{"id":58830,"date":"2018-01-03T17:16:27","date_gmt":"2018-01-03T10:16:27","guid":{"rendered":"https:\/\/bahtera.jp\/cumulative-method\/"},"modified":"2026-09-05T14:59:12","modified_gmt":"2026-09-05T07:59:12","slug":"cumulative-method","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/cumulative-method\/","title":{"rendered":"Penerapan Sistem Manajemen Biaya dan Metode Perhitungan Tarif Alokasi"},"content":{"rendered":"<p>Dengan memanfaatkan sistem manajemen produksi, dimungkinkan untuk mengelola catatan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan diagram hubungan akun. Hal ini memungkinkan sistem manajemen biaya untuk menghitung harga rata-rata total bahan langsung. Selain itu, dengan menggunakan metode akumulasi untuk menambah biaya pemrosesan setiap tahap, biaya bahan yang terjadi bulan ini, biaya produksi, dan harga pokok penjualan yang diperlukan untuk pembuatan P\/L dapat dihitung.<\/p>\n\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/managemen-biaya\/\" class=\"st-cardlink\" aria-label=\"Sistem Manajemen Biaya di Indonesia\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"kanren st-cardbox\" >\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<dl class=\"clearfix\">\r\n\t\t\t\t\t\t<dt class=\"st-card-img\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-9-150x150.png\" class=\"attachment-st_thumb150 size-st_thumb150 wp-post-image\" alt=\"Diagram terstruktur tentang sistem manajemen biaya di manufaktur Indonesia, mencakup biaya produksi massal dan pesanan\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-9-150x150.png 150w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-9-100x100.png 100w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dt>\r\n\t\t\t\t\t\t<dd>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"st-cardbox-t\">Sistem Manajemen Biaya di Indonesia<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"st-card-excerpt smanone\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Pabrik tipe produksi massal di Indonesia mengadopsi perhitungan biaya komprehensif. Pabrik produksi berdasarkan pesanan individu mengadopsi perhitungan\u2026<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"cardbox-more\">\u7d9a\u304d\u3092\u898b\u308b<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dd>\r\n\t\t\t\t\t<\/dl>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/a>\r\n\t\t\t\t\n<div class=\"article-point\" id=\"key-takeaways\">\n<h2 class=\"article-point-title\">Yang dipelajari dari artikel ini<\/h2>\n<ul>\n<li>Dengan memanfaatkan sistem manajemen produksi, dimungkinkan untuk mengelola catatan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan diagram hubungan akun.<\/li>\n<li>Sistem manajemen biaya dapat menghitung harga rata-rata total bahan langsung.<\/li>\n<li>Dengan menggunakan metode akumulasi, biaya pemrosesan setiap tahap dapat ditambahkan untuk menghitung biaya produksi yang diperlukan untuk pembuatan P\/L.<\/li>\n<li>Biaya produksi terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap, di mana biaya variabel dihitung oleh sistem manajemen produksi.<\/li>\n<li>Tarif alokasi dihitung berdasarkan waktu kerja atau jumlah produksi untuk menghitung harga biaya produksi per item.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p><script type=\"application\/ld+json\" id=\"wprestapi-ai-jsonld\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/cumulative-method\/#article\",\"headline\":\"Penerapan Sistem Manajemen Biaya dan Metode Perhitungan Tarif Alokasi\",\"description\":\"Dengan memanfaatkan sistem manajemen produksi, dimungkinkan untuk mengelola catatan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan diagram hubungan akun\u2026\",\"mainEntityOfPage\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/cumulative-method\/\"},\"inLanguage\":\"id\",\"datePublished\":\"2018-01-03T17:16:27\",\"dateModified\":\"2026-08-05T20:01:22\",\"author\":{\"@type\":\"Person\",\"name\":\"yamazou\"}},{\"@type\":\"ItemList\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/cumulative-method\/#key-takeaways\",\"name\":\"Yang dipelajari dari artikel ini\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Dengan memanfaatkan sistem manajemen produksi, dimungkinkan untuk mengelola catatan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan diagram hubungan akun.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sistem manajemen biaya dapat menghitung harga rata-rata total bahan langsung.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Dengan menggunakan metode akumulasi, biaya pemrosesan setiap tahap dapat ditambahkan untuk menghitung biaya produksi yang diperlukan untuk pembuatan P\/L.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Biaya produksi terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap, di mana biaya variabel dihitung oleh sistem manajemen produksi.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Tarif alokasi dihitung berdasarkan waktu kerja atau jumlah produksi untuk menghitung harga biaya produksi per item.\"}]}]}<\/script><\/p>\n<h2>Tujuan Penerapan Sistem Manajemen Biaya<\/h2>\n<p>Dalam laporan laba rugi (P\/L) akuntansi keuangan, laba dihitung secara berurutan mulai dari laba kotor penjualan yang dikurangi harga pokok penjualan, laba operasi yang dikurangi biaya penjualan dan administrasi (Selling, General and Administrative), laba biasa yang dikurangi biaya non-operasional, dan laba bersih periode berjalan yang dikurangi kerugian khusus. Biaya yang terkait dengan perhitungan biaya berada di dalam bagian harga pokok penjualan.<\/p>\n<p>Untuk menampilkan laba kotor penjualan, perlu menghitung harga pokok penjualan, yang memerlukan perhitungan biaya produksi. Dan untuk menghitung biaya produksi, perlu menghitung biaya bahan yang terjadi bulan ini.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Laba Kotor Penjualan = Penjualan &#8211; Harga Pokok Penjualan<\/li>\n<li>Harga Pokok Penjualan = Stok Produk Awal Bulan + Biaya Produksi &#8211; Stok Produk Akhir Bulan<\/li>\n<li>Biaya Produksi = Stok Barang Dalam Proses Awal Bulan + Biaya Bahan yang Terjadi Bulan Ini &#8211; Stok Barang Dalam Proses Akhir Bulan<\/li>\n<li>Biaya Bahan yang Terjadi Bulan Ini = Stok Bahan Awal Bulan + Biaya Pembelian Bahan Bulan Ini &#8211; Stok Bahan Akhir Bulan<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Untuk melakukan perhitungan ini, perlu menghitung harga evaluasi untuk kuantitas stok bahan, barang dalam proses, dan produk pada akhir bulan. Jika perhitungan di Excel sulit, disarankan untuk mempertimbangkan penerapan sistem manajemen biaya.<\/p>\n<h2>Biaya Variabel dan Biaya Tetap<\/h2>\n<p>Harga pokok penjualan mengacu pada biaya produk yang dikirim dari gudang produk bulan ini. Di sisi lain, biaya produksi adalah biaya produk berdasarkan hasil produksi bulan ini, yang juga dapat disebut sebagai biaya produk yang masuk ke gudang produk. Biaya bahan yang terjadi adalah biaya bahan yang dikeluarkan dari gudang bahan bulan ini, yang sama dengan biaya bahan yang dimasukkan ke dalam proses produksi.<\/p>\n<div><img decoding=\"async\" alt=\"Biaya Variabel dan Biaya Tetap\" class=\"alignleft wp-image-33019\" height=\"381\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/alloc3.png\" width=\"348\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/alloc3.png 636w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/alloc3-274x300.png 274w\" sizes=\"(max-width: 348px) 100vw, 348px\" \/><\/p>\n<p>Bahan yang biaya pemrosesannya telah ditambahkan disebut sebagai barang dalam proses (barang dalam proses pertama + kedua + ketiga) dan secara keseluruhan disebut sebagai &#8220;lebih besar dari bahan tetapi kurang dari produk&#8221;. Biaya produksi barang dalam proses adalah biaya barang dalam proses yang diproduksi di proses sendiri bulan ini, dan menjadi biaya barang dalam proses saat dimasukkan ke proses berikutnya, di mana biaya pemrosesan lebih lanjut ditambahkan.<\/p>\n<\/div>\n<p>Biaya produksi terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap (biaya pemrosesan). Sistem manajemen produksi hanya dapat menghitung biaya bahan langsung dan biaya pemrosesan outsourcing sebagai biaya variabel. Stok awal bulan, hasil pembelian, hasil input, dan hasil produksi diperlukan untuk perhitungan biaya variabel berdasarkan harga rata-rata total, sedangkan biaya pemrosesan (biaya tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung produksi) diperoleh dari sistem akuntansi.<\/p>\n<h2>Unit Pengumpulan Berubah dari Akun ke Item Setelah Alokasi Pertama<\/h2>\n<p>Pemahaman yang mudah tentang konsep alokasi pertama adalah biaya depresiasi mesin bersama seperti boiler dan pendingin. Ini dibagi berdasarkan total waktu operasi setiap lini sebagai rasio alokasi pertama, dan dibagi dengan jumlah produksi setiap lini untuk menghitung tarif alokasi (berapa per unit). Selain itu, dalam hal biaya tidak langsung produksi, total waktu kerja setiap kelompok produk sebagai pusat biaya dibagi sebagai rasio alokasi pertama, dan dibagi dengan waktu kerja setiap kelompok produk untuk menghitung tarif upah (berapa per menit), dan dikalikan dengan tenaga kerja (efisiensi).<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Unit Pengumpulan Berubah dari Mata Anggaran ke Item Setelah Alokasi Primer\" class=\"wp-image-33593 aligncenter\" height=\"191\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329.png\" width=\"643\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329.png 1589w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329-300x89.png 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329-768x228.png 768w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329-1024x304.png 1024w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-329-980x290.png 980w\" sizes=\"(max-width: 643px) 100vw, 643px\" \/> <\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ol>\n<li>Hitung rasio alokasi pertama dari kuantitas dan waktu.\n<ul>\n<li>Jumlah produksi yang direncanakan atau hasil produksi yang diperoleh dari hasil pengembangan kebutuhan berdasarkan rencana produksi, dikumpulkan berdasarkan kelompok produk atau lini, dan dimasukkan ke dalam kode rasio alokasi, menjadi rasio alokasi pertama berbasis kuantitas.<\/li>\n<li>Waktu kerja langsung yang direncanakan atau aktual yang diperoleh dari jumlah produksi yang direncanakan dikalikan dengan tenaga kerja standar (efisiensi), dikumpulkan berdasarkan kelompok produk atau lini, dan dimasukkan ke dalam kode rasio alokasi, menjadi rasio alokasi pertama berbasis waktu.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Biaya tetap aktual atau anggaran dibagi berdasarkan rasio alokasi pertama untuk dikumpulkan berdasarkan kelompok produk atau lini.<\/li>\n<li>Biaya tetap per kelompok produk atau lini dibagi dengan waktu aktual atau waktu yang direncanakan untuk menghitung rasio alokasi per item biaya (biaya tenaga kerja langsung, biaya depresiasi, biaya, dll.) (berapa per menit). Dalam hal alokasi jumlah produksi, rasio alokasi = harga per unit per item biaya, sehingga tidak perlu dikalikan dengan tenaga kerja.<\/li>\n<li>Dengan mengalikan waktu kerja aktual per unit atau tenaga kerja standar (efisiensi) per item dengan rasio alokasi, harga aktual per unit per item biaya (harga standar) dihitung, dan dengan perhitungan akumulasi, harga aktual per unit per item dihitung.<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<h2>Perbedaan Pemikiran Tarif Alokasi dan Tenaga Kerja dalam Biaya Standar dan Biaya Aktual<\/h2>\n<p>Konsep dasar tarif alokasi adalah mengumpulkan biaya ke unit yang tidak memiliki bias nilai waktu kerja atau jumlah produksi (proses, lini, kelompok produk), dan membaginya dengan total waktu kerja untuk menghitung tarif upah (berapa per menit) atau membaginya dengan total jumlah produksi untuk menghitung tarif alokasi (berapa per unit). Dalam hal tarif upah, dengan mengalikan tenaga kerja per unit per item (efisiensi) dengan tarif, harga biaya produksi per unit per item dihitung. Berdasarkan tarif alokasi, biaya pemrosesan per unit per item dihitung sebagai berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Biaya Tenaga Kerja Langsung (alokasi waktu): tarif upah (berapa per menit) x efisiensi (berapa menit per unit)<\/li>\n<li>Biaya Depresiasi (alokasi waktu): tarif alokasi (berapa per menit) x efisiensi (berapa menit per unit)<\/li>\n<li>Biaya Tidak Langsung Produksi (alokasi jumlah): tarif alokasi (berapa per unit)<\/li>\n<li>Biaya Penjualan dan Administrasi (alokasi jumlah): tarif alokasi (berapa per unit)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Dalam biaya standar, tarif alokasi dihitung sebelumnya, dan dengan mengalikannya dengan tenaga kerja standar yang telah disiapkan, harga standar per item biaya dihitung. Di sisi lain, dalam biaya aktual, harga aktual per item biaya dihitung dengan membagi jumlah yang dikumpulkan ke alokasi pertama dengan waktu kerja langsung. Tarif alokasi (berapa per menit) dan tenaga kerja (berapa menit per unit) ditentukan setelah hasil aktual.<\/p>\n<h2>Tarif Alokasi Aktual dan Tarif Alokasi yang Direncanakan (Tarif Alokasi Standar) untuk Biaya Tidak Langsung Produksi<\/h2>\n<p>Ada berbagai jenis perhitungan biaya, tetapi secara umum dibagi menjadi dua: biaya aktual dan biaya standar. Biaya aktual dan biaya anggaran juga dapat dianggap sebagai jenis biaya standar.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Tingkat Alokasi Aktual dan Tingkat Alokasi yang Direncanakan untuk Biaya Overhead Manufaktur\" class=\"aligncenter wp-image-28561\" height=\"192\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/costing1-1.jpg\" width=\"400\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/costing1-1.jpg 539w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/costing1-1-300x144.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 400px) 100vw, 400px\" \/> <\/p>\n<p>Biaya tetap dibagi menjadi biaya tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung produksi. Biaya tenaga kerja langsung dihitung dengan tarif upah, dan biaya tidak langsung produksi dihitung dengan tarif alokasi. Biaya tenaga kerja langsung lebih tepat dibagi secara proporsional dengan waktu, seperti &#8220;berapa per jam&#8221;. Karena tenaga kerja standar berbeda untuk setiap item, tidak tepat untuk membaginya dengan jumlah produksi.<\/p>\n<div><img decoding=\"async\" alt=\"Tingkat Alokasi Aktual dan Tingkat Alokasi yang Direncanakan untuk Biaya Overhead Manufaktur\" class=\"alignleft wp-image-35332\" height=\"238\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/StandardCost-1.jpg\" style=\"font-size: 14px;\" width=\"245\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/StandardCost-1.jpg 399w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/StandardCost-1-300x292.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 245px) 100vw, 245px\" \/><\/p>\n<p>Di sisi lain, biaya depresiasi bangunan sebagai biaya tidak langsung produksi hanya dapat dibagi dengan jumlah produksi, seperti &#8220;berapa per unit&#8221;. Dengan demikian, meskipun biaya tetap sama, dasar pembagian item berbeda antara biaya tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung produksi.<\/p>\n<p>Dalam biaya aktual, tarif alokasi aktual dihitung berdasarkan jumlah biaya tidak langsung produksi yang terjadi bulan ini atau jumlah aktual. Dalam biaya standar, tarif alokasi yang direncanakan (tarif alokasi standar) dihitung berdasarkan anggaran biaya tidak langsung produksi dan jumlah yang direncanakan. Jika dasar perhitungan tarif alokasi aktual atau yang direncanakan adalah alokasi waktu kerja, maka &#8220;tarif alokasi x tenaga kerja = harga per item biaya&#8221;, jika alokasi jumlah produksi, maka &#8220;tarif alokasi = harga per item biaya&#8221;.<\/p>\n<\/div>\n<div style=\"clear: both;\"><\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Harga Aktual per Unit\n<ol>\n<li>Biaya Bahan Langsung (alokasi waktu): harga rata-rata total<\/li>\n<li>Biaya Tenaga Kerja Langsung (alokasi waktu): tarif upah aktual yang dihitung dari jumlah aktual x tenaga kerja langsung<\/li>\n<li>Biaya Depresiasi (alokasi waktu): tarif upah depresiasi yang dihitung dari jumlah aktual x waktu operasi langsung<\/li>\n<li>Biaya Tidak Langsung Produksi (alokasi jumlah): tarif alokasi yang dihitung dari jumlah aktual<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<li>Harga Standar per Unit\n<ol>\n<li>Biaya Bahan Langsung (alokasi waktu): harga standar (dari master harga pembelian)<\/li>\n<li>Biaya Tenaga Kerja Langsung (alokasi waktu): tarif upah standar x tenaga kerja standar (efisiensi)<\/li>\n<li>Biaya Depresiasi (alokasi waktu): tarif upah depresiasi standar x waktu operasi standar (efisiensi)<\/li>\n<li>Biaya Tidak Langsung Produksi (alokasi jumlah): tarif alokasi standar<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Tingkat Alokasi Aktual dan Tingkat Alokasi yang Direncanakan untuk Biaya Overhead Manufaktur\" class=\"wp-image-35334 aligncenter\" height=\"297\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-33.jpg\" width=\"596\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-33.jpg 752w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-33-300x150.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 596px) 100vw, 596px\" \/> <\/p>\n<p>Dalam biaya aktual sistem manajemen biaya, biaya tetap dihitung dengan membagi biaya yang terjadi setelah pengumpulan pusat biaya dengan waktu kerja atau jumlah produksi melalui alokasi pertama. Dalam sistem manajemen biaya, harga biaya tenaga kerja yang dialokasikan berdasarkan waktu kerja adalah &#8220;tarif upah x tenaga kerja&#8221;, sedangkan harga biaya tidak langsung produksi yang dialokasikan berdasarkan jumlah produksi adalah &#8220;tarif alokasi&#8221; itu sendiri. Biaya standar dapat dihitung tanpa menunggu penyelesaian input aktual bulan tersebut, dan digunakan untuk menghitung anggaran triwulan atau semester.<\/p>\n<h2>Langkah-langkah Perhitungan Biaya Standar<\/h2>\n<p>Biaya standar dihitung dengan menggunakan harga pembelian dari master harga pembelian yang dikelola dalam manajemen produksi sebagai harga pembelian standar untuk biaya bahan langsung, dan hasil perhitungan tarif alokasi aktual dari perhitungan biaya aktual bulan sebelumnya atau jumlah produksi yang direncanakan, serta tarif alokasi yang dihitung dari tenaga kerja standar (efisiensi) sebagai tarif alokasi standar untuk biaya tetap.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ol>\n<li>Perhitungan pengembangan berdasarkan BOM dari jumlah produksi yang direncanakan\n<ul>\n<li>Jumlah produksi barang dalam proses yang direncanakan\n<ul>\n<li>Perhitungan pengembangan waktu berdasarkan jumlah produksi yang direncanakan dan tenaga kerja standar<\/li>\n<li>Waktu kerja langsung yang direncanakan untuk produk dan barang dalam proses<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Jumlah pembelian yang direncanakan untuk barang yang dibeli<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Rasio alokasi pertama dihitung secara otomatis berdasarkan jumlah produksi yang direncanakan atau waktu kerja langsung yang direncanakan<\/li>\n<li>Perhitungan alokasi pertama berdasarkan rasio alokasi pertama, dan biaya tetap dikumpulkan berdasarkan pusat biaya (kelompok produk atau lini)<\/li>\n<li>Hasil perhitungan tarif alokasi ditetapkan sebagai tarif alokasi biaya standar<\/li>\n<li>Perhitungan biaya standar berdasarkan harga standar biaya bahan langsung dan tarif alokasi biaya standar<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<h2>Metode Perhitungan Tarif Alokasi<\/h2>\n<p>Tarif upah (tarif alokasi) adalah metode untuk mengumpulkan biaya ke unit yang tidak memiliki bias nilai waktu kerja atau jumlah produksi (proses, lini, kelompok produk), dan membaginya dengan total waktu kerja untuk menghitung tarif upah (berapa per menit) atau membaginya dengan total jumlah produksi untuk menghitung tarif alokasi (berapa per unit).<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Perhitungan tarif alokasi\n<ol>\n<li>Jumlah biaya tenaga kerja (jumlah aktual atau anggaran) \u00f7 waktu kerja = tarif upah \u21d2 tarif upah x efisiensi (tenaga kerja) = biaya tenaga kerja<\/li>\n<li>Jumlah biaya tidak langsung produksi (jumlah aktual atau anggaran) \u00f7 jumlah = tarif alokasi \u21d2 tarif alokasi itu sendiri = biaya tidak langsung produksi<\/li>\n<\/ol>\n<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Dengan kata lain, jika biaya per item biaya per item berdasarkan anggaran, maka menjadi biaya standar, jika berdasarkan jumlah aktual, maka menjadi biaya aktual. Biaya bahan langsung dihitung berdasarkan harga rata-rata total dalam biaya aktual dan harga standar dalam biaya standar, tetapi biaya tetap (biaya tenaga kerja langsung dan biaya tidak langsung produksi) dikumpulkan ke pusat biaya melalui alokasi pertama (alokasi antar departemen atau antar kelompok produk), dan dialokasikan ke unit item berdasarkan waktu kerja atau jumlah produksi.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Cara Menghitung Tingkat Alokasi\" class=\"wp-image-35333 aligncenter\" height=\"251\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-32.jpg\" style=\"font-size: 14px;\" width=\"546\"\/> <\/p>\n<p>Dalam perhitungan biaya standar, harga standar biaya bahan langsung adalah harga dari master harga pembelian, biaya tenaga kerja langsung adalah tarif upah x efisiensi (tenaga kerja), dan tarif alokasi biaya tidak langsung produksi (alokasi jumlah) adalah tarif alokasi biaya standar. Dengan demikian, dalam perhitungan biaya standar, harga standar produk dihitung dengan mengakumulasi biaya tetap standar yang dialokasikan berdasarkan anggaran periode sebelumnya dengan harga standar biaya bahan langsung.<\/p>\n<h2>Pertanyaan Umum\uff5cStandar dan Aktual dalam Sistem yang Sama<\/h2>\n<p>Pertanyaan tentang desain untuk melihat dua perhitungan dalam satu sistem.<\/p>\n<h3>Apa keuntungan dari sistem yang sama?<\/h3>\n<p>Dengan berbagi jalur input sambil memisahkan sumbu evaluasi, penjelasan perbedaan dapat disamakan antara lantai produksi dan akuntansi.<\/p>\n<h3>Di mana titik yang mudah tersandung?<\/h3>\n<p>Keterlambatan pembaruan master (harga, hasil) dan ketidakcocokan tingkat detail hasil aktual.<\/p>\n<h3>Data apa yang harus disiapkan terlebih dahulu?<\/h3>\n<p>Harga dan kuantitas standar item, proses, dan sumber daya, serta waktu pengumpulan hasil aktual.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penerapan sistem manajemen biaya memungkinkan pengelolaan catatan penerimaan dan pengeluaran berdasarkan diagram hubungan akun. Sistem ini juga dapat\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":103967,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[697],"tags":[],"class_list":["post-58830","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-cost-management"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58830","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58830"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58830\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103846,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58830\/revisions\/103846"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/103967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58830"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58830"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58830"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}