{"id":58317,"date":"2016-10-01T09:39:37","date_gmt":"2016-10-01T02:39:37","guid":{"rendered":"https:\/\/bahtera.jp\/accrual-basis\/"},"modified":"2026-09-05T16:14:04","modified_gmt":"2026-09-05T09:14:04","slug":"accrual-basis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/accrual-basis\/","title":{"rendered":"Perbedaan dan Praktik Akuntansi Berdasarkan Metode Akru dan Realisasi"},"content":{"rendered":"<p>Metode akru adalah cara mencatat pendapatan dan biaya pada saat transaksi terjadi. Sebaliknya, metode realisasi mencatat ketika transfer barang atau jasa selesai dan nilai tukar telah ditetapkan. Secara spesifik, metode akru mengakui penjualan dan pembelian pada saat pengiriman atau penerimaan, sedangkan metode realisasi mengakui pada saat penerbitan atau penerimaan faktur.<\/p>\n\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/sistem-akuntansi\/\" class=\"st-cardlink\" aria-label=\"Sistem Akuntansi di Indonesia\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"kanren st-cardbox\" >\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<dl class=\"clearfix\">\r\n\t\t\t\t\t\t<dt class=\"st-card-img\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-150x150.png\" class=\"attachment-st_thumb150 size-st_thumb150 wp-post-image\" alt=\"Diagram terstruktur sistem akuntansi di Indonesia dengan fokus SaaS, PSAK, dan otomatisasi jurnal\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-150x150.png 150w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-11-100x100.png 100w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dt>\r\n\t\t\t\t\t\t<dd>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"st-cardbox-t\">Sistem Akuntansi di Indonesia<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"st-card-excerpt smanone\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Sistem akuntansi di Indonesia mengalami peningkatan SaaS, namun tingkat adopsinya masih di bawah 8%. Alasan peluncuran terus-menerus sistem akuntansi\u2026<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"cardbox-more\">\u7d9a\u304d\u3092\u898b\u308b<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dd>\r\n\t\t\t\t\t<\/dl>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/a>\r\n\t\t\t\t\n<div class=\"article-point\" id=\"key-takeaways\">\n<h2 class=\"article-point-title\">Yang dipelajari dari artikel ini<\/h2>\n<ul>\n<li>Dalam metode akru, penjualan dan pembelian dicatat pada saat pengiriman.<\/li>\n<li>Dalam metode realisasi, penjualan dan pembelian dicatat pada saat penerbitan faktur.<\/li>\n<li>Di industri suku cadang otomotif Indonesia, penjualan dicatat berdasarkan pengiriman.<\/li>\n<li>Faktur digunakan sebagai unit manajemen umur piutang dan pembayaran.<\/li>\n<li>Pencatatan PPN dilakukan berdasarkan tanggal faktur.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p><script type=\"application\/ld+json\" id=\"wprestapi-ai-jsonld\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/accrual-basis\/#article\",\"headline\":\"Perbedaan dan Praktik Akuntansi Berdasarkan Metode Akru dan Realisasi\",\"description\":\"Dalam metode akru, penjualan dan pembelian dicatat pada saat pengiriman. Dalam metode realisasi, penjualan dan pembelian dicatat pada saat penerbitan\u2026\",\"mainEntityOfPage\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/accrual-basis\/\"},\"inLanguage\":\"id\",\"datePublished\":\"2016-10-01T09:39:37\",\"dateModified\":\"2026-09-04T12:54:32\",\"author\":{\"@type\":\"Person\",\"name\":\"yamazou\"}},{\"@type\":\"ItemList\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/accrual-basis\/#key-takeaways\",\"name\":\"Yang dipelajari dari artikel ini\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Dalam metode akru, penjualan dan pembelian dicatat pada saat pengiriman.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dalam metode realisasi, penjualan dan pembelian dicatat pada saat penerbitan faktur.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Di industri suku cadang otomotif Indonesia, penjualan dicatat berdasarkan pengiriman.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Faktur digunakan sebagai unit manajemen umur piutang dan pembayaran.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Pencatatan PPN dilakukan berdasarkan tanggal faktur.\"}]}]}<\/script><\/p>\n<h2>Pengelolaan Piutang dan Penjualan Berdasarkan Pengiriman<\/h2>\n<p>Dalam industri suku cadang otomotif di Indonesia, terdapat kasus di mana piutang sementara (A\/R Accrued) dan penjualan, pembelian, serta utang sementara (A\/P Accrued) dicatat pada bulan terjadinya transaksi, dan laporan laba rugi (P\/L) serta neraca (B\/S) disusun. Faktur digunakan sebagai unit manajemen umur piutang dan pembayaran, serta hanya sebagai unit pergerakan uang.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Pada tanggal 5 Oktober, piutang belum terealisasi dan penjualan dicatat (debit) A\/R Accrued 100 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li>Pada tanggal 10 Oktober, piutang belum terealisasi dan penjualan dicatat (debit) A\/R Accrued 100 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li>Pada tanggal 20 Oktober, piutang belum terealisasi dan penjualan dicatat (debit) A\/R Accrued 100 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Pada akhir bulan, penjualan dicatat berdasarkan metode akru pada P\/L, dan A\/R Accrued yang merupakan piutang belum terealisasi dicatat sebagai aset di B\/S, namun hanya dicatat dalam buku besar (G\/L) sistem akuntansi dan belum diakui sebagai piutang (A\/R). Pada bulan berikutnya, ketika faktur diterbitkan, saldo A\/R Accrued dihapuskan dengan memindahkannya ke akun A\/R dalam manajemen piutang sistem akuntansi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Pada tanggal 5 November, saat penerbitan faktur, dipindahkan ke piutang (debit) A\/R 300 (kredit) A\/R Accrued 300<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h2>Pengelolaan Utang dan Pembelian Berdasarkan Penerimaan<\/h2>\n<p>Jika piutang dicatat berdasarkan pengiriman, maka utang juga harus dicatat berdasarkan penerimaan agar adil. Pengelolaan utang berdasarkan penerimaan dilakukan berdasarkan metode akru, dengan mencatat pembelian dan utang belum terealisasi. Secara spesifik, pada tanggal 5, 10, dan 20 Oktober, utang belum terealisasi dan pembelian dicatat untuk barang yang diterima.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Pada tanggal 5 Oktober, utang belum terealisasi dan pembelian dicatat (debit) Purchase 100 (kredit) A\/P Accrued 100<\/li>\n<li>Pada tanggal 10 Oktober, utang belum terealisasi dan pembelian dicatat (debit) Purchase 100 (kredit) A\/P Accrued 100<\/li>\n<li>Pada tanggal 20 Oktober, utang belum terealisasi dan pembelian dicatat (debit) Purchase 100 (kredit) A\/P Accrued 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Pada akhir bulan, pembelian dicatat berdasarkan metode akru pada P\/L, dan A\/P Accrued yang merupakan utang belum terealisasi dicatat sebagai liabilitas di B\/S, namun hanya dicatat dalam G\/L sistem akuntansi dan belum diakui sebagai utang (A\/P). Pada bulan berikutnya, ketika faktur diterima, saldo A\/P Accrued dihapuskan dengan memindahkannya ke akun A\/P dalam manajemen utang sistem akuntansi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Pada tanggal 5 November, saat penerimaan faktur, dipindahkan ke utang (debit) A\/P Accrued 300 (kredit) A\/P 300<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h2>Cara Integrasi dari Sistem ERP ke Sistem Akuntansi<\/h2>\n<p>Proses pengiriman dan penerimaan dimasukkan dari manajemen penjualan dan pembelian sistem ERP, tetapi perlu menghasilkan jurnal akuntansi berdasarkan tanggal transaksi dan menghubungkan data ke G\/L atau manajemen A\/R A\/P. Ini memastikan integrasi yang lancar dengan sistem akuntansi.<\/p>\n<h3>Unit Jurnal Saat Penerimaan dan Pengiriman<\/h3>\n<p>Pada saat penerimaan atau pengiriman, faktur belum diterima atau diterbitkan, dan hanya ada delivery order (D\/O). Oleh karena itu, nomor D\/O dimasukkan sebagai elemen kunci untuk mencari informasi penerimaan atau pengiriman agar dapat dihubungkan ke A\/P atau A\/R saat faktur diterima atau diterbitkan. Jurnal untuk mencatat piutang dan utang belum terealisasi (A\/R Accrued dan A\/P Accrued) dihasilkan pada saat penerimaan atau pengiriman, tetapi unit jurnal berubah tergantung pada apakah sistem akuntansi memiliki kode item atau tidak.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Untuk faktur bulanan, unitnya adalah &#8220;kode pemasok + kode akun&#8221;<\/li>\n<li>Untuk faktur per pengiriman, unitnya adalah &#8220;kode pemasok + nomor D\/O + kode akun&#8221;<\/li>\n<li>Jika faktur diterbitkan oleh sistem akuntansi, unitnya adalah &#8220;rincian&#8221;<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h3>Unit Jurnal Saat Penerimaan (Penerbitan) Faktur<\/h3>\n<p>Biasanya, satu faktur mencakup beberapa penerimaan atau pengiriman. Hanya status rekaman yang telah dihubungkan ke G\/L sebagai utang atau piutang belum terealisasi yang ditampilkan dalam daftar, dan diperiksa sambil mencocokkan dengan rincian faktur yang diterima atau diterbitkan. Kemudian, nomor faktur dimasukkan ke rekaman yang benar.<\/p>\n<p>Di sini, data dihubungkan ke manajemen A\/R A\/P, dan jurnal untuk menghapus saldo utang atau piutang belum terealisasi di G\/L dihasilkan. Jika saldo dapat dihapuskan menjadi nol, unit data yang dihubungkan tidak perlu sama dengan penerimaan atau pengiriman.<\/p>\n<h2>Kesalahpahaman Antara Manajemen, Penjualan, dan Akuntansi<\/h2>\n<p>Dalam alur kerja penjualan di industri manufaktur Indonesia, staf penjualan mendaftarkan pesanan, staf logistik memberikan instruksi pengiriman, dan delivery order (D\/O) diterbitkan. Produk dan D\/O dikirimkan bersama, dan setelah pengiriman selesai, staf akuntansi menerbitkan faktur dan faktur pajak (Faktur Pajak), dan menagih dengan D\/O asli yang telah ditandatangani oleh pelanggan, sehingga piutang A\/R muncul dan penjualan dicatat.<\/p>\n<p>Di Indonesia, setelah departemen logistik melakukan pengiriman, menunggu laporan inspeksi selesai dari pelanggan, atau menggabungkan beberapa D\/O menjadi satu faktur untuk penagihan, ada jeda sekitar satu minggu sebelum departemen akuntansi menerbitkan faktur. Oleh karena itu, sulit untuk memastikan bahwa penagihan dilakukan dengan tepat terhadap pengiriman.<\/p>\n<p>Ini berarti bahwa barang (pengiriman) dan uang (faktur) tidak terhubung. Staf penjualan mungkin dapat memantau status pengiriman data pesanan, tetapi departemen akuntansi sering kali lalai memeriksa apakah faktur telah diterbitkan dengan benar dan A\/R telah dicatat. Sebaliknya, staf akuntansi mungkin kesulitan melihat bagaimana departemen logistik mengirimkan berdasarkan informasi pesanan yang didaftarkan oleh departemen penjualan, dan tidak dapat dengan jelas mengetahui pesanan mana yang terkait dengan D\/O asli yang dikumpulkan oleh departemen akuntansi.<\/p>\n<p>Ketika manajemen meminta laporan laba rugi proyek kepada staf akuntansi, staf akuntansi meminta staf penjualan atau logistik untuk &#8220;menyertakan nomor pesanan pada D\/O&#8221;. Namun, staf penjualan sering kali membuat penawaran berdasarkan lot proyek, atau memberikan instruksi pengiriman untuk beberapa proyek sekaligus, atau memberikan diskon khusus, sehingga D\/O tidak dapat dengan jelas dihubungkan dengan pesanan dalam beberapa kasus.<\/p>\n<p>Staf penjualan sering kali bekerja berdasarkan intuisi, sehingga pengelolaan dokumen menjadi kurang teliti. Di sisi lain, staf akuntansi menekankan rasionalitas dan akurasi, sehingga terjadi gesekan di sini.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Titik Hambatan dalam Operasional Setelah Pengenalan Sistem Bisnis\" class=\"alignleft wp-image-16305 size-full\" height=\"188\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/project.jpg\" width=\"364\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/project.jpg 364w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/project-300x155.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/project-304x157.jpg 304w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/project-282x146.jpg 282w\" sizes=\"(max-width: 364px) 100vw, 364px\" \/> <\/p>\n<p>Dari sisi manajemen, ada kritik &#8220;mengapa laba rugi per proyek tidak dapat dihitung&#8221;, sementara dari sisi penjualan ada penolakan &#8220;pekerjaan penjualan tidak dapat dilakukan secara kaku&#8221;. Penerapan sistem dapat menyebabkan akumulasi ketidakpuasan di antara ketiga pihak, dan suasana internal perusahaan dapat memburuk.<\/p>\n<p>Di perusahaan kecil, kesenjangan dapat diatasi dengan staf penjualan memeriksa apakah penjualan yang mereka catat telah diterbitkan faktur dengan benar dan diselesaikan oleh departemen akuntansi. Namun, di industri manufaktur besar, dengan organisasi yang tersegmentasi dan pembagian peran yang jelas, penyedia sistem menghadapi kesulitan dalam menangani perbedaan persepsi semacam ini.<\/p>\n<h2>Alur dari Pencatatan Penjualan Berdasarkan Pengiriman Hingga Menjadi Piutang<\/h2>\n<p>Penjualan adalah akun laba rugi, dan piutang A\/R adalah akun aset. Dalam sistem ERP, berdasarkan pendaftaran pesanan, instruksi pengiriman diberikan, dan untuk barang yang telah selesai dikirim, pencatatan penjualan dilakukan, menghasilkan jurnal akuntansi berikut di sisi akuntansi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 10 (kredit) Penjualan 10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Ini mengasumsikan bahwa penjualan dicatat berdasarkan pengiriman (metode akru), dan faktur diterbitkan bersamaan dengan pengiriman sehingga A\/R dicatat. Jika pengiriman dan penerbitan faktur dilakukan secara bersamaan, departemen penjualan dapat mencatat penjualan bersamaan dengan pengiriman, dan di sisi akuntansi hanya perlu melakukan penghapusan saat penyelesaian. Dengan demikian, kesenjangan antara penjualan dan akuntansi dapat teratasi secara alami.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Dalam industri suku cadang otomotif di Indonesia, faktur sering kali diterbitkan secara bulanan. Namun, pada saat pengiriman, tanggal pengiriman dicatat sebagai tanggal pencatatan jurnal di atas, dan ketika faktur diterbitkan, tidak ada jurnal akuntansi yang dihasilkan, tetapi dihapuskan berdasarkan tanggal pengiriman (tanggal pencatatan) atau kode item. Biasanya, penerbitan faktur tertunda sekitar satu minggu setelah pengiriman, sehingga pencatatan pengiriman menghasilkan jurnal akuntansi berikut di sisi akuntansi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R accrued 10 (kredit) Penjualan 10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Tanggal pencatatan A\/R adalah tanggal penerbitan faktur atau tanggal penerimaan faktur, dan pada saat pengiriman, akun piutang sementara A\/R Accrued digunakan. Pada saat penerbitan faktur oleh departemen akuntansi, A\/R dicatat.<\/p>\n<h3>Pada Saat Penerbitan Faktur<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 10 (kredit) A\/R accrued 10<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Bottleneck dalam penerapan sistem di Indonesia adalah bagian pencatatan A\/R, karena ada perbedaan waktu antara pencatatan penjualan oleh departemen penjualan berdasarkan pengiriman dan pencatatan A\/R oleh departemen akuntansi berdasarkan penerbitan faktur.<\/p>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Titik Hambatan dalam Operasional Setelah Pengenalan Sistem Bisnis\" class=\"aligncenter wp-image-16302 size-full\" height=\"281\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/ERP_ACC.jpg\" width=\"536\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/ERP_ACC.jpg 536w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/ERP_ACC-300x157.jpg 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/ERP_ACC-304x159.jpg 304w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/ERP_ACC-282x148.jpg 282w\" sizes=\"(max-width: 536px) 100vw, 536px\" \/> <\/p>\n<p>Di sisi lain, jika hanya sistem akuntansi yang diterapkan, pencatatan piutang dilakukan berdasarkan faktur setelah pesanan dan pengiriman dikelola di luar sistem dengan Excel, sehingga dampak negatif dari penerapan sistem kecil, tetapi dampak positifnya juga kecil.<\/p>\n<h2>Makna Metode Akru dan Tanggal Faktur<\/h2>\n<p>Saat ini, pengajuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) di Indonesia dilakukan secara online melalui coretax, sehingga tidak perlu mengembangkan tata letak formulir Faktur Pajak dalam sistem manajemen produksi atau sistem akuntansi. Namun, perlu dipikirkan bagaimana menghubungkan data penjualan dan pembelian ke coretax. Sebelum 2024, format impor ke E-Faktur adalah CSV, tetapi setelah 2025, coretax akan menggunakan format XML.<\/p>\n<p>Dalam transaksi domestik di Indonesia, bulan tanggal Faktur Pajak harus sama dengan bulan tanggal faktur. Ini adalah aturan untuk memudahkan pengolahan pajak, yang berarti bulan yang harus diproses pajaknya didasarkan pada tanggal faktur. Jika pengiriman atau penerimaan dari pemasok domestik melewati bulan, meskipun tanggal faktur adalah akhir bulan sebelumnya, secara akuntansi, pembelian dapat dicatat pada awal bulan berikutnya berdasarkan prinsip akru.<\/p>\n<p>Faktur adalah unit penagihan uang, dan tidak perlu mencatat pembelian atau penjualan secara akuntansi berdasarkan tanggal faktur. Faktur hanya merupakan dokumen yang membatasi tenggat waktu pembayaran untuk penagihan dalam unit yang terkumpul.<\/p>\n<h2>Perbedaan Tanggal Pengiriman dan Tanggal Faktur dalam Transaksi Domestik<\/h2>\n<p>Dalam transaksi domestik, karena periode antara pengiriman dan penerimaan singkat, tanggal penerimaan dan tanggal faktur dapat berbeda. Terutama ada dua kasus umum berikut:<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Barang diterima pada tanggal 1 Juli, tetapi karena alasan pemasok ingin mencatat penjualan pada bulan sebelumnya, tanggal D\/O (Delivery Order) adalah 31 Juni.<\/li>\n<li>D\/O disiapkan pada tanggal 31 Juni, tetapi pengiriman tertunda dan tiba pada tanggal 1 Juli.<\/li>\n<\/ol><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Ini hanya perbedaan alasan dari pemasok, tetapi bagi perusahaan sendiri, ini adalah kejadian yang sama. Pengolahan pajak didasarkan pada tanggal faktur, dan jurnal PPN dicatat pada bulan Juni.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>31 Juni (debit) PPN-masukan 33 (kredit) Utang 33<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Pembelian dicatat berdasarkan prinsip akru, dan dicatat pada bulan Juli ketika barang dikirim dan diterima dari pemasok.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>1 Juli (debit) Pembelian 300 (kredit) Utang 300<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h2>Perbedaan Tanggal Faktur dan Penerimaan dalam Impor<\/h2>\n<p>Signifikansi terbesar dari mencatat barang yang belum tiba saat penerimaan faktur adalah untuk mengenali dan mengelola persediaan di atas kapal secara akuntansi. Jika perusahaan mencatat penjualan berdasarkan pengiriman sesuai dengan prinsip akru, mungkin adil untuk mencatat pembelian pada saat pengiriman dari pemasok.<\/p>\n<p>Namun, dalam transaksi impor yang memerlukan waktu lama untuk tiba, mencatat pembelian berdasarkan pengiriman dari pemasok menjadi tidak adil, sehingga pembelian dicatat saat penerimaan faktur. Pencatatan PPN juga dilakukan saat penerimaan faktur.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>15 Juni (debit) Barang Belum Tiba 300 (kredit) Utang 333 (debit) PPN-masukan Dibayar di Muka 33<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p>Pada tanggal 15 Juli, ketika barang tiba di Indonesia, barang belum tiba dipindahkan ke akun pembelian.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>15 Juli (debit) Pembelian 300 (kredit) Barang Belum Tiba 300<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<h2>Waktu Pengakuan Penjualan dan Piutang Berdasarkan Metode Akru<\/h2>\n<p>Metode akru adalah salah satu standar pengakuan laba rugi, yang mencatat pendapatan atau biaya berdasarkan kejadian atau perubahan ekonomi, terlepas dari penerimaan atau pengeluaran tunai. Biasanya, jika pembayaran tidak dilakukan pada hari pencatatan penjualan, piutang (A\/R) dicatat.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ul>\n<li>Jika pembayaran tidak dilakukan pada hari pencatatan penjualan, piutang (A\/R) dicatat.\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Jika pembayaran dilakukan pada hari pencatatan penjualan (debit) Bank 100 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li>Jika pembayaran tidak dilakukan pada hari pencatatan penjualan (debit) A\/R 100 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p>Penjualan berdasarkan metode akru diakui ketika &#8220;penyerahan barang selesai&#8221; atau &#8220;penyediaan jasa selesai&#8221;. Jika pembayaran tidak dilakukan pada hari pencatatan penjualan, piutang (A\/R) dicatat. Faktur adalah unit penagihan yang hanya merupakan dokumen tertulis dari konten yang &#8220;dapat ditagih dan diterima pembayaran&#8221;, sehingga tidak benar untuk mencatat piutang berdasarkan penerbitan faktur.<\/p>\n<h2>Pandangan Departemen Penjualan dan Akuntansi tentang Tanggal Pencatatan Penjualan dan Piutang<\/h2>\n<p>Dari sudut pandang departemen penjualan, jika pergerakan persediaan dan waktu pencatatan piutang dan penjualan disinkronkan, manajemen sisa pesanan, manajemen persediaan, dan manajemen kinerja dapat disatukan berdasarkan akru, sehingga pekerjaan menjadi lebih mudah. Namun, dari sudut pandang departemen akuntansi, lebih jelas untuk pengolahan pajak jika pergerakan faktur dan waktu pencatatan piutang dan penjualan disinkronkan.<\/p>\n<h3>Pencatatan Penjualan dan Piutang Berdasarkan Pengiriman<\/h3>\n<p>Pencatatan penjualan berdasarkan pengiriman dan menganggap hari pencatatan penjualan sebagai hari hak piutang ditetapkan, dan melakukan manajemen umur piutang. Faktur dianggap hanya sebagai unit penagihan, dan tidak ada pengolahan akuntansi dilakukan saat penerbitan faktur bulanan, yang merupakan pola jurnal yang lebih condong ke perspektif departemen penjualan berdasarkan prinsip akru. Banyak produsen suku cadang otomotif Jepang di Indonesia mengadopsi pengolahan akuntansi ini.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 111 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li> (kredit) PPN terutang 11<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p> Penerbitan Faktur <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Tidak ada jurnal<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Mencatat Penjualan dan Piutang Bersamaan dengan Pengiriman\" class=\"alignnone wp-image-33210 size-full\" height=\"193\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-317.png\" width=\"962\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-317.png 962w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-317-300x60.png 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-317-768x154.png 768w\" sizes=\"(max-width: 962px) 100vw, 962px\" \/> <\/p>\n<h3>Pencatatan Penjualan Berdasarkan Pengiriman, dan Piutang Berdasarkan Dokumen<\/h3>\n<p>Jika departemen akuntansi ingin mencatat piutang pada saat penerbitan faktur karena alasan administratif, piutang sementara A\/R Accrued dicatat sementara pada saat pengiriman berdasarkan metode akru, dan piutang sementara dihapuskan dengan piutang A\/R pada saat penerbitan faktur. Dengan demikian, tanggal pencatatan piutang disesuaikan dengan tanggal penerbitan faktur untuk manajemen umur.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R Accrued 111 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li> (kredit) PPN terutang 11<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p> Penerbitan Faktur <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 110 (kredit) A\/R Accrued 110<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Mencatat Penjualan Bersamaan dengan Pengiriman, Piutang Berdasarkan Dokumen\" class=\"alignnone wp-image-33208 size-full\" height=\"194\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-316.png\" width=\"960\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-316.png 960w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-316-300x61.png 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-316-768x155.png 768w\" sizes=\"(max-width: 960px) 100vw, 960px\" \/> <\/p>\n<p>Sejak 2022, PPN adalah 11%, dan mulai Januari 2025, PPN akan menjadi 12%, tetapi hanya beberapa barang mewah dan barang mewah yang akan dikenakan tarif 12% penuh. Dalam transaksi biasa, DPP (Dasar Pengenaan Pajak) dikalikan 11\/12 untuk menghitung jumlah pajak DPP nilai lain yang akan dikenakan tarif pajak 12%, sehingga jumlah pajak efektif tetap sama dengan 11%.<\/p>\n<h3>Pencatatan Penjualan dan Piutang Berdasarkan Faktur Pajak<\/h3>\n<p>Menurut standar akuntansi internasional, penjualan harus dicatat berdasarkan pengiriman dengan metode akru, tetapi di Indonesia, faktur selalu disertai dengan Faktur Pajak yang menjadi dasar pencatatan PPN. Jika PPN dicatat berdasarkan Faktur Pajak, penjualan harus dicatat pada bulan yang sama dengan tanggal faktur, meskipun melanggar prinsip akru.<\/p>\n<p>Untuk mencatat penjualan dan piutang berdasarkan faktur, departemen akuntansi lebih mudah mengelola piutang, tetapi bagi departemen penjualan, pencatatan penjualan yang telah diakui sebagai piutang pada bulan berjalan akan dibawa ke bulan berikutnya, sehingga pengelolaan menjadi rumit, dan metode pengakuan pendapatan ini tidak sesuai dengan standar akuntansi internasional.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Tidak ada jurnal (persediaan bergerak tetapi tidak ada jurnal akuntansi yang dihasilkan)<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p> Penerbitan Faktur <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 111 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li> (kredit) PPN 11<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Mencatat Penjualan Sesuai VAT Berdasarkan Faktur Pajak dan Piutang Bersamaan\" class=\"alignnone wp-image-33211 size-full\" height=\"189\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-318.png\" width=\"962\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-318.png 962w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-318-300x59.png 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-318-768x151.png 768w\" sizes=\"(max-width: 962px) 100vw, 962px\" \/> <\/p>\n<h3>Piutang Dicatat pada Saat Pengiriman, dan Penjualan Dicatat Berdasarkan Faktur Pajak<\/h3>\n<p>Pengakuan piutang disesuaikan dengan tanggal pengiriman, dan untuk mencatat penjualan berdasarkan Faktur Pajak, digunakan akun pendapatan belum terealisasi Accrued Income untuk memperjelas pengiriman yang menjadi target.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Pengiriman <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) A\/R 110 (kredit) Accrued Income 110<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<p> Penerimaan Faktur <\/p>\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(debit) Accrued Income 111 (kredit) Penjualan 100<\/li>\n<li> (kredit) PPN 11<\/li>\n<\/ul><\/div>\n<\/p><\/div>\n<p> <img decoding=\"async\" alt=\"Mencatat Piutang pada Saat Pengiriman dan Penjualan Sesuai VAT Berdasarkan Faktur Pajak\" class=\"alignnone wp-image-33205 size-full\" height=\"193\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-314.png\" width=\"961\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-314.png 961w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-314-300x60.png 300w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/1-314-768x154.png 768w\" sizes=\"(max-width: 961px) 100vw, 961px\" \/> <\/p>\n<h2>Alasan Pengelolaan Persediaan Harus Dilakukan Berdasarkan Akru<\/h2>\n<p>Jika persediaan saat ini tidak dapat dipahami secara akurat berdasarkan metode akru, rencana pemesanan dan pengiriman yang akurat tidak dapat dibuat. Dalam menghitung harga pokok penjualan secara akuntansi, pengelolaan persediaan harus dilakukan berdasarkan metode akru.<\/p>\n<div class=\"graybox\"> Persediaan Awal Bulan + Pembelian Bulan Berjalan &#8211; Persediaan Akhir Bulan = Harga Pokok Penjualan Bulan Berjalan <\/div>\n<p>Pengelolaan persediaan dilakukan sesuai dengan aliran barang yang sebenarnya, sehingga harga pokok penjualan di P\/L dapat dihitung dengan benar. Karena harga pokok penjualan (biaya) dicatat berdasarkan akru, penjualan (pendapatan) juga harus dicatat berdasarkan akru agar laba kotor tidak menyimpang dari kenyataan.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Alasan tanggal pencatatan penjualan dalam ekspor FOB (Free On Board) adalah tanggal B\/L (Bill of Landing) adalah karena dalam kondisi perdagangan &#8220;biaya dan risiko ditanggung hingga barang dimuat ke kapal, dan biaya dan risiko setelahnya ditanggung oleh pihak impor&#8221;, tanggal B\/L menjadi tanggal penyerahan barang. Dalam hal ini, dalam pengelolaan persediaan, tanggal B\/L juga digunakan untuk mengurangi aset persediaan.<\/p>\n<h2>Pertanyaan Umum | Perbedaan Metode Akru dan Realisasi<\/h2>\n<p>Berdasarkan isi artikel ini, pertanyaan yang sering muncul dirangkum secara singkat.<\/p>\n<h3>Apa perbedaan antara metode akru dan realisasi dalam pengolahan akuntansi?<\/h3>\n<p>Metode akru adalah cara mencatat pendapatan dan biaya pada saat transaksi terjadi. Sebaliknya, metode realisasi mencatat ketika transfer barang atau jasa selesai dan nilai tukar telah ditetapkan. Secara spesifik, metode akru mengakui penjualan dan pembelian pada saat pengiriman atau penerimaan, sedangkan metode realisasi mengakui pada saat penerbitan atau penerimaan faktur.<\/p>\n<h3>Bagaimana pengolahan akuntansi metode akru dilakukan dalam industri suku cadang otomotif di Indonesia?<\/h3>\n<p>Dalam industri suku cadang otomotif di Indonesia, piutang sementara (A\/R Accrued) dan penjualan, pembelian, serta utang sementara (A\/P Accrued) dicatat pada bulan terjadinya transaksi. Pada akhir bulan, penjualan dicatat berdasarkan metode akru dalam laporan laba rugi, dan piutang belum terealisasi dicatat sebagai aset di neraca. Pada bulan berikutnya, ketika faktur diterbitkan, saldo A\/R Accrued dipindahkan ke akun A\/R dalam manajemen piutang.<\/p>\n<h3>Bagaimana pengolahan akuntansi dilakukan saat penerimaan faktur?<\/h3>\n<p>Saat penerimaan faktur, barang yang belum tiba dipindahkan ke akun pembelian. Misalnya, dalam transaksi impor, pembelian dicatat saat penerimaan faktur, dan pencatatan PPN juga dilakukan saat penerimaan faktur. Dengan demikian, persediaan di atas kapal dapat dikenali dan dikelola secara akuntansi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Metode akru mencatat pendapatan dan biaya saat transaksi terjadi, sementara metode realisasi mencatat saat transfer barang atau jasa selesai. Di industri\u2026<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":104019,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[687],"tags":[],"class_list":["post-58317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia-accounting-tax-rule"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58317"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":103926,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58317\/revisions\/103926"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/104019"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}