administrasi, dan sebagainya.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Pembagian Akun\" class=\"alignnone wp-image-19572 size-full\" height=\"106\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa11-1.jpg\" width=\"321\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa11-1.jpg 321w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa11-1-300x99.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa11-1-304x100.jpg 304w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/coa11-1-282x93.jpg 282w\" sizes=\"(max-width: 321px) 100vw, 321px\" \/> <\/p>\n<h3>1. Penyisihan Piutang Tak Tertagih (Allowance for Doubtful)<\/h3>\n<p>Ini adalah akun untuk amortisasi kerugian aset lancar. Dalam metode tidak langsung, dicatat sebagai aset negatif (angka 1) dalam jurnal penyesuaian akhir tahun, dan dicatat sebagai penyisihan piutang tak tertagih di bawah piutang dalam B\/S, serta dicatat sebagai biaya positif (angka 6) dalam P\/L sebagai penyisihan piutang tak tertagih dalam biaya penjualan dan administrasi umum.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Penyisihan Piutang Tak Tertagih (biaya positif)\u3000(kredit) Penyisihan Piutang Tak Tertagih (aset negatif)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>2. Biaya Penyusutan (Depreciation)<\/h3>\n<p>Ini adalah akun untuk penyusutan aset tetap. Dalam metode tidak langsung, dicatat sebagai aset negatif (angka 1) dalam jurnal penyesuaian akhir tahun, dan dicatat sebagai biaya penyusutan kumulatif di bawah aset tetap (kecuali tanah) dalam B\/S, serta dicatat sebagai biaya positif (angka 6) dalam P\/L sebagai biaya penyusutan dalam biaya penjualan dan administrasi umum.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Biaya Penyusutan Peralatan (biaya positif)\u3000(kredit) Biaya Penyusutan Kumulatif Peralatan (aset negatif)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>3. Penyusutan Aset Tak Berwujud (Amortization)<\/h3>\n<p>Ini adalah akun untuk penyusutan aset tak berwujud. Dalam metode langsung, dicatat sebagai pengurangan aset dalam jurnal penyesuaian akhir tahun, dan dicatat sebagai biaya positif (angka 6) dalam P\/L sebagai penyusutan aset tak berwujud dalam biaya penjualan dan administrasi umum.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Penyusutan Aset Tak Berwujud (biaya positif)\u3000(kredit) Perangkat Lunak (aset)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>4. Penyisihan Gaji Pensiun (Estimated retirement)<\/h3>\n<p>Ini adalah akun untuk mengelola penyisihan untuk tunjangan pensiun yang akan terjadi di masa depan, dengan memperkirakan jumlah yang harus ditanggung dalam periode saat ini dan mencatatnya sebagai biaya periode saat ini. Dalam jurnal penyesuaian akhir tahun, dicatat sebagai kewajiban positif (angka 2) dalam B\/S sebagai penyisihan gaji pensiun, dan dicatat sebagai biaya positif (angka 6) dalam P\/L sebagai penyisihan gaji pensiun dalam biaya penjualan dan administrasi umum.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Penyisihan Gaji Pensiun (biaya positif)\u3000(kredit) Penyisihan Gaji Pensiun (kewajiban positif)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>5. Aset Ditangguhkan (Biaya Pengembangan &amp; Penelitian)<\/h3>\n<p>Bagian dari biaya yang dikeluarkan yang harus ditanggung di masa depan tidak dianggap sebagai biaya periode saat ini, tetapi ditangguhkan sementara sebagai aset, dan dialokasikan selama periode di mana efek biaya tersebut diharapkan terjadi. Karena biaya ini akan menghasilkan hasil di masa depan, untuk sementara ditempatkan sebagai aset dalam B\/S.<\/p>\n<h3>6. Akun Akrual (Pendapatan yang Belum Diterima &amp; Biaya yang Belum Dibayar)<\/h3>\n<p>Ini adalah akun untuk menangani kasus di mana ada perbedaan antara waktu penerimaan atau pembayaran tunai dan waktu pengakuan pendapatan atau biaya dalam perhitungan laba rugi, karena layanan yang diterima atau diberikan secara berkelanjutan menjadi pendapatan atau biaya seiring berjalannya waktu. Pendapatan yang belum diterima selain barang dagangan ditempatkan sebagai aset dalam B\/S, dan biaya yang belum dibayar ditempatkan sebagai kewajiban dalam B\/S.<\/p>\n<h3>7. Biaya Produksi dan Biaya Penjualan &amp; Administrasi<\/h3>\n<p>Objek perhitungan biaya adalah biaya produksi (angka 5) saja, dan biaya penjualan &amp; administrasi (angka 6) tidak termasuk dalam perhitungan biaya meskipun memiliki nama yang sama. Biaya bahan dan biaya outsourcing produksi dihitung dengan rata-rata bulanan dari data dalam modul manajemen produksi. Biaya tenaga kerja dan biaya dialokasikan sesuai dengan waktu kerja aktual, dan biaya penyusutan dialokasikan sesuai dengan volume produksi.<\/p>\n<h3>8. Pajak<\/h3>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Pajak Indonesia\" class=\"aligncenter wp-image-15354 size-full\" height=\"158\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/payable.gif\" width=\"1014\"\/> <\/p>\n<p>PPN dan pajak penghasilan atas pendapatan jasa domestik (PPh23) adalah set In (aset) dan Out (kewajiban), sedangkan pajak penghasilan pribadi (PPh21) hanya kewajiban.<\/p>\n<h4>PPN (Input-VAT-Prepaid sebagai aset &amp; Output-VAT Payable sebagai kewajiban)<\/h4>\n<p>Saat pembelian (In)<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Pch (pembelian) 100\u3000\u3000\u3000 (kredit) A\/P (utang) 110<\/li>\n<li>(debit) Input-VAT Prepaid (aset) 10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Saat penjualan (Out) <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) A\/R (piutang) 110\u3000 (kredit) Sales 100<\/li>\n<li>\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Output-VAT Payable (kewajiban) 10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h4>PPh23 (PPh23 Prepaid sebagai aset &amp; PPh23 Payable sebagai kewajiban)<\/h4>\n<div class=\"graybox\"> Penyelesaian A\/R (hak untuk membayar pajak kita yang dipotong oleh pelanggan) <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) Bank 108\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000 (kredit) A\/R (piutang) 110<\/li>\n<li>(debit) PPh23 Prepaid (aset) 2<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Penyelesaian A\/P (kewajiban untuk membayar pajak vendor yang kita potong) <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) A\/P (utang) 110\u3000\u3000(kredit) Bank 108<\/li>\n<li>\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) PPh23 Payable (kewajiban) 2<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h4>PPh21 (W\/H Tax21 sebagai kewajiban)<\/h4>\n<div class=\"graybox\"> Pembayaran gaji (kewajiban untuk membayar pajak karyawan yang dipotong oleh perusahaan) <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) Salary (gaji pokok) (kredit) Bank<\/li>\n<li>\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) PPh21 Payable (kewajiban)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>9. Persediaan (Supplies)<\/h3>\n<p>Barang habis pakai untuk keperluan kantor diakui sebagai biaya penjualan dan administrasi umum saat inventarisasi akhir tahun.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Saat pembelian <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) Supplies (persediaan)\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000\u3000 (kredit) Cash<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\"> Saat inventarisasi <\/p>\n<ul>\n<li>(debit) Supplies Expense (biaya persediaan)\u3000\u3000(kredit) Supplies (persediaan)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h2>Tujuan Proses Penutupan Akhir Tahun (Jurnal Penyesuaian dan Perhitungan Laba)<\/h2>\n<h3>1. Koreksi jumlah akun tanpa mitra transaksi<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<ol>\n<li>Depresiasi (metode tidak langsung) Pengurangan aset tetap (Fixed Asset) menjadi aset negatif (jumlah kumulatif) dan pengakuan sebagai biaya penjualan (produksi) atau biaya penjualan dan administrasi umum (peralatan kantor)<\/li>\n<li>Amortisasi (metode langsung) Pengakuan biaya penjualan dan administrasi umum untuk Aset Tetap Tak Berwujud<\/li>\n<li>Penyisihan Piutang Tak Tertagih Pengurangan piutang menjadi aset negatif dan pengakuan sebagai biaya penjualan dan administrasi umum (jumlah penyisihan)<\/li>\n<li>Penyisihan Gaji Pensiun Pengurangan piutang menjadi aset negatif dan pengakuan sebagai biaya penjualan dan administrasi umum (jumlah penyisihan)<\/li>\n<li>Stock Taking Persediaan (pengakuan biaya persediaan) Pengakuan bagian persediaan yang digunakan sebagai biaya persediaan (biaya penjualan dan administrasi umum)<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<h3>2. Perhitungan Biaya Penjualan (Cost Of Goods Sold)<\/h3>\n<p>Dalam metode tripartit, penerimaan inventaris selama bulan menggunakan akun pembelian (biaya), dan pada akhir bulan, biaya penjualan dihitung dengan &#8220;saldo awal + pembelian &#8211; saldo akhir&#8221;.<\/p>\n<p>1. Ganti saldo inventaris produk awal dan akhir dengan akun kontra.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Saldo Inventaris Produk Awal 50\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Produk 50<\/li>\n<li>(debit) Produk 30\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Saldo Inventaris Produk Akhir 30<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>2. Hitung biaya penjualan periode saat ini dengan mentransfer biaya produksi produk (COGM) dan biaya penjualan (COGS) ke akun biaya penjualan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Biaya Penjualan 50\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Saldo Inventaris Produk Awal 50<\/li>\n<li>(debit) Saldo Inventaris Produk Akhir 40\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Biaya Penjualan 40<\/li>\n<li>(debit) Biaya Penjualan 30\u3000\u3000\u3000\u3000Biaya Produksi Produk 30<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>3. Transfer semua akun P\/L (termasuk COGS) ke akun Income summary untuk menghitung Net income<\/h3>\n<p>Laba bersih periode saat ini dalam P\/L ditransfer ke EARNED SURPLUS (PRE-MONTH) dalam B\/S, dan kemudian ditransfer ke Retained Earning (laba ditahan). Sebelum menghitung laba bersih periode saat ini, laba kotor dihitung dalam akun Net Income, dan laba operasi dihitung dengan mengurangi biaya penjualan dan administrasi umum.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Laba Kotor &gt; Laba Operasi &gt; Laba Sebelum Pajak &gt; Laba Setelah Pajak (Laba Bersih Periode Saat Ini)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h2>Pengakuan Laba Rugi Berdasarkan Akrual (Kriteria Pengiriman dan Penerimaan)<\/h2>\n<p>Dalam standar akuntansi internasional (IFRS), pengakuan biaya berdasarkan akrual adalah dasar. Ada kriteria pengiriman dan penerimaan untuk pengakuan pendapatan berdasarkan akrual. Metode pengakuan laba rugi berdasarkan waktu pengakuan pendapatan atau biaya disebut Realization Basis (realisasi).<\/p>\n<h3>Metode Pencatatan Berkelanjutan (Kriteria Penerimaan)<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Inventories 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Accrued 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/P Accrued 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Shipment clearing 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Inventories 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Dalam kriteria penerimaan, penjualan dicatat setelah penerimaan selesai oleh pelanggan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 120\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Sales 120<\/li>\n<li>(debit) COGS 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Shipment clearing 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h3>Metode Pencatatan Berkelanjutan (Kriteria Pengiriman)<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) Inventories 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P Accrued 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/P Accrued 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/P 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Berdasarkan realisasi, penjualan dicatat dengan kriteria pengiriman.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R Accrued 120\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Sales 120<\/li>\n<li>(debit) COGS 100\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) Inventories 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 120\u3000\u3000\u3000\u3000(kredit) A\/R Accrued 120<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<h2>Pertanyaan Umum | Implementasi Sistem Akuntansi<\/h2>\n<p>Poin yang pertama kali diperiksa saat implementasi di Indonesia.<\/p>\n<h3>Apa yang penting dalam desain akun?<\/h3>\n<p>Menyelaraskan tingkat detail transaksi di lapangan dengan tingkat detail laporan buku besar. Terlalu rinci atau terlalu kasar dapat merusak operasi.<\/p>\n<h3>Seberapa penting pengetahuan pajak?<\/h3>\n<p>Pengetahuan dasar tentang PPN dan pajak penghasilan yang terkait langsung dengan jurnal sangat penting. Detailnya dibagi dengan hub pajak.<\/p>\n<h3>Apa syarat keberhasilan?<\/h3>\n<p>Kesepakatan alur kerja, persiapan master, dan aturan penutupan periode. Operasi harus ditentukan sebelum layar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengimplementasikan sistem akuntansi di Indonesia memerlukan perhatian pada perbedaan tarif pajak dan BI rate. Faktur Pajak diperlukan untuk pelaporan PPN\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":104064,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[687],"tags":[],"class_list":["post-68023","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia-accounting-tax-rule"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68023","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=68023"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68023\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103950,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/68023\/revisions\/103950"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104064"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=68023"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=68023"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=68023"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}