{"id":58148,"date":"2017-07-22T23:22:14","date_gmt":"2017-07-22T16:22:14","guid":{"rendered":"https:\/\/bahtera.jp\/implementation\/"},"modified":"2026-08-08T15:36:35","modified_gmt":"2026-08-08T08:36:35","slug":"implementation","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/implementation\/","title":{"rendered":"Tantangan dan Solusi dalam Penerapan dan Operasional Sistem Manajemen Produksi"},"content":{"rendered":"<p>Sistem manajemen produksi mencakup aktivitas produksi dari saat bahan diterima di gudang hingga diproses dalam tahap produksi, serta aktivitas penjualan setelah produk berada di gudang produk. Ketika bahan dimasukkan ke dalam proses produksi, biaya bahan dan biaya pemrosesan muncul, dan ketika menjadi produk, biaya produksi dihitung. Pada saat pengiriman, biaya penjualan dihitung. Sistem manajemen biaya mengelola aliran biaya ini.<\/p>\n\t\t\t\t<a href=\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/manajemen-produksi\/\" class=\"st-cardlink\" aria-label=\"Sistem Manajemen Produksi di Indonesia\">\r\n\t\t\t\t<div class=\"kanren st-cardbox\" >\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<dl class=\"clearfix\">\r\n\t\t\t\t\t\t<dt class=\"st-card-img\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<img decoding=\"async\" width=\"150\" height=\"150\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-150x150.png\" class=\"attachment-st_thumb150 size-st_thumb150 wp-post-image\" alt=\"Diagram terstruktur sistem manajemen produksi dan DX manufaktur di Indonesia\" srcset=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-150x150.png 150w, https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/indonesia-4-100x100.png 100w\" sizes=\"(max-width: 150px) 100vw, 150px\" \/>\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dt>\r\n\t\t\t\t\t\t<dd>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"st-cardbox-t\">Sistem Manajemen Produksi di Indonesia<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<div class=\"st-card-excerpt smanone\">\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p>Prioritas utama dalam industri manufaktur adalah peningkatan produktivitas dan kepatuhan terhadap tenggat waktu. Memahami perbedaan antara biaya produksi,\u2026<\/p>\n\t\t\t\t\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<p class=\"cardbox-more\">\u7d9a\u304d\u3092\u898b\u308b<\/p>\r\n\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t\t<\/dd>\r\n\t\t\t\t\t<\/dl>\r\n\t\t\t\t<\/div>\r\n\t\t\t\t<\/a>\r\n\t\t\t\t\n<div class=\"article-point\" id=\"key-takeaways\">\n<h2 class=\"article-point-title\">Yang dipelajari dari artikel ini<\/h2>\n<ul>\n<li>Sistem manajemen produksi mengelola dari penerimaan bahan hingga pengiriman produk.<\/li>\n<li>Ada dua metode penerapan sistem di Indonesia: top-down dan musyawarah.<\/li>\n<li>Penting untuk mencerminkan informasi stok berdasarkan inventarisasi fisik saat memulai operasional sistem.<\/li>\n<li>Perintah produksi diterbitkan dengan membuat MPS dari informasi pesanan dan menjalankan MRP.<\/li>\n<li>Sistem manajemen stok mengelola aliran jumlah dan nilai, mendukung manajemen biaya.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<p><script type=\"application\/ld+json\" id=\"wprestapi-ai-jsonld\">{\"@context\":\"https:\/\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"BlogPosting\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/implementation\/#article\",\"headline\":\"Tantangan dan Solusi dalam Penerapan dan Operasional Sistem Manajemen Produksi\",\"description\":\"Sistem manajemen produksi mengelola dari penerimaan bahan hingga pengiriman produk. Ada dua metode penerapan sistem di Indonesia: top-down dan\u2026\",\"mainEntityOfPage\":{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/implementation\/\"},\"inLanguage\":\"id\",\"datePublished\":\"2017-07-22T23:22:14\",\"dateModified\":\"2026-08-08T14:44:04\",\"author\":{\"@type\":\"Person\",\"name\":\"yamazou\"}},{\"@type\":\"ItemList\",\"@id\":\"https:\/\/bahtera.jp\/id\/implementation\/#key-takeaways\",\"name\":\"Yang dipelajari dari artikel ini\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Sistem manajemen produksi mengelola dari penerimaan bahan hingga pengiriman produk.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ada dua metode penerapan sistem di Indonesia: top-down dan musyawarah.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":3,\"name\":\"Penting untuk mencerminkan informasi stok berdasarkan inventarisasi fisik saat memulai operasional sistem.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":4,\"name\":\"Perintah produksi diterbitkan dengan membuat MPS dari informasi pesanan dan menjalankan MRP.\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":5,\"name\":\"Sistem manajemen stok mengelola aliran jumlah dan nilai, mendukung manajemen biaya.\"}]}]}<\/script><\/p>\n<h2>Mendefinisikan Persyaratan dan Menentukan Spesifikasi Sistem<\/h2>\n<p>Dalam penerapan sistem manajemen produksi, penting untuk mendefinisikan persyaratan yang menentukan bagaimana sistem memberikan instruksi kepada pekerjaan di lantai produksi dan mencatat hasilnya. Saat menerapkan sistem di anak perusahaan di Indonesia, biasanya departemen sistem informasi kantor pusat Jepang dan staf Jepang yang bertanggung jawab di lokasi menentukan persyaratan.<\/p>\n<p>Namun, ada dua metode: pendekatan top-down di mana staf Indonesia diminta menggunakan sistem yang dirancang oleh orang Jepang, dan pendekatan musyawarah di mana staf Indonesia terlibat dalam diskusi untuk mencapai kesepakatan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Pendekatan Top-Down\n<p>Persyaratan ditentukan oleh Jepang untuk memastikan spesifikasi standar di seluruh grup.<\/li>\n<li>Pendekatan Musyawarah\n<p>Karena sistem digunakan oleh staf Indonesia, diskusi dilakukan hingga mencapai kesepakatan di lokasi.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Pendekatan top-down membutuhkan kepemimpinan kuat dari pihak Jepang dan staf Jepang yang ditempatkan di anak perusahaan Indonesia. Namun, jika staf yang dikirim dari pihak mitra memiliki pengaruh, mungkin ada perlawanan selama fase implementasi. Keluhan seperti &#8220;Di Indonesia, kami tidak melakukan ini&#8221; atau &#8220;Angka master salah, tetapi itu keputusan orang Jepang&#8221; mungkin muncul. Selain itu, ketidakpuasan bahwa &#8220;gaji tidak naik karena banyak uang dihabiskan untuk penerapan sistem&#8221; dapat menyebar di lantai produksi, menciptakan ketegangan setiap kali berjalan di lantai produksi.<\/p>\n<h2>Spesifikasi Sistem Diwujudkan di Lantai Produksi<\/h2>\n<p>Segalanya dimulai dari persyaratan yang ditetapkan dalam rapat di ruang pertemuan. Bagian yang tidak tercakup oleh fungsi standar sistem dilengkapi dengan pengembangan tambahan. Selama pelatihan dan penjelasan operasi sistem yang telah selesai, masukan dari staf lantai produksi didengar untuk melakukan perubahan spesifikasi atau pengembangan tambahan. Dari awal hingga akhir operasional sistem, melalui latihan operasional di mana setiap departemen memasukkan data, metode kolaborasi antar departemen yang diperlukan untuk operasional sebenarnya dikonfirmasi.<\/p>\n<p>Selama fase implementasi, instruksi seperti perintah transfer, perintah produksi, perintah pengeluaran, dan daftar pengambilan dikeluarkan dari sistem sesuai dengan pergerakan orang dan barang di lantai produksi, dan hasilnya dimasukkan. Momen ini memberikan perasaan bahwa teori sebelumnya diwujudkan. Kesenangan dan kepuasan dalam penerapan sistem bisnis terletak pada momen ini.<\/p>\n<p>Namun, selama operasional, masalah yang tidak terduga dalam definisi persyaratan dapat muncul. Jika dampaknya terhadap operasional lebih besar dari yang diperkirakan, pekerjaan manual yang membebani orang di lantai produksi dapat terjadi, menghambat operasional sistem.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Misalnya, jika printer label yang mengeluarkan tiket barang rusak, perlu mencetak label pada kertas A4 dari mesin fotokopi biasa dan menempelkannya pada barang dengan selotip. Pekerjaan ini sangat sulit di gudang yang luas (pengalaman pribadi).<\/p>\n<p class=\"field-generalization\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:0 0 22px;padding:10px 14px 10px 16px;background:#f5f9fc;border-left:4px solid #2f80ed;border-radius:0 6px 6px 0;color:#1f2937;line-height:1.7;\">Poin: Bahkan jika perangkat periferal yang tidak terduga rusak, pekerjaan di lantai produksi dapat meningkat secara tiba-tiba, menghambat operasional sistem.<\/p>\n<h2>Pekerjaan Implementasi Sistem Manajemen Produksi<\/h2>\n<h3>Refleksi Stok Berdasarkan Inventarisasi Fisik dan Pemindahan Stok ke Lokasi Gudang Terkait<\/h3>\n<p>Untuk memulai operasional sistem manajemen produksi, penting untuk terlebih dahulu mencerminkan informasi stok berdasarkan inventarisasi fisik ke dalam sistem. Dalam industri manufaktur, setelah jumlah dan lokasi stok bahan dan material ditentukan, jadwal penerbitan perintah produksi ditentukan dalam sistem. Ada dua cara untuk menempelkan tiket barang pada stok yang sudah ada di gudang.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Melakukan inspeksi lot pada semua lot yang masuk inventaris dan menerbitkan tiket barang<\/li>\n<li>Memasukkan P\/O yang sudah diterbitkan dengan tanggal mundur dan melakukan inspeksi penerimaan setelah proses penerimaan untuk menerbitkan tiket barang<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Bahan dan material yang dialokasikan dengan perintah produksi ditautkan sebagai perintah pengeluaran, dan saat dikeluarkan dari gudang, hasil pengeluaran dicatat dengan memindai kode batang tiket barang. Kode batang harus mencakup kode item dan nomor lot. Tiket barang yang diterbitkan oleh inspeksi lot atau inspeksi penerimaan oleh departemen QC ditempelkan pada barang dan perintah transfer diterbitkan untuk menyimpannya di rak yang ditentukan di gudang.<\/p>\n<p>Nomor rak dicatat sebagai hasil transfer dengan memindai kode batang yang ditempelkan pada rak saat barang dipindahkan di dalam gudang.<\/p>\n<h3>Membuat MPS dari Informasi Pesanan dan Menjalankan MRP untuk Menerbitkan Perintah Produksi<\/h3>\n<p>Setelah stok di lantai produksi dan stok dalam sistem sesuai, rencana produksi utama (MPS) dibuat dari informasi pesanan, dan MRP dijalankan untuk menghasilkan perintah produksi yang sesuai dengan ukuran batch produksi di lantai produksi dari sistem. Pada saat ini, dua pertanyaan berikut sering diajukan oleh staf di lantai produksi:<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Apakah tanggal mulai produksi telah disesuaikan dengan lead time saat ini?<\/li>\n<li>Apakah ukuran lot produksi sesuai dengan kondisi aktual?<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Jika akurasi master meningkat dan operasional sistem menjadi mapan, pekerjaan dilakukan secara mekanis berdasarkan perintah produksi yang dikeluarkan dari sistem. Namun, segera setelah penerapan, penting agar perintah produksi dikeluarkan dari sistem sesuai dengan operasional di lantai produksi untuk mendapatkan kepercayaan terhadap sistem.<\/p>\n<h3>Penerbitan Perintah Pengeluaran dan Pencatatan Hasil Pengeluaran<\/h3>\n<p>Di lantai produksi, meskipun instruksi dikeluarkan oleh staf produksi, hasilnya sering kali dicatat oleh staf gudang, dan karena waktu instruksi dan hasil berbeda, sistem manajemen produksi pada dasarnya adalah proses dua tahap.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Menerbitkan perintah dan mencatat hasil (produksi, pengeluaran, transfer)<\/li>\n<li>Membuat informasi dan mencatat hasil (P\/O, inspeksi)<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Perintah pengeluaran dihasilkan dengan menautkan ke perintah produksi. Biasanya dilakukan oleh staf produksi, dan memindahkan barang dari gudang ke lantai produksi dilakukan oleh staf gudang yang dapat mengoperasikan forklift. Pada perintah pengeluaran, hanya kode item, nomor lot, dan jumlah yang ditentukan, dan dari rak mana barang diambil dicatat sebagai hasil transfer dengan memindai kode batang yang ditempelkan pada rak saat staf gudang melakukan pekerjaan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Pemindahan ke gudang: Tentukan From &#8220;kode item + nomor lot&#8221; dan To &#8220;gudang&#8221; pada perintah, dan catat To &#8220;nomor rak&#8221; pada hasil<\/li>\n<li>Pemindahan dari gudang: Tentukan From &#8220;kode item + nomor lot&#8221; dan To &#8220;gudang&#8221; pada perintah, dan catat From &#8220;nomor rak&#8221; pada hasil<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<h3>Pencatatan Hasil Input dan Hasil Produksi<\/h3>\n<p>Jika metode backflush digunakan, di mana jumlah standar yang diperlukan yang diatur dalam BOM (Bill of Materials) secara otomatis dimasukkan saat pencatatan hasil produksi, semua barang di pabrik dapat diidentifikasi dengan kode item dalam sistem manajemen produksi. Namun, jika ada perbedaan waktu antara saat input dan saat hasil produksi dicatat, stok dalam proses yang tidak teragregasi dalam kode item dapat ada di lantai produksi.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Barang dalam proses dengan kode item<\/li>\n<li>Barang dalam proses tanpa kode item<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Bahan tidak menjadi biaya hanya dengan diterima, tetapi ketika biaya pemrosesan ditambahkan dan menjadi barang dalam proses, itu menjadi biaya yang terjadi bulan ini (biaya) dalam akuntansi. Jika pada akhir bulan masih tertahan sebagai barang dalam proses, itu dicatat sebagai stok barang dalam proses (aset). Dan stok barang dalam proses menjadi biaya produksi produk bulan ini ketika menjadi produk, dan jika pada akhir bulan masih tertahan sebagai produk yang tidak terjual, itu dicatat sebagai stok produk (aset).<\/p>\n<h3>Gudang Bahan dan Pabrik Hingga Manajemen Produksi, Gudang Produk Setelahnya Manajemen Penjualan<\/h3>\n<p>Fungsi sistem manajemen produksi secara umum dibagi menjadi tiga kategori berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Manajemen Pembelian (Gudang Bahan)<\/li>\n<li>Manajemen Produksi (Pabrik)<\/li>\n<li>Manajemen Penjualan (Gudang Produk)<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Berdasarkan apakah barang yang disimpan di lokasi terkait dengan produksi atau penjualan, dibagi menjadi dua kategori berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Manajemen Produksi (Gudang Bahan dan Pabrik)<\/li>\n<li>Manajemen Penjualan<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Pada saat pencatatan hasil produksi produk, barang dipindahkan dari lokasi produksi ke lokasi penjualan, dan dari sini masuk dalam lingkup manajemen penjualan.<\/p>\n<h2>Pemotongan Berdasarkan Manajemen Produksi dan Manajemen Penjualan<\/h2>\n<p>Melalui pencatatan hasil penerimaan dan pengeluaran dalam manajemen produksi, biaya produksi yang menunjukkan berapa banyak produk yang diproduksi dalam sebulan dan berapa biayanya dapat dihitung. Di sisi lain, dengan menggunakan pencatatan hasil penerimaan dan pengeluaran dalam manajemen penjualan, biaya penjualan yang merupakan biaya dari produk yang benar-benar terjual dan dikirim dapat dihitung dari stok awal bulan dan hasil produksi bulan ini.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Harga rata-rata produk total = (stok awal bulan produk + biaya produksi produk bulan ini) \/ (jumlah produk awal bulan + jumlah produksi bulan ini)<\/li>\n<li>Biaya penjualan = harga rata-rata produk total x jumlah pengiriman<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Untuk menghitung biaya penjualan, pencatatan hasil pengiriman dalam manajemen penjualan diperlukan, dan untuk menghitung laba kotor penjualan, pencatatan hasil penjualan dalam manajemen penjualan sangat penting.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Penjualan &#8211; Biaya penjualan = Laba kotor penjualan<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<p><img decoding=\"async\" alt=\"seminer2\" class=\"wp-image-102646 aligncenter\" height=\"493\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/prod-child-seminer2.jpg-id.png\" width=\"662\"\/><\/p>\n<h2>Dua Perspektif Manajemen Stok dan Manajemen Biaya<\/h2>\n<p>Jika dilihat dari perspektif stok dan biaya, pabrik dapat dibagi menjadi tiga lokasi utama. Setiap lokasi biasanya dikelola oleh departemen yang berbeda.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Gudang Bahan (RM warehouse): Departemen pembelian mengelola hasil penerimaan.<\/li>\n<li>Proses Produksi (Plant): Departemen produksi mengelola hasil input dan hasil produksi.<\/li>\n<li>Gudang Produk (Finished good warehouse): Departemen logistik (departemen penjualan) mengelola hasil pengiriman.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Untuk menghitung biaya produksi, informasi berikut dari departemen pembelian dan departemen produksi diperlukan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Stok awal bulan gudang bahan<\/li>\n<li>Hasil penerimaan gudang bahan<\/li>\n<li>Stok awal bulan proses produksi<\/li>\n<li>Hasil input proses produksi<\/li>\n<li>Hasil produksi proses produksi<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Untuk menghitung biaya penjualan, informasi berikut dari departemen logistik (departemen penjualan) diperlukan.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Stok awal bulan gudang produk<\/li>\n<li>Hasil penerimaan gudang produk<\/li>\n<li>Hasil pengiriman gudang produk<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Untuk menghitung biaya produksi dan biaya penjualan, semua informasi dari departemen pembelian, departemen produksi, dan departemen logistik (departemen penjualan) diperlukan.<\/p>\n<h2>Semua Data Penerimaan dan Pengeluaran serta Data Stok Menyimpan Informasi Departemen<\/h2>\n<p>Semua data penerimaan dan pengeluaran dalam sistem bisnis menyimpan informasi departemen yang terjadi. Selain itu, data stok yang masuk ke gudang sebagai hasil penerimaan dan pengeluaran juga menyimpan informasi departemen yang mengelola gudang. Dalam organisasi fisik, setiap departemen mengirimkan data dalam format Excel melalui email, yang kemudian digabungkan. Pada saat ini, penting bahwa periode dan format data dari setiap departemen seragam.<\/p>\n<p>Data hasil yang dikelola dalam sistem manajemen produksi juga dirangkum per departemen, dan untuk menghitung laba kotor penjualan, kode departemen yang berbeda perlu dikonversi ke kode departemen yang sama. Departemen yang terlibat dalam penerimaan dan pengeluaran dalam sistem manajemen produksi (pembelian, produksi, penjualan) adalah entitas utama dalam bagan organisasi yang mengelola lokasi stok. Namun, dalam sistem akuntansi atau sistem manajemen biaya, lini atau grup produk adalah unit agregasi.<\/p>\n<p>Dalam sistem, untuk tujuan pemotongan laporan atau pembagian wewenang, departemen pengawasan yang tidak ada secara fisik dapat ditetapkan, atau departemen umum fiktif dapat ditetapkan untuk membebankan biaya yang tidak dapat dibebankan ke departemen tertentu.<\/p>\n<h2>Instruksi dan Hasil Pemindahan Stok<\/h2>\n<p>Di pabrik di Indonesia, bahan yang dikategorikan berdasarkan item ditumpuk di gudang bahan, dan riwayat penerimaan dan pengeluaran dicatat secara manual pada kartu stok dan disimpan dalam binder. Riwayat manual ini dicatat pada saat bahan dikeluarkan atau diterima, sehingga menjadi riwayat penerimaan dan pengeluaran berdasarkan hasil.<\/p>\n<p>Namun, sebenarnya, sebelum staf departemen gudang memindahkan bahan, staf departemen produksi telah meminta &#8220;tolong keluarkan&#8221;, dan staf departemen produksi meminta pengeluaran bahan karena ada instruksi &#8220;tolong produksi&#8221; dari staf departemen manajemen produksi.<\/p>\n<p>Saat memulai produksi di lantai produksi pabrik, bahan perlu dipilih dari gudang bahan dan dipindahkan ke lantai produksi. Pergerakan fisik di lantai produksi ini diakomodasi dalam sistem manajemen produksi sebagai berikut.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Mulai produksi\u21d2Perintah produksi + perintah pengeluaran<\/li>\n<li>Memilih bahan di gudang bahan\u21d2Daftar pengambilan<\/li>\n<li>Mengeluarkan dan memindahkan ke lantai produksi\u21d2Hasil pengeluaran<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<h2>Pemotongan Input Pengeluaran<\/h2>\n<p>Di pabrik Jepang di Indonesia, biaya tenaga kerja telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, dan pengurangan biaya tenaga kerja di departemen tidak langsung menjadi tantangan penting. Dalam kondisi tanpa kelebihan tenaga kerja, efisiensi operasional sistem diperlukan.<\/p>\n<p>Metode untuk menghentikan alokasi yang menyebabkan pengeluaran saat perintah produksi dan menghitung jumlah input standar yang sesuai dengan hasil produksi dari BOM secara otomatis saat input hasil produksi (back flush) atau mendefinisikan gudang bahan sebagai gudang proses untuk menjaga kontinuitas dengan lantai produksi, sehingga pengeluaran itu sendiri tidak terjadi, dapat dipertimbangkan.<\/p>\n<p>Namun, jumlah standar adalah nilai teoritis, dan untuk menjaga akurasi stok, perlu dilakukan penyesuaian stok secara berkala untuk mengatasi perbedaan dengan stok aktual.<\/p>\n<h2>Makna Menerbitkan Perintah dan Memasukkan Hasil<\/h2>\n<p>Tujuan dari penerbitan perintah dan memasukkan hasil adalah ketika perlu memisahkan manajemen informasi perintah dan informasi hasil. Terutama dalam situasi di mana manajemen pemindahan stok penting, metode ini digunakan untuk memperjelas siapa yang bertanggung jawab dan kapan. Empat pemindahan stok berikut adalah targetnya.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Bahan yang dialokasikan dengan perintah produksi, dikeluarkan dari gudang bahan ke lantai produksi\u21d2Perintah pengeluaran pengeluaran<\/li>\n<li>Bahan dan barang dalam proses yang dialokasikan berdasarkan P\/O ke pihak luar, dikeluarkan dari gudang ke pihak luar\u21d2Perintah pengeluaran pihak luar<\/li>\n<li>Pemindahan stok antar gudang\u21d2Perintah transfer<\/li>\n<li>Pembuangan\u21d2Perintah pembuangan<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<h2>Posisi Manajemen Stok<\/h2>\n<p>Dalam menjalankan bisnis, manajemen stok sangat penting. Untuk efisiensi manajemen stok dan pemanfaatan data stok yang efektif, sistem manajemen stok diterapkan. Dengan demikian, penerimaan barang dan bahan, pengumpulan hasil produksi harian di lini produksi, dan pengiriman ke pelanggan diotomatisasi, membentuk sistem bisnis terintegrasi yang berpusat pada sistem manajemen stok (ERP).<\/p>\n<p>Untuk menyederhanakan input data, perangkat IT seperti pembaca kode batang, terminal genggam, terminal POP, dan iPad digunakan.<\/p>\n<p>Manajemen stok berada di pusat alur kerja dan terhubung erat dengan semua operasi penjualan, pembelian, dan produksi. Jika sistemisasi berjalan dengan baik, ini akan sangat berkontribusi pada akurasi data bisnis internal dan peningkatan efisiensi operasional.<\/p>\n<p>Dalam manajemen stok di industri manufaktur, penerimaan dan pengeluaran dari tiga jenis item: bahan, barang dalam proses, dan produk dilakukan melalui fungsi input hasil sistem manajemen stok. Untuk menentukan apakah penerimaan (hasil input) atau pengeluaran (hasil produksi) dilakukan secara manual atau otomatis, diperlukan Bill of Materials (BOM). BOM ini juga perlu ditentukan hingga level mana, dan definisi persyaratan awal penting dalam penerapan sistem manajemen stok di industri manufaktur.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\"><strong style=\"display:inline-block;margin-right:0.35em;color:#b45309;font-weight:700;\">Contoh:<\/strong> Saat pertama kali menerapkan sistem manajemen stok di industri manufaktur, input hasil penerimaan dan pengeluaran hanya dilakukan untuk bahan dan produk, dan barang dalam proses dicerminkan dari jumlah inventaris pada akhir bulan. Dengan cara ini, manajemen stok barang dalam proses dapat diperluas secara bertahap, mengurangi beban di lantai produksi.<\/p>\n<p class=\"field-generalization\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:0 0 22px;padding:10px 14px 10px 16px;background:#f5f9fc;border-left:4px solid #2f80ed;border-radius:0 6px 6px 0;color:#1f2937;line-height:1.7;\">Poin: Penerapan awal dimulai dengan penerimaan dan pengeluaran bahan dan produk, dan barang dalam proses dicerminkan dari inventaris pada akhir bulan untuk mengurangi beban di lantai produksi.<\/p>\n\n<h2>Manajemen Biaya dalam Sistem Manajemen Stok<\/h2>\n<p>Dalam alur kerja, ada dua aliran: jumlah dan nilai. Sistem manajemen stok mengelola aliran jumlah. Fungsi utama adalah daftar stok saat ini, manajemen riwayat penerimaan dan pengeluaran (kartu stok), dan input hasil penerimaan dan pengeluaran.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Daftar stok saat ini<\/li>\n<li>Manajemen riwayat penerimaan dan pengeluaran (kartu stok)<\/li>\n<li>Input hasil penerimaan dan pengeluaran<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Dalam industri penjualan, untuk mengelola penerimaan dan pengeluaran barang yang dibeli dan biaya (harga satuan) secara real-time, ada pilihan untuk menghitung dengan metode rata-rata bergerak atau mengelola dengan metode FIFO dengan manajemen lot. Biaya barang yang dibeli tidak hanya mencakup harga pembelian, tetapi juga biaya tambahan seperti biaya pengiriman dan biaya bea cukai. Terutama untuk barang impor, proporsi biaya tambahan tinggi, dan alokasi item menjadi tantangan saat menjadikannya subjek manajemen stok.<\/p>\n<p>Dalam industri manufaktur, bahan dibeli dan dimasukkan ke dalam proses produksi, melalui barang dalam proses menjadi produk. Biaya bahan dapat dikelola, tetapi manajemen biaya barang dalam proses dan produk lebih kompleks. Harga satuan bahan dapat dihitung dengan rata-rata bergerak, tetapi biaya tenaga kerja dan biaya lainnya ditentukan pada akhir bulan, sehingga perlu menggunakan biaya standar dan menyesuaikan perbedaan dengan biaya aktual pada akhir bulan.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" alt=\"Manajemen persediaan di industri manufaktur\" class=\"aligncenter wp-image-102640 size-full\" height=\"171\" src=\"https:\/\/bahtera.jp\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/prod-child-seizougyouzaiko.gif-id.png\" width=\"597\"\/><\/p>\n<p>Dalam perhitungan biaya aktual, biaya bahan, biaya tenaga kerja, dan biaya lainnya dihitung secara batch pada akhir bulan. Biaya bahan dihitung dengan &#8220;harga satuan rata-rata bulanan x jumlah input aktual&#8221;, dan biaya tenaga kerja serta biaya lainnya dialokasikan berdasarkan saldo buku besar (G\/L) yang dikumpulkan dalam sistem akuntansi.<\/p>\n<p>Metode evaluasi stok termasuk rata-rata bulanan dan rata-rata bergerak. Jika menggunakan metode rata-rata bergerak untuk memperbarui harga satuan rata-rata terbaru secara real-time dan menentukan harga jual dengan menambahkan margin, input penerimaan harus dilakukan sesuai urutan tanggal.<\/p>\n<h2>Dua Arah Alur Kerja yang Terjadi Saat Pembelian<\/h2>\n<p>FOB (Free On Board) adalah penyerahan di atas kapal, dan bahan yang dimuat diperlakukan sebagai stok di atas kapal. Tanggal kedatangan faktur dari pemasok bahan di Jepang ke perusahaan di Indonesia dijadikan tanggal pencatatan utang (A\/P), tetapi sebagai akuntan, ada keinginan untuk memahami transaksi yang akan menjadi A\/P di masa depan selama periode antara penyerahan di atas kapal (penerimaan) dan kedatangan faktur.<\/p>\n<p>Oleh karena itu, pada saat penyerahan di atas kapal (penerimaan), disimpan dalam akun utang belum direalisasi yang disebut A\/P Accrued, dan saat kedatangan faktur, dipindahkan ke A\/P (re-class).<\/p>\n<h3>Alur di Sisi Manajemen Stok<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Jumlah stok barang meningkat<\/li>\n<li>Harga satuan barang diperbarui (dalam kasus rata-rata bergerak)<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<h3>Alur di Sisi Akuntansi<\/h3>\n<p>Jurnal saat penerimaan dan saat kedatangan faktur<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(Debet) Pembelian 10,000 (Kredit) Utang Sementara 10,000<\/li>\n<li>(Purchase) (A\/P Accrued)<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(Debet) Utang Sementara 10,000 (Kredit) Utang Dagang 10,000<\/li>\n<li>(A\/P Accrued) (A\/P)<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<h2>Metode Pengolahan Biaya Tidak Langsung<\/h2>\n<p>Jika harga satuan item pembelian hanya terdiri dari jumlah pembelian item pada pesanan pembelian (P\/O), tidak ada masalah. Namun, biasanya ada biaya tambahan seperti biaya pengiriman dan bea masuk yang termasuk dalam PIB (Pemberitahuan Impor Barang), PPh21, dan SPPB (Surat Persetujuan Pengeluaran Barang) yang muncul. Ada dua metode utama untuk menangani biaya pembelian ini.<\/p>\n<h3>Dibukukan sebagai biaya saat terjadi (jika jumlahnya kecil)<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(Debet) Biaya Pembelian 400 (Kredit) Utang Agen Bea Cukai 400<\/li>\n<li>(Expense) (A\/P Accrued)<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<h3>Dibukukan sebagai biaya penjualan saat penjualan (jika jumlahnya besar)<\/h3>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>(Debet) Pembelian 7,000 (Kredit) Utang Agen Pengirim 7,000<\/li>\n<li>(Purchasing) (A\/P Accrued)<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Membukukan ke dalam akun pembelian berarti ingin mencatat jumlah faktur dari agen pengirim Jepang ke dalam biaya stok keseluruhan pada akhir bulan. Tidak perlu melakukan pengolahan detail dengan mengalokasikan biaya tidak langsung per item pada saat pencatatan akuntansi transaksi. Tidak perlu memisahkan jurnal akuntansi per item.<\/p>\n<h2>Metode Implementasi Alokasi Biaya Tidak Langsung ke Item dalam Sistem<\/h2>\n<p>Meskipun tidak perlu mengalokasikan biaya tidak langsung ke item pada saat pencatatan akuntansi transaksi, untuk menentukan harga jual yang tepat, perlu mencerminkan biaya tidak langsung ke harga satuan item pada titik waktu tertentu.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruck\">\n<ul>\n<li>Ingin memperbarui harga satuan rata-rata bergerak dengan mencerminkan biaya CIF setiap saat.<\/li>\n<li>Ingin sistem manajemen stok secara otomatis menghitung harga satuan item yang mencerminkan biaya CIF untuk menghitung nilai evaluasi stok akhir periode.<\/li>\n<\/ul>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Karena alasan ini, jika perlu mengalokasikan biaya tidak langsung ke harga satuan item setiap kali transaksi dalam sistem manajemen stok, masalahnya adalah dari layar mana input harus dilakukan. Jumlah biaya tidak langsung tidak selalu diketahui pada saat penerbitan P\/O atau penerimaan, dan faktur dari agen pengirim dapat tiba setelah pengiriman. Oleh karena itu, sulit untuk memasukkan biaya tidak langsung pada saat penerbitan pesanan atau penerimaan dalam sistem pembelian.<\/p>\n<h3>Menambahkan bidang input biaya pembelian pada layar penerimaan (tab terpisah)<\/h3>\n<p>Masalahnya adalah setelah jurnal penerimaan diposting ke buku besar, input tidak dapat dilakukan, tetapi dalam hal ini, posting dapat ditunda atau dilakukan penyesuaian setelah posting, dan metode ini sering diterapkan dalam paket ERP komersial.<\/p>\n<h3>Menghubungkan dengan nomor P\/O atau nomor penerimaan atau nomor faktur menggunakan fungsi Direct Invoice<\/h3>\n<p>Fungsi Direct Invoice adalah fungsi yang memungkinkan pencatatan A\/P tanpa penerbitan P\/O atau penerimaan, dan dengan menghubungkannya dengan salah satu kunci yang dapat mengidentifikasi item, alokasi biaya tidak langsung ke item dapat dilakukan.<\/p>\n<h3>Memproses sebagai pembelian layanan (item non-stok=uncounted item) dan memasukkan dari modul pembelian<\/h3>\n<p>Setelah penerbitan P\/O, melakukan penerimaan, atau menggunakan fungsi Purchase Direct tanpa P\/O, membangun mekanisme untuk menghubungkan dengan P\/O item, dan dalam hal ini, biaya yang dapat dikelola dalam sistem manajemen stok hanya untuk barang yang dibeli.<\/p>\n<p class=\"field-note\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:18px 0 8px;padding:14px 16px 14px 18px;background:#fffaf3;border:1px solid #f0e0c8;border-left:5px solid #d97706;border-radius:6px;color:#3f3a32;line-height:1.75;\">Contoh: Ada kasus di mana faktur dari agen pengirim tiba beberapa waktu setelah pengiriman, sehingga biaya tidak langsung tidak dapat dimasukkan pada saat penerbitan pesanan atau penerimaan.<\/p>\n<p class=\"field-generalization\" style=\"clear:both;width:100%;box-sizing:border-box;margin:0 0 22px;padding:10px 14px 10px 16px;background:#f5f9fc;border-left:4px solid #2f80ed;border-radius:0 6px 6px 0;color:#1f2937;line-height:1.7;\">Poin: Biaya tidak langsung mungkin tidak dapat dipastikan pada saat penerbitan pesanan atau penerimaan, dan diperlukan mekanisme untuk memasukkan secara retrospektif.<\/p>\n<h2>Faktor yang Memutus Hubungan Dokumen<\/h2>\n<p>Dalam alur kerja sistem transaksi domestik di Indonesia, jika dokumen (voucher) semuanya sesuai satu lawan satu, alur yang efisien dapat diwujudkan. Secara khusus, nomor pesanan ditetapkan saat pendaftaran pesanan, dan saat pendaftaran pesanan pembelian, nomor pesanan dipilih untuk memanggil informasi pesanan, dan saat pendaftaran penerimaan, nomor pesanan dipilih untuk memanggil informasi pesanan pembelian.<\/p>\n<p>Selain itu, saat pendaftaran pengiriman, nomor penerimaan dipilih untuk memanggil informasi penerimaan, dan saat faktur, nomor pengiriman dipilih untuk memanggil informasi pengiriman. Saat pendaftaran pembayaran, nomor faktur dipilih untuk memanggil informasi faktur.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<div class=\"maruno\">\n<ol>\n<li>Nomor pesanan ditetapkan saat pendaftaran pesanan.<\/li>\n<li>Nomor pesanan dipilih saat pendaftaran pesanan pembelian untuk memanggil informasi pesanan.<\/li>\n<li>Nomor pesanan pembelian dipilih saat pendaftaran penerimaan untuk memanggil informasi pesanan pembelian.<\/li>\n<li>Nomor penerimaan dipilih saat pendaftaran pengiriman untuk memanggil informasi penerimaan.<\/li>\n<li>Nomor pengiriman dipilih saat faktur untuk memanggil informasi pengiriman.<\/li>\n<li>Nomor faktur dipilih saat pendaftaran pembayaran untuk memanggil informasi faktur.<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<\/div>\n<p>Dalam sistem di mana pencatatan penjualan dilakukan dalam manajemen pesanan atau manajemen pengiriman, pendaftaran faktur dalam akuntansi dilewati, dan saat A\/R terjadi adalah saat pencatatan penjualan. Biasanya, pesanan dan pesanan pembelian tidak terhubung, tetapi dalam industri non-manufaktur seperti perdagangan, pesanan pembelian dilakukan berdasarkan pesanan. Jika dikirim langsung dari produsen, itu menjadi drop shipping, dan penerimaan serta pengiriman dilewati.<\/p>\n<p>Saat mengembangkan sistem manajemen produksi, berikut adalah beberapa proses yang perlu diperhatikan agar hubungan dokumen tidak terputus dalam alur kerja.<\/p>\n<div class=\"graybox\">\n<ol>\n<li>Pesanan Pembelian\n<ul>\n<li>Pesanan pembelian berdasarkan perkiraan sebelum pesanan<\/li>\n<li>Alokasi dari stok tanpa pesanan pembelian<\/li>\n<li>Pesanan pembelian gabungan untuk beberapa pesanan<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Penerimaan<\/li>\n<li>Pengiriman\n<ul>\n<li>Pengiriman parsial<\/li>\n<li>Pemutusan<\/li>\n<li>Pengembalian<\/li>\n<li>Pengiriman gabungan untuk beberapa pesanan (penerimaan)<\/li>\n<li>Pengiriman sampel dari stok sebelum pesanan (penerimaan)<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li>Faktur (A\/R)\n<ul>\n<li>Faktur gabungan untuk beberapa pengiriman (bulanan)<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n<\/div>\n<h2>Pertanyaan Umum | Penerapan dan Operasional Sistem Manajemen Produksi<\/h2>\n<p>Dari definisi persyaratan hingga biaya dan biaya tidak langsung, poin yang sering dikonfirmasi di lokasi penerapan dirangkum secara singkat.<\/p>\n<h3>Apa perbedaan antara pendekatan top-down dan musyawarah?<\/h3>\n<p>Pendekatan top-down dipimpin oleh Jepang dengan prioritas pada spesifikasi standar, sedangkan musyawarah melibatkan pembentukan kesepakatan dengan staf lokal. Kepemimpinan atau hubungan modal dapat menyebabkan perlawanan selama tahap implementasi meskipun menggunakan pendekatan top-down.<\/p>\n<h3>Apa yang pertama kali diperlukan saat memulai operasional?<\/h3>\n<p>Refleksi stok dalam sistem berdasarkan inventarisasi fisik. Setelah lokasi dan jumlah ditentukan, jadwal penerbitan perintah produksi ditetapkan, dan dihubungkan dengan operasi tiket barang dan kode batang.<\/p>\n<h3>Apakah biaya pembelian harus dialokasikan per item dalam jurnal akuntansi?<\/h3>\n<p>Pada saat pencatatan akuntansi transaksi, alokasi detail per item tidak wajib. Namun, ada kebutuhan untuk mencerminkan biaya CIF ke harga satuan dalam manajemen stok untuk penentuan harga jual dan evaluasi stok, dan desain waktu input menjadi isu.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sistem manajemen produksi mencakup aktivitas dari penerimaan bahan hingga pengiriman produk. Ada dua metode penerapan di Indonesia: top-down dan musyawarah.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":102266,"parent":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[688],"tags":[],"class_list":["post-58148","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia-production-control-system"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58148","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=58148"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58148\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":102689,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/58148\/revisions\/102689"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/102266"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=58148"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=58148"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/bahtera.jp\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=58148"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}